Memperingati HUT RI dan Perdamaian Aceh di Rumah Pahlawan Nasional Cut MeutiaMemperingati HUT RI dan Perdamaian Aceh di Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia

MATANGKULI (Waspada.id): Jajaran KPA Wilayah Pase bersama masyarakat memperingati HUT RI ke 81 dan Perdamaian Aceh ke 21 dengan menggelar zikir bersama, serta menyerahkan santunan kepada anak yatim di situs sejarah rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia, Sabtu (15/8).
Koordinator Kegiatan Razali Samidan kepada Waspada.id menjelaskan, mantan kombatan GAM bersama masyarakat memanfaatkan momen HUT RI dan Perdamaian Aceh, dengan menggelar zikir, doa bersama dan santunan 39 anak yatim di bekas tempat tinggal Pahlawan Nasional Cut Meutia, Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.
Pada peringatan Perdamaian Aceh kali ini, ia menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Aceh Utara, agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang sengaja ingin merusak perdamaian Aceh.
Pelestarian Cagar Budaya
Sementara itu, pemuka adat, Imum Mukim Pirak, H. M. Ali dalam sambutan panitia mengungkapkan, Cut Meutia merupakan salah satu pahlawan ang diakui secara nasional. Ia lahir pada 15 Februari 1870, namun jasa-jasanya tetap terus dikenang.
Mukim Pirak juga menjelaskan, kegiatan hari ini dilandasi oleh situasi dan keadaan saat ini. "Alhamdulillah para kombatan telah membuat acara seperti ini. Pada tahun 2018 lalu, kita pernah membuat peringatan Haul Cut Meutia yang dihadiri oleh banyak pihak. Namun setelah itu, kegiatan serupa tidak berjalan lagi," jelasnya.
Dalam sambutannya, ia juga berharap untuk menghidupkan kembali cagar budaya nasional yang ada di Pirak, meskipun lokasinya di pelosok.
Selain itu juga perlu musyawarah bersama, berembuk bersama Imum Masjid dan tokoh lainnya, untuk membicarakan langkah perbaikan kondisi rumah Cut Meutia.
Menurutnya, renovasi cagak budaya ini perlu mendapat perhatian dan pemeliharaan yang layak. "Jika kita bandingkan dengan penanganan tempat bersejarah, seperti Cut Nyak Dhien di Sumedang, pengunjungnya luar biasa dan penyambutannya sangat dihargai," ujarnya.
Edukasi Sejarah
Kegiatan di Rumah Cut Meutia juga diisi dengan edukasi sejarah yang disampaikan oleh Kurator Museum Samudera Pasai, Sukarna Putra. Dalam pemaparannya, Sukarna mengulas ketegasan dan keberanian Cut Meutia yang diakui oleh pihak kolonial Belanda, sebagaimana tercatat dalam literatur sejarah Aceh.
"Cut Meutia adalah sosok pahlawan yang sangat berdisiplin dan ditakuti musuh. Rekam jejak perjuangannya serta pahlawan lain seperti Sultan Iskandar Muda harus terus diperkenalkan kepada generasi muda. Jangan sampai sejarah tidak sampai ke anak cucu kita nanti," kata Sukarna.
Sukarna sangat berharap semua pihak perlu menyampaikan sejarah Pahlawan Cut Mutia, dan banyak sejarah sultan-sultan lainnya kepada generasi yang akan datang. Hal tersebut sangat penting agar sejarah Aceh tidak berhenti pada generasi saat ini.(id71)
























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda