Merah Cabai, Hijau Harapan: Aceh Barat Menanam Kendali InflasiMerah Cabai, Hijau Harapan: Aceh Barat Menanam Kendali Inflasi

Di tanah Meulaboh yang basah oleh hujan tropis, sebaris harapan baru ditanam bersama benih cabai merah. Pada 19 Agustus 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh hadir bukan sekadar sebagai regulator moneter, melainkan sebagai sahabat petani yang sedang berjuang melawan inflasi dari ladang mereka sendiri.
Cabai merah, si kecil pedas yang kerap membuat dapur bergejolak, ternyata juga menjadi biang kerok inflasi tahunan di Aceh Besar. Harga yang melonjak, pasokan yang tersendat, membuat angka inflasi berdenyut tak terkendali. Di sinilah lahir Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), sebuah ikhtiar agar cabai tak lagi menjadi momok, melainkan berkah.
Bank Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menggandeng lima kelompok tani binaan: Sabee Hatee, Hudep Beusaree, Usaha Bersama, Rezeki Tani, dan Alue Bak Jok. Mereka bukan sekadar nama, melainkan wajah-wajah yang menggantungkan hidup pada tanah.
Para petani diajari cara membaca unsur hara tanah dengan alat Jinawi, agar pupuk tak lagi ditebar asal-asalan. Mereka dibekali ilmu tentang hama, penyakit, hingga manajemen keuangan usaha tani. “Kami ingin setiap rupiah yang keluar dari kantong petani benar-benar kembali dalam bentuk hasil panen yang sehat,” ujar Hafrizal, praktisi budidaya cabai merah, ditemani Andi Hidayat, konsultan pertanian Bank Indonesia.

Tak berhenti pada pelatihan, kegiatan ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama. Para petani berjanji mencatat keuangan dengan tertib, mendokumentasikan perkembangan budidaya, dan menjalankan rekomendasi teknis dengan disiplin. Komitmen itu ibarat kontrak moral: bahwa setiap bantuan harus kembali menjadi produktivitas, bukan sekadar angka di atas kertas.
Musthafa Umar, Asisten Analis BI Aceh, menegaskan harapan besar: “Sinergi ini bukan hanya untuk hari ini. Kami ingin Aceh Barat tumbuh sebagai sentra cabai merah yang kompetitif, menopang ketahanan pangan, sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.”
Cabai sebagai Simbol Ekonomi
Di balik pedasnya cabai, tersimpan filosofi ekonomi yang sederhana: stabilitas harga lahir dari tangan-tangan yang terampil dan tanah yang diolah dengan ilmu. Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan petani kini menanam bukan hanya cabai, melainkan juga kepercayaan bahwa pangan bisa menjadi benteng pertahanan ekonomi.
Aceh Barat, dengan ladang-ladang cabainya, sedang menulis bab baru dalam buku ekonomi daerah: bahwa inflasi bisa dikendalikan dari kebun, bahwa kesejahteraan bisa tumbuh dari tanah, dan bahwa merah cabai bisa berubah menjadi hijau harapan. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id).


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda