Breaking News
Memuat breaking news...

Menjemput Kejayaan yang Hilang – Ayahwa dan Ingatan Samudera Pasai

Redaksi
Redaksi
Kamis, 10 September 2026 - 5.04 PM WIB
Menjemput Kejayaan yang Hilang – Ayahwa dan Ingatan Samudera Pasai
Tokoh Masyarakat Aceh, Terpiadi A. Madjid. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

“Kejayaan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu untuk dijemput kembali oleh generasi yang berani,”- Tokoh Masyarakat Aceh, Terpadi A. Madjid.

Lima abad adalah rentang waktu yang panjang, cukup untuk membuat sebuah peradaban agung terlelap dalam kabut mitos. Sejak masa Sultanah Nahrasiyah meredup, nama besar Samudera Pasai seakan hanya bersemayam di lembaran buku sejarah. Namun, di tanah Aceh Utara, sebuah langkah berani lahir—membangunkan kembali ingatan yang lama tertidur.

Langkah itu datang dari Ismail A. Jalil, atau yang akrab disapa Ayahwa, Bupati Aceh Utara. Melalui inisiasinya, peringatan 800 tahun Samudera Pasai digelar, sebuah momentum yang tak pernah terbayangkan oleh deretan pemimpin sebelumnya. Tokoh masyarakat Aceh, Terpiadi A. Madjid, menyebutnya sebagai tindakan yang melampaui sekadar urusan birokrasi.

"Ayahwa di mata saya adalah seorang kepala daerah yang menghargai jasa-jasa pendahulu dalam menyiarkan Islam di republik ini," ujarnya penuh takzim.

Titik Nol Nusantara: Cahaya yang Tak Boleh Padam

Perayaan ini bukan sekadar pesta budaya. Ia adalah pengingat bahwa Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara adalah titik nol penyebaran Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. Dari tanah ini, cahaya peradaban memancar ke benua-benua jauh.

Namun, Terpiadi mengingatkan: sejarah besar bisa terkikis jika hanya dirayakan sekali setahun. Ia menitipkan pesan agar milad ini tidak berhenti sebagai riak sesaat. Edukasi dan kebudayaan harus terus berdenyut sepanjang tahun, agar generasi Aceh paham betul di atas tanah mulia mana mereka berpijak.

Menatap Masa Depan: Dari Romantisme ke Rekonstruksi

Menyusuri jejak lima abad silam membawa kita pada memori emas: Samudera Pasai sebagai bandar perdagangan dunia, riuh oleh saudagar internasional, penghasil sutra dan lada yang disegani.

Hari ini, tantangan Aceh Utara berbeda. Kejayaan tidak lagi diukur dari sutra atau lada, melainkan dari kemampuan mengelola Sumber Daya Alam modern dengan cerdas. Lebih dari itu, warisan sejarah yang kuat bisa ditransformasikan menjadi wisata religi dan pusat literasi sejarah dunia.

“Momentum ini adalah titik balik. Bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan rekonstruksi kemajuan baru,” ujar Terpiadi A. Madjid.

Pesan dari Aceh Utara untuk Dunia

Melalui langkah awal Ayahwa, Aceh Utara mengirimkan pesan tegas: Kami tidak pernah melupakan rahim sejarah kami. Kami siap membangun kejayaan baru dengan cara yang berbeda.

Perayaan 800 tahun Samudera Pasai adalah lebih dari sekadar nostalgia. Ia adalah janji sejarah: bahwa tanah yang pernah melahirkan bahasa, ulama, dan kerajaan besar kini harus melahirkan kebangkitan baru.

Ayahwa, telah menyalakan obor ingatan. Terpiadi A. Madjid menegaskan pentingnya merawat api itu agar tidak padam. Dan Aceh Utara, dengan segala potensi laut, daratan, dan tambangnya, berdiri di persimpangan: antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang menunggu untuk ditulis. Harapan ini sejalan dengan slogan yang kerap diteriakkannya selama ini yaitu Aceh Utara Bangkit. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement