Menemukan Sistem Pengembangan Pemain Muda Aceh (Paling Realistis)


Oleh: Coach Rizki Zulfitri
Menarik membaca opini Sepak bola Aceh kalah segalanya , dalam tulisan tersebut penulis menyampaikan kritiknya tentang pengembangan sepak bola Aceh yang tidak punya arah jelas sehingga gagal melahirkan pemain ke timnas dalam satu dekade terakhir.
Menurutnya bukan hanya gagal melahirkan pemain ke level nasional, ekosistem sepak bola di Aceh kalah di segala level kompetisi mulai Liga Profesional, Liga amatir, dan Kompetisi Kelompok Umur.
Sebagai orang yang terlibat aktif dipersepakbolaan Aceh,membuat saya tertarik untuk menyampaikan ‘unek-unek’ terkait kondisi ‘real’ di lapangan dan mencoba memberi gagasan pengembangan sepak bola Aceh (yang paling realistis tentunya).
Kita mungkin semua sepakat bahwa persepakbolaan dibangun atau ditopang dengan pendanaan. Tidak ada aktivitas sepakbola tanpa menggunakan pundi-pundi rupiah.
Sejak terbitnya Permendagri No. 1 Tahun 2011 tentang pembatasan pendanaan klub sepak bola daerah yang berkompetisi di Liga Profesional, dan hanya memberi porsi APBD untuk klub berkompetisi di liga atau event amatir.
Banyak klub-klub yang kuat secara tradisi seperti PSAP, PSBL, PSSB, PSLS limbung dan merosot ke kompetisi amatir (Liga 4), hanya Persiraja yang bertahan di Liga Profesional (Liga 2) dengan mengubah status kepemilikan dan berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
Hal ini juga berpengaruh pada pemain muda lokal potensial yang tidak punya wadah untuk tampil di kompetisi profesional, hanya sebagian kecil yang bisa direkrut Persiraja atau klub profesional luar Aceh. Selebihnya mencari panggung di Liga amatir ataupun tarkam.
Klub Sebagai Ujung Tombak
Jika kita sedikit melihat bagaimana pola pengembangan pemain muda di negara maju, maka peran penting itu adq pada klub. Mereka bertugas mengidentifikasi bakat lalu mengembangkan bakat tersebut di dalam akademi hingga bisa bermain di tim utama. Akademi juga bisa menjadi komersil dengan penjualan pemain ke klub lain.
Baru-baru ini Persiraja meluncurkan program Akademi Persiraja untuk pengembangan pemain muda di beberapa Kelompok Umur (KU).
Sebagai informasi, Klub profesional wajib mengembangkan pemain muda sebagai syarat Sporting Criteria, kita berharap bukan hanya sebagai syarat administrasi tetapi harus dijalankan secara serius dan berkualitas.
Hal ini ditambah pula dengan program Elite Pro Academy (EPA) yang menjadi agenda rutin klub Liga Profesional. Kompetisi usia muda khusus klub Liga Profesional ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir.
Operator Kompetisi Liga 2 saat ini juga memberi ruang kepada pemain muda U21 yang wajib didaftarkan sebanyak 8 pemqin dan harus dimainkan oleh klub minimal 180 menit disetiap pertandingan. Tentu menjadi kesempatan pemain muda Aceh untuk nqik level.
Di level klub amatir sebenarnya hampir sama, pengembangan pemain muda menjadi tugas klub dan SSB terafiliasi. Klub bukan hanya mengejar juara kompetisi di tingkat regional tapi juga berperan melahirkan pemain di Kelompok Umur dengan pengembangan pemain yang terprogram.
‘Mungkin menjadi pertanyaan, jika bakat-bakat tadi sudah ditempa oleh klub? Lalu Apa peran federasi dalam Pengembangan pemain muda?’
PSSI Provinsi berperan dalam menjalankan roda kompetisi amatir (Liga 4, Suratin, Grassroot), berkolaborasi dengan klub dan anggotanya serta pemerintah dalam membuat program pengembangan pemain muda, rutin dalam peningkatan SDM Sepak bola (kursus pelatih, wasit, Match commissioner).
PSSI Provinsi harus proaktif mencari tambahan sponsor pendanaan agar kompetisi bisa lebih murah serta bisa diikuti banyak klub. Jumlah pertandingan atau durasi kompetisi bisa lebih panjang agar banyak pemain mendapat jumlah menit bermain yang memadai.
Kenapa Harus Sistem Pengembangan Muda Realistis?
Klub Liga Profesional seperti Persiraja punya struktur yang jelas dalam pengembangan pemain muda karena sudah diatur oleh regulasi operator Liga.
Yang perlu di perhatikan adalah klub-klub di Liga 4 yang menjadi mayoritas klub di Aceh. Dengan sumber pendanaan terbatas (sebagian besar dari APBD/APBK), mereka harus berfokus pada pengembangan pemain lokal atau putra daerah.
Latihan panjang dengan struktur pengembangan yang sistematis lebih baik daripada latihan singkat dan memaksakan mengumpulkan pemain dari luar daerah yang siap pakai.
Ambisius menjadi juara ditingkat regional demi melangkah ke babak nasional boleh-boleh saja, tapi harus bangun fondasi terlebih dahulu di klub agar operasional klub Tetap sehat dan melahirkan manfaat untuk daerah.
Buat Jalur pengembangan Pemain secara struktur, melibatkan Direktur Teknik dan Pelatih berlisensi Elit yang dimiliki daerah. Buat juga filosofi bermain dan kurikulum yang cocok dengan identitas daerah.
Misalkan di Kabupaten Aceh Timur terkenal dengan pemain yang kuat secara fisik dan punya agresivitas tinggi, punya kecepatan dan suka bermain vertikal (counterattack cepat).
Bangun identitas permainan dengan pola latihan yang dikembangkan sesuai kurikulum berdasarkan potensi pemain. Misalkan perbanyak latihan Small Sided Games yang berfokus pada transisi menyerang dengan bereaksi cepat saat berhasil rampas bola (segera progresi bola dengan cepat ke pemain terdepan sebelum 5 detik)
Paling penting juga memberikan jalur kepada pemain yang berbakat di akademi untuk naik level. Pentingnya akademi klub lokal membuka komunikasi dengan klub-klub profesional agar bakat tersebut bisa tersalurkan di liga profesional.
Selalu ada yang berpikir pesimis, bagaimana mengembangkan pemain muda melalui jalur akademi terstruktur pada klub Liga 4? Sedangkan mengikuti kompetisi saja sudah berat secara finansial.
Selalu ada jalan jika ada kemauan.
Penulis Eks Pelatih Putra Langsa FC, PS Peureulak Raya, Pra Pora Kota Langsa, Al farlaky FC, juga aktif melatih di SSB di Kota Langsa












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda