Breaking News
Memuat breaking news...

Lewat Novel “Ratapan di Ujung Jalan”, Eykel Tarigan Ajak Pembaca Melihat Sisi Lain Yudas Iskariot

Redaksi
Redaksi
Minggu, 30 Agustus 2026 - 12.02 AM WIB
Lewat Novel “Ratapan di Ujung Jalan”, Eykel Tarigan Ajak Pembaca Melihat Sisi Lain Yudas Iskariot
Penulis muda Eykel Tarigan (baju hitam) bersama para peserta dan tamu undangan usai peluncuran novel Ratapan di Ujung Jalan di Balige Space Art, Sabtu (29/8/2026). Waspada.id/Ramsiana Gultom
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TOBA (Waspada.id): Penulis muda Eykel Tarigan meluncurkan buku berjudul Ratapan di Ujung Jalan, sebuah novel sastra yang mengangkat kisah Yudas Iskariot, salah satu dari 12 murid Yesus.

Peluncuran buku sekaligus diskusi buku tersebut berlangsung di Toba Art Space Balige, Sabtu (29/8/2026).

Buku ini menawarkan perspektif berbeda dalam melihat sosok Yudas yang selama ini lekat dengan label sebagai pengkhianat Yesus.

Eykel Tarigan, mahasiswa semester VII di STT Abdi Sabda Medan, mengatakan, ketertarikannya mengangkat Yudas Iskariot berangkat dari minimnya kisah mengenai sosok tersebut jika dibandingkan dengan sejumlah murid Yesus lainnya.

“Dari antara 12 murid Yesus, Yudas sebenarnya memiliki porsi yang cukup kecil. Yang menarik, suara yang diberikan kepadanya bukan tentang kesetiaan atau keberanian seperti Petrus, maupun tentang bagaimana Yohanes mengasihi Yesus, tetapi lebih berfokus kepada pengkhianatan,” ujar Eykel.

Menurutnya, label “pengkhianat” yang melekat begitu kuat pada Yudas membuat sisi kehidupan dan pergulatan batinnya jarang dibicarakan secara lebih mendalam.

Melalui buku tersebut, Eykel mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran dan hati Yudas hingga akhirnya mengambil keputusan untuk mengkhianati Yesus.

“Yang ingin saya lihat adalah apa sebenarnya yang ada dalam hati Yudas dan apa yang membuat dia mengambil keputusan untuk mengkhianati Yesus,” katanya.

Eykel menjelaskan, proses penulisan Ratapan di Ujung Jalan membutuhkan waktu hampir satu tahun. Sekitar enam bulan pertama digunakan untuk mengumpulkan ide, melakukan riset dan menyusun draf. Sementara proses penulisan secara penuh juga berlangsung sekitar enam bulan.

Salah satu tantangan terbesar, menurut Eykel, adalah menyatukan narasi dari empat Injil, yakni Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sehingga dapat menjadi sebuah cerita yang utuh.

“Keempat Injil itu saling melengkapi. Kesulitannya bagaimana supaya keempat Injil itu bukan bertentangan atau bertabrakan, tetapi bisa menjadi satu kesatuan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa novel tersebut tidak dimaksudkan untuk membela ataupun membenarkan tindakan pengkhianatan Yudas.

“Tujuannya bukan untuk membela Yudas, bukan membenarkan bahwa pengkhianatan seperti ini diperbolehkan. Tetapi hanya ingin melihat apa sebenarnya yang ada dalam hati Yudas,” katanya.

Sejumlah akademisi dan pendeta yang memberikan tanggapan terhadap buku tersebut menilai Ratapan di Ujung Jalan menawarkan pendekatan yang menarik dalam memahami tokoh Yudas Iskariot.

Pdt. Jimmy Marshal Tambunan, MTh, selaku Dosen Ilmu Agama dan Sejarah di Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti, yang hadir sebagai salah satu pembahas, menilai buku karya Eykel tersebut merupakan cara baru untuk mendalami Alkitab, khususnya kehidupan Yudas.

Selama ini, kata dia, umat Kristen lebih banyak diperkenalkan kepada Yudas sebagai sosok pengkhianat. Namun, melalui novel tersebut, Eykel mencoba menghadirkan perspektif yang lebih luas.

“Bukan untuk membela Yudas, tetapi dia membedah kehidupan Yudas. Dia memulai sejak awal perjalanan Yudas yang tercatat dalam Alkitab,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu hal menarik yang ditawarkan buku tersebut adalah penggambaran Yudas sebagai sosok yang memiliki idealisme.

Ia menilai buku itu juga layak menjadi salah satu referensi bagi mahasiswa maupun akademisi yang ingin mendalami kehidupan Yudas Iskariot dari perspektif sastra.

Pembahas lainnya, Dian Purba selaku sejarawan dan dosen di IAKN Tarutung, mengapresiasi keberanian Eykel dalam mengangkat tokoh Yudas tersebut.

Menurut Dian, buku Ratapan di Ujung Jalan karya Eykel Tarigan merupakan sebuah karya sastra yang sangat memikat dan menyentuh batin.

Penulis muda Eykel Tarigan memperlihatkan novel Ratapan di Ujung Jalan yang mengangkat kisah dan pergulatan batin Yudas Iskariot. Waspada.id/Ramsiana Gultom

Ditulis dengan gaya monolog puitis berformat mazmur yang anggun, Eykel secara luar biasa berhasil menyelami kedalaman jiwa Yudas Iskariot sebagai manusia yang bergulat di persimpangan iman, ketakutan, dan cita-cita.

“Tanpa terkesan menggurui atau menghakimi, buku ini menghadirkan perenungan teologis yang begitu intim, indah, dan pekat akan nuansa emosional. Fokus utama keunggulan buku ini terletak pada keberhasilannya membedah latar belakang psikologis dan sosio-historis Yudas secara sangat tajam. Yudas digambarkan sebagai pemuda asal Keriot yang tumbuh di tengah pahitnya realitas penjajahan Kekaisaran Roma atas tanah Israel. Penderitaan rakyat yang tercekik oleh penindasan, pemerasan pajak, dan penyaliban brutal oleh prajurit Romawi menanamkan trauma mendalam sekaligus api amarah dalam diri Yudas,” imbuh Dian.

Latar belakang kelam inilah yang membakar kerinduan besar Yudas akan sosok Mesias pejuang—seorang pemimpin militer dan politik yang sanggup menghancurkan dominasi Roma serta membebaskan bangsanya dengan kekuatan senjata.

Menurut Dian, akar pengkhianatan Yudas pun lahir dari benturan keras antara ekspektasi politiknya atas kemerdekaan Israel dari Roma dengan realitas ajaran Yesus. Ketika Yesus terus-menerus memilih jalan kelembutan, pengampunan, dan pengorbanan ketimbang mengobarkan perlawanan terhadap serdadu Romawi, Yudas merasa harapan akan pembebasan tanah airnya semakin sirna.

“Keputusasaan di bawah cengkeraman penjajah ini mendorong Yudas mengambil langkah nekat: ia menyerahkan Yesus bukan atas dasar kebencian murni, melainkan dengan kalkulasi nekat untuk ‘memaksa’ Yesus memperlihatkan kuasa ilahi-Nya, memicu perlawanan rakyat, dan meruntuhkan kekuasaan Roma yang menindas,” terangnya.

“Keberanian Eykel Tarigan menjadikan sastra sebagai ruang aman untuk memahami kompleksitas kemanusiaan Yudas patut diapresiasi secara tinggi.

Pendekatan humanistik yang reflektif ini dinilai Dian berhasil menyentuh empati pembaca tanpa sedikit pun mengabaikan bobot tragedinya.

"Pada akhirnya, karya yang mengagumkan ini menjadi cermin spiritual yang sangat berharga, menggugah kita untuk memikirkan ulang batas-batas kesetiaan, ketakutan, dan kasih dalam perjalanan hidup manusia,” pungkas Dian.

Sementara itu, mewakili penerbit sekaligus editor, Ita Siregar menilai pendekatan sastra memberikan ruang lebih luas untuk menggambarkan tokoh dan peristiwa yang dalam teks Alkitab tidak selalu dijelaskan secara panjang.

Menurutnya, Ratapan di Ujung Jalan merupakan novel sastra dengan konten Alkitab yang berusaha memberikan latar dan sisi kemanusiaan kepada sosok Yudas.

“Melalui sastra, Eykel bisa memberi latar dan cerita kepada Yudas sehingga kita bisa memahami sisi kemanusiaannya dan menjelaskan peristiwanya,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keberanian Eykel mengangkat tokoh yang selama ini identik dengan label antagonis dan pengkhianat.

Menurutnya, novel tersebut menggunakan bahasa yang tenang dan pilihan kata yang baik, sehingga pembaca dapat mengikuti suasana batin dan psikologis Yudas ketika menjalani kehidupannya bersama Yesus dan murid-murid lainnya.

Buku Ratapan di Ujung Jalan diterbitkan oleh Penerbit Lingkup. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan buku tersebut, pembelian dapat dilakukan melalui Instagram Penerbit Lingkup. Khusus di Balige, buku tersebut juga tersedia di toko buku yang berada di Mutiara Hotel dan Toba Art Space. Buku tersebut dibanderol dengan harga Rp65.000.

Melalui karya perdananya ini, Eykel berharap pembaca tidak hanya melihat Yudas dari satu sisi, tetapi juga dapat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup dan keputusan yang diambilnya.

Kisah Yudas, menurutnya, dapat menjadi bahan refleksi mengenai pilihan, pergulatan batin, serta konsekuensi dari setiap keputusan manusia.

Turut hadir puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti sebagai peserta diskusi. (Id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement