Lomba Hari Santri 2026 Dibuka, Asri Ludin Tambunan: Dorong Santri Berkiprah di Berbagai Bidang


BERINGIN (Waspada.id): Bupati Deliserdang, dr. Asri Ludin Tambunan, membuka rangkaian perlombaan Musabaqoh Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) At-Tibyan, Desa Sidodadi, Kecamatan Beringin, Rabu (14/10/26).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk mendorong santri agar tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berprestasi dan berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Bupati Asri Ludin Tambunan menegaskan, perlombaan antar santri tidak semata-mata bertujuan memperebutkan gelar juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi wadah untuk menunjukkan keunggulan setiap pesantren, sekaligus membangun karakter, kepercayaan diri, dan mental kompetitif para santri.
“Jadikan rangkaian ini bukan hanya sekadar kompetisi antar pribadi. Jadikan rangkaian ini sebagai salah satu ajang untuk menunjukkan keunggulan masing-masing pesantren yang ada di Kabupaten Deliserdang,” kata Asri Ludin Tambunan.

Bupati juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan pesantren agar mampu menjawab harapan orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka. Menurutnya, lulusan pesantren harus memiliki kesempatan yang luas untuk berkontribusi, baik di bidang keagamaan maupun pemerintahan, pendidikan, dan sektor profesi lainnya.
Ia mencontohkan, sejumlah alumni pesantren yang berhasil menduduki posisi strategis di pemerintahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren memiliki potensi besar dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing.
“Saya berharap santri-santriwati yang ada di Deliserdang ke depannya akan banyak mengisi sekolah-sekolah konvensional, bahkan sekolah-sekolah kedinasan yang ada di Republik Indonesia,” tutur Asri Ludin.
Asri Ludin menambahkan, Pemkab Deliserdang telah memiliki peraturan daerah tentang pesantren sebagai landasan untuk memperkuat keberadaan dan pengembangan pendidikan pesantren. Tapi menurutnya, implementasi kebijakan tersebut perlu terus dioptimalkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh lembaga pendidikan pesantren dan para santri.
Asri Ludin juga menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui kerja sama seluruh unsur di lingkungan pesantren. Kedisiplinan, daya juang, kemandirian, dan kemampuan berkompetisi secara sehat perlu ditanamkan melalui proses pendidikan maupun kegiatan di luar pembelajaran formal.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), para santri juga dituntut mampu berpikir kritis, mandiri, dan terus mengembangkan pengetahuan.
“Kompetisi itu tidak hanya sekadar mencari juara. Yang paling penting adalah membangun karakter dan mental anak-anak,” tegasnya.
Pembina Ponpes At-Tibyan Deliserdang, H. Muslim Maslan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan untuk mengenang sejarah, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan para pendahulu dalam mendidik generasi bangsa melalui pesantren.
Dikatakannya, semangat tersebut harus menjadi dorongan bagi seluruh pengelola pesantren untuk terus berinovasi mengembangkan lembaga pendidikan, serta menyesuaikan diri dengan tantangan zaman.
Ia menambahkan, santri memiliki peranan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Bahkan, alumni pesantren telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari legislatif dan eksekutif hingga menjadi pendidik, ulama, serta tokoh masyarakat.
“Santri memiliki potensi besar sebagai agent of change atau agen perubahan di tengah umat. Mereka tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Meski demikian, Muslim Maslan mengingatkan adanya tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama, salah satunya kekhawatiran mengenai menurunnya minat sebagian masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren.
Sementara itu, Ketua Panitia, Ustaz Faisal Abdullah, dalam laporannya menyampaikan bahwa Ponpes At-Tibyan yang berdiri sejak 2020 kini memiliki 536 santri dan santriwati. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan saat awal berdiri, ketika pesantren itu hanya memiliki 37 santri.
Faisal juga menyampaikan bahwa para santri At-Tibyan telah menorehkan sejumlah prestasi. Salah satunya adalah keberhasilan meraih posisi delapan besar tingkat Asia Tenggara dalam perlombaan debat bahasa Arab di Singapura pada akhir 2025.
Dari sisi sarana dan prasarana, pihak pesantren terus melakukan pengembangan fasilitas pendidikan, termasuk asrama dan ruang kelas. Namun, masih diperlukan pembangunan unit kesehatan khusus untuk menunjang pelayanan kesehatan bagi para santri.
Dijelaskan Faisal, rangkaian HSN 2026 Kabupaten Deliserdang melibatkan peserta dari sekitar 73 pondok pesantren, dengan jumlah peserta seluruh perlombaan diperkirakan mencapai 1.025 santri dan santriwati.
Berbagai perlombaan digelar meliputi Musabaqah Qiraatul Kutub, pidato bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, debat bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta tahfiz Al-Qur’an kategori 5 juz, 10 juz, dan 15 juz.
Selain itu, panitia menggelar lomba kaligrafi kontemporer, hadrah, dan Ya Lal Wathan. Berbagai cabang perlombaan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan kemampuan akademik, keagamaan, bahasa, seni, dan kreativitas.
Panitia juga menghadirkan At-Tibyan Expo yang diisi dengan bazar pendidikan, kegiatan sosial, media, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Rangkaian kegiatan lainnya meliputi talk show ilmiah, kajian ilmiah, serta aksi donor darah yang bekerja sama dengan rumah sakit daerah setempat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs.Zainal Abidin Hutagalung , Kadis Disbudporapar Yudy Hilmawan, Plt Kabag KesraGento Herlambang, Camat Beringin M.Dhani Mulyawan, para Tuan Guru. Hadir juga Syekh Ali Sulaiman Al-Farizi dan Syekh Khalif Rasyid Al-Qoibah dari Arab Saudi. (id.28/syahril)
Berita Terkait




















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda