Breaking News
Memuat breaking news...

LTTMF 6.0: Musik Tradisional Jadi Kekuatan Baru Pariwisata Danau Toba

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 5 September 2026 - 9.28 PM WIB
LTTMF 6.0: Musik Tradisional Jadi Kekuatan Baru Pariwisata Danau Toba
Penampilan musisi Vicky Sianipar turut memeriahkan Festival Musik Tradisional di panggung utama, Toba, Sumatera Utara. Waspada.id/Ramsiana Gultom
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TOBA (Waspada.id): Danau Toba tidak hanya memiliki panorama alam yang memikat. Kekayaan musik dan budaya tradisional juga terus didorong menjadi kekuatan baru dalam mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan tersebut.

Hal itu tergambar dalam pelaksanaan Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 yang diselenggarakan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) bersama para pelaku seni dan budaya, di Kaldera Toba Nimo Kaldera Toba Sibisa, Sabtu (5/9/2026).

Festival ini mempertemukan seniman, maestro musik tradisional, generasi muda, komunitas, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan Sumatera Utara.

Tidak hanya menghadirkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia, LTTMF 6.0 juga memperluas ruang pertukaran budaya dengan menghadirkan grup musik dari luar negeri.

Sejumlah grup dan musisi yang tampil dalam LTTMF 6.0 antara lain Kaganga dari Bengkulu, Tanjack Kultur dari Sumatera Selatan, Tengku Zaqierra dari Sumatera Utara, Nadi Singapura dari Singapura, Sako Serikat dari Lampung, AldoLings dari Sumatera Utara serta Tangke Group dari Aceh.

Keberagaman penampil tersebut memperlihatkan bagaimana musik tradisional dapat menjadi ruang perjumpaan antardaerah bahkan antarnegara. Masing-masing membawa karakter, warna dan kekayaan musikal daerahnya untuk dipertemukan dalam satu panggung di kawasan Danau Toba.

Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI, I Made Dharma Suteja, mengatakan pemerintah pusat mendukung penuh kegiatan yang memberikan ruang bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan.

Menurutnya, LTTMF 6.0 bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, tetapi menjadi pernyataan komitmen bersama untuk menjaga kekayaan budaya yang dimiliki Sumatera Utara.

“Festival ini bukan hanya sebuah perayaan, namun juga pernyataan komitmen untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya serta sumber daya alam yang ada di Sumatera Utara,” katanya.

Ia menilai keberlangsungan budaya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, akademisi, masyarakat adat dan masyarakat luas.

Karena itu, ia berharap festival tersebut tidak hanya menghasilkan pertunjukan, tetapi juga melahirkan gagasan, masukan dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan pemerintah dalam menentukan kebijakan di bidang kebudayaan.

“Kehadiran para seniman, para maestro dan generasi muda membuktikan bahwa musik tradisional tidak akan pernah pudar. Musik tradisional akan terus berkembang dan menginspirasi,” ujarnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam rangkaian LTTMF 6.0 adalah keterlibatan generasi muda melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).

Program kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata melalui BPODT tersebut dilaksanakan sepanjang Juli hingga Agustus 2026 di enam sekolah di kawasan Danau Toba.

Melalui pendampingan seniman, para siswa diajak tidak hanya mengenal seni, tetapi juga menciptakan karya, bekerja sama, menghargai proses dan memahami akar budaya daerahnya.

Plt Direktur Utama BPODT Arditama Nusantara Putra mengatakan proses tersebut penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenalkan warisan masa lalu.

Generasi muda, katanya, harus diberi kesempatan untuk memahami, menafsirkan dan mengembangkan budaya melalui kreativitas mereka sendiri.

“Ketika generasi muda diberi kesempatan untuk mengenal budayanya dengan cara yang dekat dan relevan, mereka akan menemukan alasan untuk mencintai, merawat dan membawanya lebih jauh,” katanya.

Menurut Arditama, pementasan karya GSMS merupakan bukti bahwa seni dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk membangun kreativitas sekaligus kepercayaan diri.

“Di balik setiap gerak, bunyi dan karya, ada proses belajar, keberanian untuk tampil serta perjumpaan antara seniman, guru dan anak-anak muda,” ujarnya.

Pembukaan Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 ditandai dengan pemukulan gondang. Waspada.id/Ramsiana Gultom

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara Yuda Pratiwi Setiawan mengatakan kegiatan seperti LTTMF 6.0 perlu terus dikembangkan karena kebudayaan merupakan salah satu kekuatan pariwisata Sumatera Utara.

Ia menyebut Pemprov Sumut juga akan menggelar Festival Kebudayaan Sumatera Utara pada 23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperluas kolaborasi dan menampilkan karya-karya seni yang berkembang di berbagai daerah.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjangkau semakin banyak sekolah serta komunitas,” katanya.

Ia menilai kecintaan terhadap budaya yang ditanamkan sejak dini akan membuat warisan budaya tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Ketika anak-anak mencintai budayanya sejak dini, maka warisan budaya akan tetap hidup, berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, Danau Toba ke depan tidak cukup hanya dikenal karena keindahan alamnya. Kawasan superprioritas pariwisata tersebut juga harus dikenal karena kekuatan budaya, kreativitas masyarakat dan kiprah generasi muda dalam melahirkan karya.

“Jadikan Danau Toba bukan hanya dikenal karena panorama alamnya yang luar biasa, tetapi juga karena kekuatan budaya, kreativitas masyarakatnya dan semangat generasi mudanya yang terus berkarya,” katanya.

Pelaksanaan LTTMF 6.0 pun diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat lokal.

Dengan hadirnya penampil dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Aceh hingga Singapura, festival ini sekaligus menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi musik dan budaya.

Musik tradisional pun tidak sekadar dipertahankan sebagai warisan, tetapi terus dimainkan, dikembangkan dan diperkenalkan kepada generasi baru serta wisatawan yang datang ke kawasan Danau Toba. (Id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement