Breaking News
Memuat breaking news...

Mengenang Bisuk Siahaan: Arsitek Lahirnya Inalum yang Mengabadikan Peradaban Batak Lewat Tulisan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 30 Juli 2026 - 8.58 PM WIB
Mengenang Bisuk Siahaan: Arsitek Lahirnya Inalum yang Mengabadikan Peradaban Batak Lewat Tulisan
Peserta Balige Writers Festival (BWF) mengenakan alat pelindung diri (APD) saat mengunjungi ruang pembangkit PLTA Siguragura milik PT Inalum. Waspada.id/Ramsiana Gultom
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TOBA (Waspada.id) : Panas matahari mulai terik saat rombongan Balige Writers Festival (BWF) menuruni jalan menuju kawasan Bendungan Siguragura dan terowongan Proyek Asahan. Dinding-dinding beton yang menjulang, suara gemuruh air yang tak pernah berhenti, hingga lorong yang menembus perut bumi menjadi saksi bisu sebuah karya besar yang telah mengubah sejarah industrialisasi Indonesia.

Langkah demi langkah rombongan Balige Writers Festival (BWF) menyusuri kawasan Proyek Asahan bukan sekadar wisata industri. Perjalanan itu menjadi napak tilas untuk mengenang sosok Dr. Ir. Bisuk Siahaan, teknokrat asal Tanah Batak yang tak hanya berperan besar dalam lahirnya proyek raksasa Inalum, tetapi juga meninggalkan warisan intelektual tentang peradaban Batak.

Jarum jam baru menunjukkan sekitar pukul 10.00 WIB saat rombongan BWF tiba di Bendungan Siguragura. Di tengah kunjungan tersebut, Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak Universitas HKBP Nommensen, Manguji Nababan, satu dari sekian peserta BWF seolah kembali mengulang kisah yang pernah didengarnya langsung dari Bisuk Siahaan lebih dari dua dekade silam.

Rombongan Balige Writers Festival (BWF) menyimak penjelasan Humas PT.Inalum mengenai sistem kerja PLTA Siguragura di dalam ruang turbin. Waspada.id/Ramsiana Gultom

"Saya sangat senang diundang Balige Writers Festival. Kunjungan ini mengingatkan saya kepada sosok Dr. Ir. Bisuk Siahaan. Beliau seorang teknokrat, tetapi juga berhasil menulis karya-karya besar yang menjadi warisan berharga bagi masyarakat Batak," ujar Manguji ketika bercerita kepada Waspada.id, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, nama Bisuk Siahaan kini mulai asing di telinga generasi muda. Padahal, ia merupakan salah satu tokoh penting yang menginisiasi lahirnya Proyek Asahan yang kemudian berkembang menjadi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), salah satu BUMN strategis Indonesia.

Lulusan Teknik Kimia itu memulai karier sebagai pegawai di Departemen Perindustrian pada masa Orde Baru. Namun, dedikasinya tidak berhenti sebagai birokrat. Ia juga dikenal sebagai penulis dua buku penting tentang kebudayaan Batak, yakni Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu dan Satu Abad Orang Batak.

Manguji mengaku memiliki kenangan pribadi dengan Bisuk Siahaan. Pada awal 2005, tokoh tersebut datang ke kantornya di Universitas HKBP Nommensen untuk melakukan studi literatur sebagai bagian dari proses penulisan buku Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu.

"Awalnya saya belum mengetahui siapa beliau. Tetapi dalam pertemuan itu beliau banyak bercerita mengenai proses panjang lahirnya Proyek Asahan. Ketika hari ini saya memasuki kawasan bendungan dan terowongan, semua cerita beliau kembali terbayang," katanya.

Di balik megahnya bendungan dan terowongan yang membelah perut bumi hingga sekitar 250 meter di bawah permukaan, Manguji membayangkan betapa berat perjuangan yang harus dilalui Bisuk Siahaan. Ia menceritakan bagaimana tokoh itu berulang kali melakukan negosiasi dengan berbagai negara, mulai dari Jepang, Rusia hingga Amerika Serikat, demi mewujudkan proyek yang membutuhkan investasi sangat besar.

Bahkan, ketika proyek sempat mengalami kebuntuan, Bisuk Siahaan disebut rela membuka kantor sendiri di Medan dengan biaya pribadi agar komunikasi dengan para calon investor tetap berjalan.

"Pengorbanan beliau luar biasa. Ketika proyek hampir ditinggalkan, beliau tetap memperjuangkannya. Itu bukan pekerjaan yang mudah," tutur Manguji.

Semangat itu, menurutnya, tidak lahir begitu saja. Bisuk Siahaan merupakan cucu Raja Asal Siahaan, tokoh adat dan masyarakat Batak. Sejak kecil ia sering mendengar cerita dari sang kakek mengenai cita-cita agar berbagai rencana pembangunan yang pernah dirancang sejak masa Hindia Belanda suatu hari benar-benar dapat diwujudkan demi kesejahteraan masyarakat.

"Bayangan itu tertanam kuat dalam dirinya sejak kecil. Karena itu, menurut saya, sudah sewajarnya kita memberikan penghargaan atas jasa beliau," ujarnya.

Manguji Nababan (tengah), Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak Universitas HKBP Nommensen, berdiskusi dengan pihak PT Inalum saat mengunjungi kawasan Bendungan Siguragura. Menurutnya, kunjungan Balige Writers Festival merupakan bentuk napak tilas untuk mengenang jasa Dr. Ir. Bisuk Siahaan sebagai penggagas Proyek Asahan sekaligus penulis buku-buku penting tentang peradaban Batak. Waspada.id/Ramsiana Gultom.

Di luar kiprahnya sebagai teknokrat, Bisuk Siahaan juga memiliki kegelisahan lain, yakni menjaga ingatan kolektif tentang peradaban Batak.

Manguji kemudian mengisahkan sebuah peristiwa ketika Bisuk Siahaan menghadiri forum industri di Washington DC, Amerika Serikat. Dalam forum itu, seorang pakar industri asal Amerika terus bertanya mengenai asal daerah Bisuk hingga akhirnya mengetahui bahwa ia berasal dari kawasan Danau Toba.

Pakar tersebut kemudian bercerita bahwa ayahnya pernah bekerja di perkebunan Deli pada masa lalu. Dari cerita sang ayah, ia mengenal Danau Toba sebagai kawasan yang sangat bersih, masyarakatnya ramah, kehidupan kampung-kampungnya tertata, serta memiliki aturan adat yang kuat melalui patik dohot uhum.

Namun ketika akhirnya ia datang sendiri ke Danau Toba, kenyataan yang ditemukannya jauh berbeda dengan cerita yang diwariskan orang tuanya.

Percakapan itulah yang kemudian menggugah Bisuk Siahaan.

Ia didorong untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat Batak agar jejak peradaban itu tidak hilang ditelan zaman.

Padahal, Bisuk bukanlah seorang antropolog ataupun etnolog.

Berbekal tekad, ia menghubungi berbagai perpustakaan dan pusat arsip dunia, mulai dari Library of Congress di Amerika Serikat, lembaga arsip di Jerman, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Belanda hingga Universitas Canberra di Australia.

Berbagai referensi itu kemudian dipelajarinya secara mendalam hingga akhirnya lahirlah buku Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu pada Agustus 2005.

"Buku itu menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap tanah kelahiran tidak dibatasi oleh profesi. Beliau bukan antropolog, bukan etnolog, tetapi memiliki jiwa besar untuk membangun dan mendokumentasikan tanah leluhurnya," kata Manguji.

Melalui kunjungan Balige Writers Festival ke kawasan Proyek Asahan, Manguji berharap nama Bisuk Siahaan kembali dikenang, terutama oleh generasi muda Batak.

"Jangan sampai kita melupakan tokoh besar seperti Bisuk Siahaan. Apa yang beliau bangun bukan hanya bendungan dan industri, tetapi juga warisan pengetahuan yang akan terus menjadi sumber belajar tentang jati diri masyarakat Batak," pungkasnya.

Di penghujung kunjungan, gemuruh air Bendungan Asahan masih terdengar. Air terus mengalir, turbin terus berputar, dan listrik terus menerangi negeri.

Di balik semua itu, ada nama yang perlahan mulai terlupakan.

Melalui perjalanan Balige Writers Festival, nama itu kembali dipanggil pulang.

Bisuk Siahaan—seorang teknokrat, penulis, sekaligus anak Batak yang membuktikan bahwa kecintaan kepada tanah leluhur dapat diwujudkan lewat karya yang bertahan jauh melampaui usia manusia. (Id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement