Memaknai Padungku: Ketika Rasa Syukur Poso Menemukan Saudara Kembarnya Lewat "Kerja Tahun Merdang Merdem" di Tanah Karo

Oleh: Yos A. Tarigan
Beberapa bulan lalu, saat awal-awal saya bertugas di Poso sebagai KAJARI, beberapa pegawai di kantor dan jaksa yang sudah lama bertugas bercerita santai ke saya. Mereka menceritakan bahwa nanti kalau sudah masuk bulan September, suasananya bakal ramai karena ada pesta panen tahunan masyarakat setempat. Waktu itu saya hanya mendengarkan sebagai informasi awal saja, tanpa ada persiapan khusus atau pemberitahuan formal menjelang harinya.
Sampai akhirnya pada Kamis, 10 September 2026 kemarin, saya dibuat kaget saat sedang berkendara. Di sepanjang pinggir jalan kota Poso, tiba-tiba muncul pemandangan yang tidak biasa. Banyak lapak dadakan yang ramai menjajakan potongan bambu untuk lemang, janur ketupat, dan berbagai keperluan lainnya. Rasa penasaran saya terjawab lunas keesokan harinya, Jumat, 11 September 2026. Pagi-pagi sekali saat memantau wilayah, suasana kota mendadak berubah total. Jalanan begitu hidup dan sangat ramai oleh mobilitas warga.
Melihat keramaian yang mendadak itu, saya mulai bertanya-tanya dan memutuskan untuk singgah berkunjung ke beberapa rumah warga yang saya kenal. Kunjungan spontan yang justru disambut dengan kehangatan dan sukacita yang luar biasa. Di meja-meja di ruang tamu rumahnya, suasana langsung terasa cair dan akrab. Karena saya memang senang berdialog dan mendengarkan cerita, momen itu menjadi ruang yang sangat hidup bagi kami untuk saling bertukar kisah tentang latar belakang budaya kami masing-masing.
Dari obrolan santai di ruang tamu itu, sang pemilik rumah bercerita langsung kepada saya tentang apa sebenarnya yang sedang mereka rayakan. "Ini Padungku, Pak," ujarnya dengan binar mata yang penuh rasa syukur. Penuturan warga itulah bukan lembaran buku teori yang membuat saya baru paham bahwa Padungku pada hakikatnya adalah puncak dari momen panen raya. Secara bahasa sehari-hari mereka, kata Padungku atau Mpadungku dalam bahasa Pamona itu berarti "menuntaskan" atau "menyelesaikan". Artinya, seluruh kerja keras, keringat, dan lelah para petani di ladang atau sawah sudah selesai dituntaskan dengan baik, dan kini saatnya membawa pulang hasil bumi dengan selamat untuk disyukuri bersama-sama.
Mereka bercerita bahwa dahulu kala ritual syukur ini dirayakan langsung di atas tanah persawahan segera setelah padi selesai dituai. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini menjelma menjadi pesta rakyat yang luar biasa inklusif. Pintu rumah dibuka lebar tanpa kunci untuk siapa saja. Makanan terbaik sudah siap saji dan dihidangkan di atas meja, semua orang saling berkunjung, dan setiap tamu yang datang akan dihadiahi buah tangan berupa lemang tradisional khas Poso yang dimasak di dalam bambu, yang mereka sebut Inuyu.
Selain itu, mata saya juga tertuju pada kue-kue berselimut daun pisang berbentuk kerucut lancip yang bernama kue Paso. Warga menjelaskan bahwa penganan ini berbahan dasar tepung beras, santan murni, dan sedikit sagu yang dikukus dengan isian gula aren cair di dalamnya. Lidah saya seketika bernostalgia dan membandingkannya dengan cimpa, kue sakral yang wajib ada di Tanah Karo saat perayaan Kerja Tahun. Persamaan keduanya begitu memikat jiwa agraris kita. Meskipun cimpa menggunakan tepung ketan sehingga bertekstur lebih kenyal dan padat sedangkan kue Paso bertekstur sangat halus dan lumer, keduanya disatukan oleh formula rasa leluhur nusantara yang sama: gurihnya santan pada bagian kulit dan manis legitnya gula aren asli sebagai isian. Jika di Karo kehangatan itu dibalut datar dalam helai daun singkut atau daun pisang, di Poso ia digulung mengerucut menyerupai corong. Namun di balik perbedaan rupa itu, keduanya memegang peran spiritual yang identik, yaitu sebagai hidangan pembuka wajib yang melambangkan manisnya tali persaudaraan dan kemurahan hati tuan rumah dalam menyambut tamu.
Menariknya, saya juga mendapat cerita dari warga bahwa sejak pagi-pagi sekali di tanggal 11 September itu, ungkapan syukur Padungku ini juga dibawa ke dalam rumah ibadah. Warga berbondong-bondong datang ke gereja membawa hasil bumi, hasil panen, serta berbagai makanan buatan mereka. Di dalam gereja, hasil-hasil bumi tersebut kemudian dilelang secara terbuka, di mana dana yang terkumpul digunakan untuk pelayanan jemaat dan kemanusiaan.
Mendengar penuturan tentang tradisi lelang syukur di gereja-gereja Poso ini, ingatan saya seketika bergetar dan melayang jauh menuju kampung halaman di Tanah Karo, Sumatra Utara. Di sana, membentang dari Dataran Tinggi Karo, Karo Langkat, hingga ke Deli Serdang, kami juga memiliki pesta tahunan serupa bernama Kerja Tahun atau Merdang Merdem. Dan persis sama seperti di Poso, esensi pengucapan syukur agraris di Tanah Karo juga berlanjut ke dalam bilik-bilah rumah ibadah melalui tradisi lelang gereja di lingkungan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).
Kemiripan spiritual dan kultural ini begitu presisi. Di kedua daerah, baik dalam Kerja Tahun Karo maupun Padungku Poso, hidangan olahan makanan terbaik serta buah-buahan segar sudah siap tersaji di setiap meja untuk menyambut siapa saja yang bertamu. Puncaknya, di Poso keakraban itu dirajut secara melingkar lewat ketukan langkah tangan yang saling bertautan dalam Tari Dero (Modero), sedangkan di Karo ego individu dilebur lewat kebersamaan menari bersama seluruh warga desa di bawah atap Jambur (aula adat).
Secara antropologis dan benang merah sejarah nusantara, kesamaan yang mendalam ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan sebuah garis lurus yang nyata. Kedua etnis ini secara historis sama-sama berakar dari gelombang migrasi leluhur Proto-Melayu (Melayu Tua) ribuan tahun silam yang memilih menetap di wilayah dataran tinggi. Sebagai sesama peradaban masyarakat dataran tinggi yang tumbuh dalam kultur agraris, alam secara alami menempa watak, struktur sosial, hingga cara mereka menginternalisasikan rasa syukur teologis menjadi sewarna.
Melalui perjalanan keliling kota dan dialog budaya spontan di hari Padungku ini, saya menyadari satu hal fundamental. Jarak geografis ribuan mil dan perbedaan nama tradisi boleh saja memisahkan kita secara peta. Namun nilai gotong royong, toleransi, dan kedamaian selalu memiliki rumah dan bahasa yang sama di bumi nusantara. Hari itu di Poso, saya sama sekali tidak merasa sedang berada di tanah rantau yang asing. Lewat kehangatan perayaan Padungku, saya merasa seolah sedang pulang ke rumah sendiri. Di atas tanah Poso yang penuh berkah ini, mari kita terus merawat keakuran dan keakraban budaya ini dalam bingkai luhur Sintuwu Maroso. WASPADA.id
Penulis adalah Kepala Kejaksaan Negeri Poso












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda