Mencari Emas di Arus Deras, Meninggalkan Tangis yang Pedih dan Panas

Derasnya arus sungai di Mane tidak hanya menyeret tubuh, tetapi juga harapan keluarga kecil di pedalaman Pidie. Tiga pria yang pergi mendulang emas demi menyambung hidup, kini menyisakan cerita pilu, dua selamat, satu masih hilang, di tengah kenyataan bahwa himpitan ekonomi sering memaksa warga bertaruh nyawa di alam yang tidak selalu bersahabat.
Di pedalaman Mane, Kabupaten Pidie, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah urat nadi kehidupan, sekaligus medan ujian bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari alam. Setiap hari, para pendulang emas tradisional turun ke sungai, bukan karena pilihan, tetapi karena keterpaksaan.
Di tengah duka atas hilangnya Zainunis, 29, yang hingga kini masih dalam pencarian, suara masyarakat terdengar lirih namun penuh makna. Mereka yang hidup di sana tahu betul bahwa setiap langkah ke sungai adalah perjudian dengan nyawa.
Seorang warga sekaligus pendulang emas, M. Yusuf ,43, warga Gampong Mane, menuturkan bahwa kondisi di lapangan sangat tidak menentu, terutama saat cuaca berubah ekstrem.
“Kadang air tenang, tiba-tiba naik deras dari hulu. Kami sering tidak sempat menyelamatkan diri. Tetapi mau bagaimana lagi, di situlah tempat kami cari makan,” ujarnya.
Cerita serupa disampaikan Syarifuddin, 38, warga Dusun Ireu Cot Kuala, yang mengaku sudah bertahun-tahun hidup dari mendulang emas.
“Kalau tidak ke sungai, kami tidak punya penghasilan. Kadang pulang cuma bawa Rp50 ribu, kadang tidak dapat sama sekali. Tetapi risikonya besar, apalagi kalau hujan turun di gunung,” katanya.
Sementara itu, Nurhayati, 35, warga Gampong Krueng Meuriam, menggambarkan kecemasan yang selalu menghantui keluarga para pendulang.

“Setiap suami berangkat, kami di rumah selalu was-was. Kalau hujan turun, kami tidak bisa tenang. Kami hanya bisa berdoa supaya mereka pulang selamat,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kapolres Pidie, AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk tidak memaksakan diri menyeberang saat debit air meningkat. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa proses pencarian masih terus dilakukan secara maksimal oleh tim gabungan.
“Kami bersama tim SAR dan unsur terkait terus berupaya melakukan pencarian. Harapannya korban segera ditemukan,” tambahnya.
Sementara itu, dari laporan Satgas SAR Pidie, hingga hari keempat pencarian, operasi masih terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, di antaranya KPP Banda Aceh, personel Satgas SAR Pidie, Polsek Mane, serta masyarakat setempat.
Koordinator lapangan Satgas SAR Pidie, M. Rizal, A.Md, menjelaskan bahwa pencarian sempat dilakukan dengan penyisiran intensif di sepanjang aliran sungai.
Namun karena kondisi medan dan arus yang cukup deras, pencarian dihentikan sementara. “Pencarian hari ini kami hentikan sementara dan akan dilanjutkan dengan memperluas area ke wilayah hilir hingga Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, oleh Pos SAR Meulaboh. Kami tetap memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan tim di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama dalam proses pencarian adalah kondisi alam yang tidak menentu, termasuk cuaca ekstrem dan arus sungai yang berubah-ubah.
Di sisi lain, pengamat sosial dan ekonomi Pidie, Safwan Ibrahim, S.Sos., M.Si, menilai tragedi ini sebagai cerminan persoalan struktural.
“Ketika masyarakat harus mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tidak seberapa, itu artinya ada kegagalan dalam menghadirkan kesejahteraan yang merata,” ujarnya.
Senada, Aktivis kemanusiaan, Iksan Usman, S.H, menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin keselamatan warga.
“Infrastruktur dasar seperti jembatan penyeberangan dan akses ekonomi alternatif harus segera diwujudkan. Jangan sampai tragedi seperti ini terus berulang,” tegasnya.
Kini, pencarian terhadap Zainunis masih berlangsung. Namun di balik itu, tersimpan kenyataan pahit bahwa selama kondisi ini tidak berubah, sungai Mane akan terus menjadi saksi bisu perjuangan hidup masyarakat, dan juga ancaman yang setiap saat bisa merenggut harapan.
Karena di tempat ini, mencari nafkah bukan sekadar bekerja. Ia adalah perjuangan panjang melawan alam, melawan keadaan, dan terkadang melawan maut.
Di sungai yang sama, harapan pernah berlayar, kini karam dalam arus luka yang tidak pernah benar-benar reda. Di tepian yang sunyi, doa-doa dipeluk langit, menggantung pilu, menanti kabar yang tidak kunjung tiba.
Di balik riak air, ada jerit yang tidak terdengar, tentang perut yang lapar dan hidup yang terus dipaksa bertahan.
Di balik derasnya arus, ada air mata yang jatuh diam, mengalir bersama rindu yang tidak sempat pulang ke pelukan.
Mereka pergi dengan harap sederhana, mencari sebutir emas untuk menanak nasi di rumah yang menunggu cahaya. Namun pulang tidak selalu menjadi cerita, karena alam kadang lebih kejam dari kemiskinan yang memaksa mereka.
Dan ketika satu nama masih hilang di antara pusaran takdir yang tidak berpihak. Yang tersisa hanyalah doa panjang, dan luka yang terus hidup, meski dunia perlahan melupakan jejak.
Muhammad Riza



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda