Menkeu Akui Ekonomi 5,29% Belum Penuhi Harapan PemerintahMenkeu Akui Ekonomi 5,29% Belum Penuhi Harapan Pemerintah

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II-2026 belum memenuhi harapan pemerintah. Untuk itu, pemerintah akan mempercepat berbagai sumber pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026 guna mendorong laju ekonomi mendekati 6%.
Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 tercatat melambat dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 5,61% (yoy). Meski demikian, pemerintah optimistis kinerja ekonomi akan membaik pada paruh kedua tahun ini.
“Jadi gini, 5,29% kan belum cukup kuat. Kita ingin tumbuh lebih cepat lagi,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurut Purbaya, perlambatan ekonomi dipengaruhi tingginya ketidakpastian global yang mencapai puncaknya pada triwulan II-2026. Lonjakan harga minyak dunia selama April hingga Juni turut menekan aktivitas perdagangan luar negeri dan membuat kinerja ekspor Indonesia tidak optimal.
Kondisi tersebut juga berdampak pada neraca perdagangan Indonesia yang untuk pertama kalinya mengalami defisit setelah selama enam tahun berturut-turut mencatat surplus.
“Pada triwulan II-2026 sebetulnya impact dari global uncertainty yang maksimal. Pada April, Mei, Juni ketika harga minyak dunia tinggi sehingga ekspor terganggu. Jadi enggak optimal,” terang Purbaya.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4% pada akhir 2026. Bahkan, Purbaya berharap laju ekonomi dapat bergerak mendekati 6% dengan mengoptimalkan seluruh mesin pertumbuhan, termasuk menjaga likuiditas agar aktivitas ekonomi semakin bergairah.
“Ke depan saya yakin di triwulan III dan IV kita akan dorong ke arah yang lebih cepat menuju 6% dengan memaksimalkan semua engine of growth yang ada di perekonomian, termasuk menambah uang di perekonomian,” katanya.
Sebelumnya, pada pertengahan Juli 2026, Purbaya memperkirakan ekonomi Indonesia pada triwulan II dapat tumbuh sedikitnya 5,4% (yoy). Proyeksi tersebut didasarkan pada kondisi likuiditas yang tetap terjaga serta kebijakan fiskal yang dinilai masih prudent.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% masih tergolong solid di tengah perlambatan ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik, ketegangan di Selat Hormuz, serta perang tarif antara Amerika Serikat dan sejumlah negara.
“Walaupun berbagai lembaga melihat pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh rata-rata di atas 3% tetapi Indonesia masih mampu tumbuh sebesar 5,29% pada triwulan II-2026. Seperti kita tahu triwulan II-2026 tidak ada event besar seperti Lebaran karena ini sudah masuk di triwulan I-2026. Jadi angka 5,29% ini angka yang cukup baik,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai 5,45%, sehingga tetap mampu bertahan di atas level 5% selama tujuh tahun terakhir.
“Dengan pertumbuhan 5,45% sepanjang 1 semester ini juga di antara negara lain termasuk di Asean itu salah satu yang top,” tutur Airlangga.
Di sisi lain, Ekonom Senior Associate Faculty Lembaga Pengembang Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, menilai pemerintah perlu memperkuat mesin pertumbuhan dari dalam negeri untuk menghadapi tekanan ekonomi global. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan ekspor produk manufaktur, penguatan konsumsi rumah tangga, mendorong investasi langsung, serta memperbaiki daya saing melalui reformasi birokrasi dan kepastian regulasi.
“Harapannya agar target pertumbuhan ekonomi berkisar 5,3-5,6% pada tahun 2026 ini yang berkesinambungan, berkualitas atau inklusif bahkan bisa tercapai sekaligus sebagai modal berharga menjelang tahun 2027,” tutur Ryan. (invid)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda