Breaking News
Memuat breaking news...

Mengenal Desil Ekonomi, DTSEN, dan Kaitannya dengan Bansos

Redaksi
Redaksi
Jumat, 21 Agustus 2026 - 7.42 AM WIB
Mengenal Desil Ekonomi, DTSEN, dan Kaitannya dengan Bansos
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Istilah desil ekonomi semakin sering muncul dalam pembahasan penyaluran bantuan sosial (bansos) pemerintah. Data tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat sekaligus menentukan kelompok yang menjadi sasaran program perlindungan sosial.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kategori desil ekonomi menggunakan basis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pemerintah juga tengah melakukan survei ekonomi untuk memperbarui dan melihat kondisi terbaru masyarakat.

“Saat ini sedang dilakukan survei ekonomi. Kemarin, khusus untuk desil ekonomi itu basisnya di DTSEN, dan sekarang kebijakan untuk bansos (bantuan sosial) itu menggunakan satu data dari DTSEN,” kata Menko Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Airlangga, data sosial ekonomi masyarakat bersifat dinamis. Karena itu, posisi seseorang atau keluarga dalam kelompok desil dapat berubah mengikuti kondisi terbaru.

“Sekarang survei ekonomi sedang dilakukan, nanti kita lihat datanya seperti apa. Data, kan, sifatnya dinamis. Surveinya sedang dilakukan,” ujar Airlangga.

Apa Itu Desil Ekonomi?

Desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi. Secara sederhana, masyarakat dibagi menjadi 10 kelompok, mulai dari desil 1 hingga desil 10.

Desil 1 menggambarkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Namun, penentuan desil tidak semata-mata berdasarkan besarnya penghasilan seseorang.

Data Cek Bansos Kementerian Sosial (Kemensos), misalnya, mencakup berbagai variabel yang menggambarkan kondisi sosial ekonomi keluarga. Di antaranya pekerjaan, pendidikan, kondisi tempat tinggal, daya listrik, hingga kepemilikan aset.

Artinya, seseorang dengan penghasilan tertentu belum tentu otomatis masuk ke desil tertentu. Kondisi sosial dan ekonomi keluarga secara keseluruhan turut diperhitungkan dalam pemutakhiran data.

Apa Hubungan Desil dengan DTSEN?

DTSEN merupakan basis data pemerintah yang memuat informasi mengenai kondisi sosial, ekonomi, serta peringkat kesejahteraan masyarakat.

Data tersebut dibentuk melalui penggabungan sejumlah basis data pemerintah yang kemudian dipadankan dengan data kependudukan. Data juga dapat diperbarui secara berkala agar kondisi masyarakat yang tercatat lebih sesuai dengan keadaan terkini.

Dalam kebijakan bansos, data desil menjadi bagian dari DTSEN dan digunakan sebagai salah satu basis untuk menentukan sasaran program perlindungan sosial.

Karena kondisi ekonomi masyarakat dapat berubah, posisi desil juga tidak bersifat permanen. Perubahan pekerjaan, kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, maupun faktor sosial ekonomi lainnya dapat memengaruhi pembaruan data.

Desil 1-4 Berpeluang Dapat PKH

Berdasarkan data Cek Bansos Kemensos, desil 1 sampai desil 4 merupakan kelompok yang dapat diusulkan sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako.

Semakin rendah angka desil, semakin rendah pula tingkat kesejahteraan kelompok masyarakat tersebut berdasarkan pemeringkatan dalam data.

Sementara itu, desil 5 memiliki posisi berbeda. Data resmi Cek Bansos menyebut kelompok ini dapat diusulkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK).

Sedangkan desil 6 sampai desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan yang semakin tinggi.

Adapun desil 10 berada dalam kelompok 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.

Dengan demikian, desil bukan sekadar angka dalam data pemerintah. Posisi tersebut dapat memengaruhi siapa yang menjadi sasaran berbagai program perlindungan sosial, sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah menyalurkan bansos agar lebih tepat sasaran.

Namun, karena data sosial ekonomi bersifat dinamis, perubahan kondisi keluarga dapat menyebabkan posisi desil ikut berubah setelah dilakukan pemutakhiran data. (Rep)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement