Breaking News
Memuat breaking news...

Laga Messi dan "Anak Biologis" Lamine

Redaksi
Redaksi
Minggu, 19 Juli 2026 - 11.55 AM WIB
Laga Messi dan "Anak Biologis" Lamine
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Messi bukan lagi pusat setiap serangan; ia hakim yang muncul ketika pertandingan meminta vonis.

SEPAK BOLA kadang menulis skenario terlalu puitis untuk disebut kebetulan. Pada 2007, Lionel Messi yang berusia 20 tahun menggendong dan memandikan bayi enam bulan bernama Lamine Yamal dalam sesi amal di Camp Nou. Sembilan belas tahun kemudian, keduanya berdiri di dua sisi lapangan pada final Piala Dunia: sang maestro menghadapi “anak biologis” sepak bolanya—bukan melalui darah, melainkan melalui La Masia, kaki kiri, sayap kanan, dan keberanian mempermainkan bek.

Ada ironi lain di bangku pelatih. Lionel Scaloni pernah mengikuti kursus kepelatihan Luis de la Fuente pada 2017. Kini sang murid menantang gurunya, membawa Argentina mengejar gelar beruntun pertama sejak Brasil pada 1962.

Final di New York–New Jersey Stadium bukan semata tentang Argentina melawan Spanyol. Ini benturan antara memori dan masa depan; antara tim yang tahu cara memenangi kekacauan dan tim yang hampir tidak pernah membiarkan kekacauan terjadi.

Argentina tiba dengan tujuh kemenangan dan 19 gol. Spanyol datang membawa rekor 37 laga tanpa kalah, enam clean sheet dalam tujuh pertandingan, hanya sekali kebobolan, serta belum pernah tertinggal sedetik pun sepanjang turnamen.

Di atas papan taktik, De la Fuente memiliki mesin yang lebih rapi. Spanyol membangun serangan dengan sabar dari belakang, menempatkan Rodri sebagai poros, lalu mengalirkan bola ke ruang antarlini melalui Fabián Ruiz dan Dani Olmo. Pedro Porro membuka lebar sisi kanan agar Yamal dapat memilih: menempel garis, menusuk ke dalam, atau memancing dua pemain sebelum melepaskan bola. Pressing mereka bukan amukan, melainkan jerat. Lawan merasa bebas sampai tiba-tiba kehabisan jalan keluar.

De la Fuente sudah menegaskan tidak akan mengawal Messi seorang lawan seorang. Itu keputusan masuk akal. Menjaga Messi secara personal sering hanya memindahkan masalah: satu penjaga terseret, ruang lain terbuka. Spanyol lebih mungkin mempersempit ruang di depan kotak penalti, memutus suplai Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister, lalu memaksa Messi menerima bola jauh dari gawang.

Scaloni harus menjawab dengan sepak bola yang lebih pragmatis. Ia tidak perlu merebut penguasaan bola; ia harus merebut momen. Argentina dapat menutup jalur umpan menuju Rodri, membiarkan Spanyol berputar di belakang, lalu menyerang vertikal ketika bola direbut. Di sisi kiri pertahanan, Nicolás Tagliafico membutuhkan bantuan gelandang untuk menggandakan Yamal dan menutup jalur masuk ke kaki kirinya. Memaksanya melebar lebih aman daripada membiarkannya menembak atau mengirim umpan silang melengkung dari half-space.

Messi, pada usia 39 tahun, tidak lagi menaklukkan pertandingan dengan jumlah sprint. Ia memilih detik yang tepat untuk hidup. Delapan gol dan empat assist di turnamen ini menunjukkan bahwa kecepatannya boleh berkurang, tetapi kemampuan membaca ruang justru semakin kejam. Dua umpannya membalikkan semifinal melawan Inggris pada menit-menit terakhir. Ia bukan lagi pusat setiap serangan; ia adalah hakim yang muncul ketika pertandingan meminta vonis.

Yamal berbeda. Pada usia 19 tahun, ia bermain tanpa beban sejarah. Statistik satu gol dan tanpa assist tidak menggambarkan pengaruhnya. Pergerakan dan keberaniannya telah merusak struktur lawan, termasuk ketika ia memancing penalti melawan Prancis. Ia membawa ancaman bukan hanya melalui eksekusi, tetapi melalui ketakutan yang ditanamkan sebelum bola tiba.

Spanyol lebih unggul dalam struktur, kesegaran, dan pertahanan. Argentina lebih matang dalam penderitaan, transisi, serta duel psikologis. Final jarang dimenangi tim paling indah; ia sering jatuh kepada tim yang paling tahan terhadap kegilaan.

Karena itu, pilihan editorial ini jatuh kepada Argentina—tipis, mungkin 2-1 setelah perpanjangan waktu. Spanyol dapat menguasai bola. Yamal dapat menguasai masa depan. Tetapi untuk satu malam terakhir, Messi masih mungkin "menguasai" takdir.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement