Breaking News
Memuat breaking news...

Mengapa Harus Waspada.id?

Redaksi
Redaksi
Minggu, 25 Oktober 2026 - 8.51 AM WIB
Mengapa Harus Waspada.id?
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Ketika syarat kompromistis diterima, ruang redaksi tak lagi punya pintu; ia punya loket.

DI JAGAT digital, setiap telepon genggam bisa menjelma kantor berita. Kabar berhamburan, vonis mendahului fakta, dan kebohongan berlari kencang sementara kebenaran masih mengikat tali sepatu. Di tengah pasar gaduh itu, mengapa Anda mesti memilih Waspada.id?

Pertanyaan ini bukan basa-basi ulang tahun. Sebab, Indonesia tidak kekurangan situs berita. Yang makin langka justru media dengan tulang punggung: berani memeriksa kekuasaan, menolak pesanan, dan mengakui kekeliruan sendiri.

Waspada.id membawa beban sejarah yang tidak ringan. Pada 11 Januari 1947, H. Mohammad Said dan Hj. Ani Idrus menerbitkan Harian Waspada di Medan. Republik masih belia, Belanda ingin kembali berkuasa. Keduanya memilih melawan dengan berita dan pikiran. Pemberedelan pernah datang; nyali tak ikut disita.

Sejak itu, Waspada bukan cuma merek koran. Ia peringatan kepada siapa pun yang memegang kuasa: rakyat tidak boleh dibuat lengah.

Tujuh puluh dua tahun berselang, ancaman berganti kostum. Bedil kolonial menghilang, tetapi manipulasi informasi, korupsi, propaganda, dan godaan uang berkeliaran hingga ke pintu redaksi. Almarhum H. Teruna Jasa Said, putra pasangan pendiri Harian Waspada, membaca perubahan itu. Ia menginspirasi kelahiran situs berita Waspada.id pada 24 Oktober 2019.

Bukan semata mengangkut koran ke layar digital. Yang mesti dipindahkan ialah keberanian melawan segala culas.

Kini, memasuki usia ketujuh, musuh pers tidak selalu datang membawa surat larangan. Kadang ia menari di meja makan, menawarkan iklan, akses eksklusif, atau kerja sama diselipi permintaan: berita ini ditahan, kritik itu diperhalus. Ketika syarat kompromistis diterima, ruang redaksi tak lagi punya pintu; ia punya loket.

Pers memang membutuhkan uang. Wartawan tak bisa dibayar dengan sorak sorai. Namun, bisnis media kehilangan kehormatan ketika pengiklan diam-diam naik pangkat menjadi “pemimpin redaksi”. Silahkan bersahabat dengan penguasa. Tapi jangan menjadi kacung dan tukang poles citranya.

Di Aceh dan Sumatera Utara, bahan untuk kerja jurnalistik tak pernah habis. Anggaran publik harus dibedah, proyek diuji manfaatnya, pelayanan buruk ditagih pertanggungjawabannya. Wartawan bukan stenografer pejabat yang bertugas menyalin pidato dan mengabadikan senyum kepalsuan mereka. Ia harus bertanya ke mana uang mengalir, siapa menikmati, dan mengapa warga tetap menunggu.

Kekuasaan memang gemar kamera. Namun, kamera pers bukan cermin rias untuk memoles wajah pejabat bermental korup. Tugas jurnalis justru membongkar kepingan fakta yang sengaja disembunyikan, menyingkap kebusukan di balik pencitraan, dan mengungkap apa yang luput dari sorotan kamera.

Industri digital menawarkan godaan lain. Algoritma dijadikan kompas, klik diagungkan, judul sensasional diperlakukan seperti wahyu. Redaksi sibuk mengejar yang ramai, lupa mencari yang penting. Akibatnya, kemarahan lebih mudah dijual daripada penjelasan; kehebohan mengalahkan penyelidikan.

Ya, jumlah pengunjung memang penting bagi usaha, tetapi angka bukan ukuran tunggal mutu jurnalistik. Satu laporan menyelamatkan hak warga bisa lebih berharga daripada seribu berita yang lenyap sesudah digeser jempol.

Ditambah fenomena kecerdasan buatan, kebohongan kini dapat diproduksi rapi, cepat, dan murah. Maka, keunggulan pers bukan berlomba menjadi paling gaduh. Ia harus menjadi yang paling bisa dipercaya.

Tagline Menjaga Ruh Kebenaran dan Keadilan bukan pemanis logo. Itu janji yang menagih bukti: verifikasi sebelum publikasi, hak jawab bagi yang dituduh, koreksi ketika salah, keberanian ketika fakta tak disukai kawan maupun lawan. Pers yang alergi dikritik hanya sedang meniru tabiat kekuasaan yang dikritiknya.

HUT ketujuh ini juga diwarnai kehilangan sang senioritas. H. Teruna Jasa Said berpulang pada 9 November 2025. Warisannya tak bisa dihormati hanya dengan tumpeng dan pidato. Ia menuntut keputusan redaksi yang lurus, terutama saat kebenaran berhadapan dengan kepentingan sendiri.

Tujuh tahun bukan usia untuk merasa mapan. Saatnya mengaudit nurani: apakah redaksi berani menolak intervensi? Apakah orang kecil mendapat tempat sebesar pejabat? Ataukah idealisme dipanggil saat ulang tahun, lalu disimpan dalam lemari baja?

Sekali lagi, mengapa harus Waspada.id? Karena publik masih membutuhkan pers yang tidak menjual hati nurani untuk trafik, fasilitas, atau kedekatan politik.

Selamat ulang tahun ketujuh. Teruslah tajam, bahkan ketika ketajaman itu mengiris kenyamanan diri sendiri.

Sebab, ketika media bernama Waspada tak lagi membuat kekuasaan waspada, yang tersisa hanya inskripsi di atas kuburan idealisme.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement