Limapuluh, Ibu Kota Batubara yang Dilupakan


Sejak Kab. Batubara mekar dari Kab. Asahan melalui UU no 5 tahun 2007 yang disahkan pada tanggal 15 Juni 2007 dan diresmikan pada 8 Desember 2008 , telah ditetapkan ibu kota Kab. Batubara adalah Limapuluh.
Pada masa itu Kota Lima puluh tidak multi tafsir seperti sekarang, yang mana saat ini ada Kelurahan Limapuluh di Kec. Limapuluh, ada Kec. Limapuluh Pesisir, ada Kec. Datuk Limapuluh, dua kecamatan terakhir adalah pemekaran dari Kecamatan Limapuluh.
Artinya pada saat itu ketika disebut Limapuluh semua orang langsung memahami, daerah itu adalah kawasan di sekitaran Simpang Empat Kota Limapuluh.
Daerah ini sebagai ibu kota dalam landscape perkotaan tidak terlalu luas, hanya berkisar satu kilometer kearah Kisaran, Satu Kilometer kearah Simpang Dolok, satu kilometer ke arah Indrapura dan Satu Kilometer kearah Perdagangan.
Tok, hanya itu, karena pemukiman perkotaan berbatasan langsung dengan perkebunan, yang membuatnya menjadi kontras sebagai batas wilayah.

Sudah ada tiga Bupati Batubara defenitif yang memerintah di daerah pemekaran ini. Dengan segala konsep pembangunan disaat penyampaian visi misi, hingga hari ini Ibu kota ini seperti memang dilupakan.
Masih untung Bupati Zahir membangun Kantor Bupati berwarna merah, mirip mirip swalayan yang ujungnya Mart-Mart itu dipinggir Jalan Lintas , sehingga nampaklah ada pembangunan di Batubara tanah para Datuk ini.
Namun disisi lain tidak terlihat bahwa Kota Limapuluh adalah episentrum dari Batubara. Taman kota yang berada dipinggir jalan dari atau menuju Perdagangan itu kini kusam, tak tersentuh perhatian pemerintah.
Rumah Dinas Ketua DPRD Batubara yang berada dibawah komplek perumahan menuju kearah Kisaran itu suram tak berpenghuni sejak didirikan belasan tahun yang lalu, bahkan menurut warga setempat sudah jadi sarang hantu.
Jalan - jalan didalam pemukiman juga tidak tersentuh perawatan, berlubang dan menjadi kubangan saat hujan turun.
Tidak aneh jika kita berkunjung ke kota kota , selalu melihat adanya tugu untuk selfie sebagai ikon daerah, anda pasti kecewa, tidak ada tugu di ibu kota kabupaten ini.
Alun alun atau pusat perbelanjaan, juga menyedihkan, pasar pagi yang menjadi tempat pertemuan pembeli dan pedagang sebagai indikator perekonomian di ibu kota ini, sepertinya masih peninggalan kabupaten Asahan.
Datang ke Lima Puluh rasanya sama saja seperti datang ke kecamatan lain di Batubara, tidak ada bedanya.
Padahal Limapuluh ini adalah kota penyangga dari Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK) Sei Mangke, namun pemerintah daerah seperti tidak melihat peluang ini untuk meningkatkan kemajuan kota Limapuluh, apakah itu sebagai pusat perdagangan, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, yang mana KEK Sei Mangkei diproyeksikan akan menampung sekitar 30.000 tenaga kerja pada tahun 2030 mendatang.
Kemana para pekerja itu akan mencari kebutuhan sehari-harinya. Saat ini saja sudah ada ratusan bahkan mungkin ribuan pekerja KEK Sei Mangkei yang ngekos di seputaran Desa Mangkei Lama, Mangkei Baru, Sumber Makmur, sebagai desa yang berada di wilayah Kec. Limapuluh. Namun perekonomian di Limapuluh masih jalan di tempat.

Jalan-jalan di pemukiman yang rusak sudah lama tak tersentuh perawatan.
Ada dalih klasik yang membuat kondisi Limapuluh seperti ini, yakni "Anggaran terbatas".
Padahal APBD jalan terus tiap tahun, pertanyaannya wajah Limapuluh kok begini begini saja?
Warga tidak butuh Limapuluh jadi Jakarta, warga cuma butuh bukti bahwa ini memang ibu kota. Ada taman, ada trotoar layak jalan, ada pusat kegiatan dan itu akan menumbuhkan kebanggaan kedaerahan.
Peresmian Kantor Bupati 2023 bisa jadi titik balik. Tapi kalau setelah ini tidak ada lanjutan: penataan kota, pembangunan ruang publik, penegasan identitas. Maka Lima Puluh akan tetap jadi "ibu kota yang menyamar jadi kecamatan".
18 Tahun cukup sudah alasan, Batubara butuh ibu kota, bukan cuma nama di atas kertas dan meninggalkan pertanyaan:
"Limapuluh, kapan mau serius jadi Ibu kota?"
Agusdiansyah Hasibuan












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda