Menyalakan Pelita Pasai: Ketika Kitab dan Semangat Juang Bertemu di Bumi Utara


"Bangkit dengan ilmu, tegak dengan adab—itulah warisan Pasai yang harus kita hidupkan, bukan sekadar kita ceritakan."- Ketua Panitia Milad Aceh Utara ke-800 tahun, M. Jhoni.
Malam merayap perlahan di halaman Kantor Bupati Aceh Utara. Angin September bertiup membawa aroma asin Selat Malaka, membawa serta sisa-sisa kejayaan masa lalu yang pernah menobatkan tanah ini sebagai mercusuar peradaban Islam di Asia Tenggara.
Di bawah langit yang sama, delapan ratus tahun setelah Sultan Malikussaleh meletakkan batu pertama sebuah imperium, ribuan pasang mata berkumpul. Mereka tidak sedang merayakan kematian waktu, melainkan menjemput ruh yang hampir padam.
Di atas panggung utama, dua sosok berdiri sebagai jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang masih menjadi teka-teki. Mereka adalah M. Jhony, sang panglima yang beralih rupa menjadi penjaga api sejarah, dan Tengku Habibi An Nawawi, sang pemegang kalam yang melantunkan bait-bait hikmah.
Bagi M. Jhony, Ketua Panitia Milad Aceh Utara, angka 800 tahun Samudera Pasai bukanlah sekadar angka di atas kalender yang lapuk. Di matanya, sejarah adalah sebuah manifesto perjuangan yang belum usai. Saat ia berdiri menghadap ribuan warga, suaranya yang tegas membelah malam. Ia tidak sedang bercerita tentang megahnya istana Pasai, melainkan tentang pentingnya senjata baru bagi generasi muda Aceh Utara: ilmu pengetahuan.
"Untuk bangun negeri harus dengan ilmu, untuk akhirat juga dengan ilmu," tegas Jhony, sebuah kalimat yang menggema bukan sebagai retorika, melainkan sebagai perintah harian bagi moralitas bangsa. Slogan yang ia usung,r
“Bangkit dengan Ilmu, Beradab dalam Kepemimpinan,” seolah menjadi jangkar di tengah badai zaman yang kian mengikis jati diri muda-mudi Serambi Mekah. Jhony tahu benar, mengagumi masa lalu tanpa membangun kapasitas intelektual hari ini hanyalah sebuah kesia-siaan yang romantis.
Maka, ketika Jhony selesai menyalakan sumbu semangat, giliran Tengku Habibi An Nawawi yang menuangkan minyak kebijaksanaan ke dalam sanubari jemaah. Dengan tutur kata yang santun namun menghujam, Tengku Habibi menuntun ingatan ribuan orang kembali ke abad ke-13, mengeja kembali nama Meurah Silu atau Sultan Malikussaleh.
Melalui lisan Tengku Habibi, Sultan Malikussaleh tidak digambarkan sebagai raja yang angkuh dengan mahkota emas, melainkan sebagai sosok sufi yang berjalan di atas bumi dengan kesederhanaan yang menggetarkan. Ia mengisahkan bagaimana sang Sultan memuliakan setiap tamu yang mengetuk pintu istananya, memperlakukan manusia dengan derajat kemuliaan tertinggi tanpa memandang kasta.
Di sinilah simfoni antara pemikiran Jhony dan tausiyah Tengku Habibi bertemu secara sempurna. Jika Jhony menuntut generasi muda untuk memegang teguh ilmu sebagai alat membangun negeri, Tengku Habibi mengingatkan para calon pimpinan dan pejabat modern bahwa ilmu tanpa akhlak serta kesederhanaan adalah kekuasaan yang buta. Kejayaan Pasai dahulu tidak tegak karena kokohnya benteng atau melimpahnya koin dirham, melainkan karena peradabannya dipimpin oleh mereka yang tunduk pada nilai-nilai ketuhanan.
Malam kian larut, namun ribuan pengunjung dari pelosok Aceh Utara enggan bergemas. Di bawah temaram lampu panggung, narasi sejarah malam itu telah menjelma menjadi sebuah kesadaran baru. Kolaborasi antara ketegasan sang panglima dan kedalaman ilmu sang guru telah berhasil mengetuk pintu hati masyarakat: bahwa memuliakan Samudera Pasai bukan dengan cara meratapi kehilangannya, melainkan dengan cara menghidupkan kembali ruh kemuliaan, ilmu, dan adabnya di dalam dada mereka masing-masing. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda