Breaking News
Memuat breaking news...

Menyemai Harapan di Tanah Alue Canang (Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa)

Redaksi
Redaksi
Senin, 25 Mei 2026 - 5.09 PM WIB
Menyemai Harapan di Tanah Alue Canang (Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Letkol Inf Novi Widyanto, S.E

Kabut tipis masih menggantung di antara hamparan perkebunan sawit yang membelah pedalaman Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur. Embun pagi jatuh perlahan menyentuh tanah merah yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kerasnya kehidupan masyarakat Desa Alue Canang. Jalan tanah membentang sunyi, penuh lubang dan lumpur ketika hujan turun. Rumah-rumah sederhana berdiri di tepi jalan, seakan bertahan dalam kesunyian yang panjang.

Di desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota itu, masyarakat menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Ketika musim hujan datang, akses jalan berubah menjadi kubangan licin yang sulit dilalui kendaraan. Anak-anak harus menapaki lumpur demi mencapai sekolah. Petani kesulitan membawa hasil panen keluar desa. Bahkan ketika ada warga yang sakit pada malam hari, kendaraan medis kerap tak mampu menembus jalan yang rusak.

Namun di balik kesederhanaan itu, masyarakat Alue Canang tetap hidup dengan kesabaran dan keteguhan hati. Mereka terbiasa bertahan dalam keadaan sulit sambil menyimpan harapan akan hadirnya perubahan yang suatu hari nanti datang menyapa desa mereka.

Dan harapan itu akhirnya hadir pada April 2026, tanggal 22 April 2026 menjadi hari yang bersejarah bagi masyarakat Desa Alue Canang. Lapangan desa yang biasanya sepi mendadak ramai oleh kehadiran warga. Anak-anak tampak berlarian kecil sambil memandangi kendaraan dinas TNI yang memasuki desa.

Para orang tua berdiri dengan wajah penuh antusias. Di bawah kibaran Sang Merah Putih, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-128 Kodim 0104/Aceh Timur resmi dibuka oleh Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I, M.Si .

Bagi masyarakat Alue Canang, hari itu bukan sekadar seremoni pembukaan program pembangunan. Hari itu menjadi titik awal tumbuhnya keyakinan baru bahwa negara benar-benar hadir di tengah kehidupan mereka.

Prajurit TNI datang bukan hanya membawa alat kerja dan perlengkapan lapangan. Mereka hadir dengan semangat pengabdian. Mereka datang membawa tenaga, kepedulian, dan kesiapan untuk bekerja bersama rakyat.

Suasana hangat langsung terasa sejak hari pertama. Tidak ada sekat antara prajurit dan warga. Tangan saling berjabat. Senyum saling bertukar. Semua menyatu dalam satu semangat yang sama: membangun desa demi kehidupan yang lebih baik.

TMMD sejatinya bukan hanya tentang pembangunan fisik semata. Program ini adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Sebuah bentuk pengabdian yang menghadirkan negara di wilayah-wilayah yang selama ini masih membutuhkan perhatian lebih besar.

Di Desa Alue Canang, TMMD hadir bukan sekadar membangun jalan atau memperbaiki rumah. TMMD hadir untuk menyalakan kembali harapan masyarakat.

Sejak pelaksanaan dimulai, suasana desa perlahan berubah. Suara alat berat mulai terdengar memecah kesunyian pagi. Dentingan palu bersahutan dari sudut-sudut kampung. Prajurit TNI bekerja bersama warga tanpa mengenal lelah. Mereka mengangkat batu, menggali tanah, mencampur semen, dan membangun desa dengan tangan mereka sendiri.

Semangat gotong royong yang mulai memudar perlahan hidup kembali. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton pembangunan. Para pemuda turut membantu mengangkut material. Para ibu menyediakan kopi dan makanan sederhana untuk para prajurit yang bekerja sejak pagi. Anak-anak memandang para tentara dengan mata penuh kagum, seolah melihat saudara yang datang membawa perubahan besar bagi desa mereka.

Selama tiga puluh hari pelaksanaan TMMD, wajah Alue Canang perlahan mulai berubah. Jalan penghubung antara Desa Alue Canang menuju Desa Jamur Labu sepanjang 2.200 meter berhasil diperkeras. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui saat hujan kini mulai dapat diakses kendaraan dengan lebih mudah. Bagi masyarakat pedalaman, jalan bukan hanya sekadar sarana transportasi. Jalan adalah urat nadi kehidupan.

Melalui jalan itulah hasil kebun dibawa keluar desa. Dari jalan itu anak-anak pergi ke sekolah. Dari jalan itu pula akses kesehatan dan kebutuhan pokok masuk ke perkampungan.

Kini masyarakat merasakan bahwa ketika jalan mulai terbuka, masa depan mereka pun ikut terbuka. Selain pembangunan jalan, tiga unit gorong-gorong juga dibangun untuk mengatasi aliran air yang selama ini sering merusak badan jalan. Ketika hujan deras turun, warga tidak lagi dihantui kekhawatiran jalan terputus akibat banjir dan lumpur.

TMMD juga merehabilitasi empat unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah-rumah yang sebelumnya lapuk dan nyaris roboh kini berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.

Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari seorang warga lanjut usia bernama Mariana. Di usia enam puluh dua tahun, Mariana telah bertahun-tahun tinggal di rumah kecil yang kondisinya memprihatinkan. Atap rumah bocor di berbagai sisi. Dinding kayu mulai rapuh dimakan usia. Ketika hujan turun, air masuk dari celah-celah seng yang lapuk. Ia harus berpindah-pindah sudut rumah demi mencari tempat yang tidak terkena tetesan air.

Selama puluhan tahun, Mariana hidup dalam keterbatasan tanpa pernah membayangkan rumahnya akan berubah. Namun melalui program RTLH TMMD Ke-128, rumah sederhana itu akhirnya direnovasi menjadi tempat tinggal yang layak huni. Dinding baru berdiri kokoh. Atap rumah tidak lagi bocor. Lantai rumah menjadi lebih nyaman untuk ditempati.

Saat proses pembangunan berlangsung, Mariana berdiri memandangi rumahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya gemetar ketika menyentuh dinding baru rumahnya.

“Terasa seperti mimpi. Sudah puluhan tahun saya tinggal di rumah bocor. Sekarang rumah saya sudah bagus. Terima kasih kepada bapak-bapak TNI,” ucapnya lirih penuh haru.

Ucapan sederhana itu menjadi pengingat bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya tentang angka atau laporan pekerjaan. Pembangunan adalah tentang menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi manusia.

Bagi Mariana, rumah itu bukan sekadar bangunan. Rumah itu adalah simbol kepedulian. Simbol bahwa negara hadir dan tidak membiarkan rakyatnya menghadapi kehidupan sendirian.

Selain pembangunan RTLH, TMMD juga menghadirkan lima titik sumber air bersih bagi masyarakat. Selama bertahun-tahun, sebagian warga kesulitan memperoleh air layak konsumsi, terutama saat musim kemarau tiba. Kini, air bersih mulai mengalir lebih dekat ke rumah-rumah warga.

Tiga fasilitas MCK turut dibangun guna meningkatkan sanitasi masyarakat desa. Perlahan, kualitas hidup warga mulai berubah menuju kehidupan yang lebih sehat dan layak.

Namun pengabdian TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Berbagai kegiatan sosial turut dilaksanakan untuk membantu masyarakat secara langsung. Pelayanan administrasi kependudukan dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh dokumen penting seperti KTP dan akta kelahiran. Program pengobatan massal dan KB Kes Terpadu juga digelar untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat pedalaman.

Selain itu, sosialisasi bahaya narkoba diberikan kepada generasi muda sebagai upaya menjaga masa depan desa dari ancaman penyalahgunaan narkotika.

TMMD juga menghadirkan pasar murah dan pembagian sembako bagi masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi warga.

Selama pelaksanaan TMMD, kebersamaan antara prajurit dan masyarakat tumbuh begitu erat. Prajurit tinggal bersama warga, makan bersama, bercengkerama, bahkan ikut membantu aktivitas masyarakat di luar pekerjaan pembangunan.

Pada malam hari, suasana desa terasa lebih hangat. Anak-anak berkumpul mendengarkan cerita para prajurit. Warga menikmati kopi sederhana sambil berbincang penuh keakraban. Tidak ada jarak antara tentara dan rakyat. Semua menyatu dalam suasana kekeluargaan yang tulus.

Dari situlah lahir kemanunggalan yang sesungguhnya. TMMD mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kekuatan senjata, tetapi juga pada persatuan, kepedulian, dan gotong royong antar sesama anak bangsa.

Dan ketika tiga puluh hari pengabdian itu mendekati akhir, masyarakat mulai menyadari bahwa desa mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Jalan mulai terbuka.

Rumah-rumah menjadi lebih layak. Air bersih mulai mengalir.

Semangat gotong royong kembali hidup dan harapan yang dahulu terasa jauh kini perlahan menjadi nyata. Pada Kamis, 21 Mei 2026, TMMD Reguler Ke-128 resmi ditutup melalui upacara di Lapangan Bolakaki Desa Alue Canang.

Upacara berlangsung penuh khidmat dan haru. Hadir dalam kegiatan tersebut Irdam Iskandar Muda Brigjen TNI Heri Purwanto, S.E., unsur Forkopimda, TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta warga Desa Alue Canang.

Di bawah langit cerah Alue Canang, deretan prajurit berdiri tegap. Sementara masyarakat memandangi mereka dengan rasa bangga dan haru yang sulit diungkapkan.

Dalam amanatnya, Brigjen TNI Heri Purwanto menegaskan bahwa TMMD merupakan bentuk sinergi nyata antara TNI, pemerintah daerah, Polri, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa serta memperkuat semangat gotong royong.

“Program ini bukan hanya membangun fisik desa, tetapi juga memperkuat rasa cinta tanah air, kebersamaan, dan kepedulian sosial demi kemajuan desa yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Sebagai Dansatgas TMMD Ke-128 Kodim 0104/Aceh Timur, saya menyadari bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu pihak semata. Keberhasilan TMMD lahir dari kebersamaan.

Ia lahir dari ketulusan masyarakat yang rela bergotong royong demi kemajuan desa. Ia lahir dari dukungan pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait. Ia lahir dari pengabdian para prajurit TNI yang bekerja dengan hati demi rakyat.

TMMD telah mengajarkan bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari desa kecil di pedalaman, dari jalan yang diperkeras, dari rumah yang kembali berdiri kokoh, dari air bersih yang mulai mengalir, dan dari senyum warga yang kembali merekah. Dan yang paling penting, dari harapan yang kembali hidup di hati masyarakat.

Desa Alue Canang hari ini mungkin masih sederhana. Namun dari desa inilah kita belajar bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan bangunan. Pembangunan sejati adalah tentang menghadirkan harapan bagi manusia.

TMMD Ke-128 memang telah usai. Prajurit akan kembali ke satuan masing-masing. Alat berat akan meninggalkan desa. Lapangan yang sempat ramai akan kembali tenang.

Namun jejak pengabdian itu akan tetap tinggal. Ia tinggal di jalan desa yang kini terbuka. Ia tinggal di rumah-rumah yang kembali menghadirkan kehangatan. Ia tinggal di sumber air yang mengalir membawa kehidupan.

Ia tinggal di langkah anak-anak menuju sekolah dan ia tinggal di hati masyarakat Alue Canang yang kini menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Pada akhirnya, membangun negeri bukan sekadar mendirikan bangunan. Membangun negeri adalah tentang menumbuhkan harapan, menjaga kebersamaan, dan memastikan bahwa setiap rakyat merasakan hadirnya negara.

Di sudut kecil pedalaman Aceh Timur bernama Alue Canang, harapan itu hari ini tumbuh dengan nyata. Di tanah yang dahulu sunyi, masa depan kini perlahan mulai bersinar. WASPADA.id

Penulis adalah Dansatgas TMMD Ke-128 Ta. 2026 Kodim 0104/Aceh Timur.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement