Breaking News
Memuat breaking news...

Langkah Biodiversity PTAR Pascabencana Batangtoru

Redaksi
Redaksi
Minggu, 16 Agustus 2026 - 1.02 PM WIB
Langkah Biodiversity PTAR Pascabencana Batangtoru
Narasumber Smartabe Connect bersama puluhan wartawan usai berdiskusi Biodiversity yang dilakukan PTAR di Tambang Emas Martabe. (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang dikelola oleh PT Agincourt Resources (PTAR), diakui secara luas sebagai tambang emas terbesar kedua di Indonesia setelah kompleks Grasberg milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua.

Syaiful Anwar, Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT Agincourt Resources, mengatakan bahwa PTAR lebih meningkatkan upaya perlindungan dan perawatan keanekaragaman hayati pascabencana November 2025 dan pasca diterbitkan nya lagi Izin Usaha Pertambangan (IUP) PTAR di Tambang Emas Martabe.

Upaya itu antara lain meningkatkan keanekaragaman hayati (Biodiversity) lewat Stasiun Riset Batangtoru, dan pemasangan jembatan aboreal, kamera jebak (trap), drone, patroli rutin dan berkelanjutan di areal konservasi Tambang Emas Martabe.

Areal yang rusak akibat bencana direhabilitasi dan flora fauna dimitigasi pertumbuhan nya. Stasiun Riset Batangtoru melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, dan LSM (NGO). Terdapat temuan delapan jenis hewan dan tumbuhan yang menurut riset endemik Hutan Batangtoru. Antara lain Orangutan Tapanuli, Burung Rangkong, dan Bunga Bangkai.

Dr. Suci Utami, Ilmuwan sekaligus ahli primata dari Universitas Nasional (UNAS) dan juga pimpinan Stasiun Riset Batangtoru, menyebutkan bahwa jumlah Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru berkisar 800 individu.

Pascabenca November 2005 yang lalu diperkirakan merusak lingkungan dan mengurangi jumlah Orangutan Tapanuli di Blok Barat ekosistem Batangtoru yang diperkirakan luas bentang nya 250 hektare mulai dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Berbagai kegiatan yang konsisten dan berkelanjutan di Stasiun Riset Batangtoru melibatkan para ilmuwan berbagai perguruan tinggi. Seperti dari Universirtas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM-Tapsel), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Indonesia (UI), Universitas Nasional (UNAS), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Stasiun Riset Batangtoru berada di 180 meter di atas permukaan laut (MDPL). Stasiun ini mulai beroperasi sejak Januari 2026 berfungsi untuk pemantauan Orangutan Tapanuli di Ekosistem Batangtoru yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan.

Sedangkan Parman Sitanggang, mantan pemburu hewan di Hutan Batangtoru, menyatakan saat ini sudah berhenti melakukan perburuan dan sudah bekerja di Stasiun Riset Batangtoru. Sekaligus menceritakan pengalaman nya saat melakukan perburuan. "Saya sekarang ini menyadari tidak baiknya melakukan perburuan. Sebab saya sudah menyadari keberadaan hewan yang saya buru sangat besar kegunaan nya bagi rantai kehidupan," katanya dalam dialog Smartabe Connec bersama para insanpers di Padangsidimpuan.

Di tempat terpisah, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menyatakan sangat mendorong sinergitas upaya perlindungan keanekaragaman hayati (Biodiversity) di ekosistem Batangtoru yang melibatkan para ilmuwan dari berbagai universitas.

"Saya berharap ada sebuah rekomendasi yang dihasilkan para ilmuwan dalam Riset di Hutan Batangtoru atau Harangan Tapanuli yang sebagian nya masuk dalam wilayah Tapsel. Sehingga bisa kami jadikan acuan pembangunan dan konservasi kedepan," ujarnya.(Id45)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement