Merawat Ingatan, Melawan Amnesia Sejarah: Stand MAA sebagai Oase Ingatan di Tengah Pesta Seremonial


Di tengah riuh pesta perayaan 800 tahun Aceh Utara, panggung megah dan sorak sorai rakyat seakan menenggelamkan suara masa lalu. Namun, di salah satu deretan berdiri sebuah oase ingatan: stand Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara.
Di sanalah ribuan orang berhenti, seakan haus akan sejarah, lalu meneguk kembali air jernih dari sumur budaya indatu. Rapa’i ditabuh, baju adat berkilau, dan motif sakral pisang dua mu, pucok reubong, serta kande yang telah dipatenkan oleh Pemerintah Aceh Utara, memantulkan cahaya yang bukan sekadar estetika, melainkan simbol perlawanan terhadap amnesia sejarah.
Lebih dari 1.200 pengunjung memadati stand itu. Rapa’i menjadi magnet, mengikat generasi muda dengan ritme yang cair dan penuh semangat. Ale tunjang, meski sempat dianggap rumit, justru tampil memukau lewat demonstrasi langsung. Instrumen yang hampir terlupakan itu kembali hidup, menjadi pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Instruksi berpakaian adat dan berbahasa Aceh selama perayaan menjadi pemantik kesadaran kolektif. Stand MAA pun bertransformasi dari sekadar ruang pameran menjadi ruang kelas terbuka, tempat sejarah diajarkan dengan cara yang hidup.
Namun, Ketua MAA Aceh Utara, T. Idris Thaib mengingatkan: jika pelestarian adat hanya muncul setahun sekali, maka generasi muda akan tumbuh dalam kondisi “amnesia sejarah”—lahir di tanah Aceh, tetapi asing dengan warisan indatu.
“Alhamdulillah, sejak stand ini dibuka, banyak masyarakat dari lintas usia datang ke stand kami untuk mencari tahu informasi yang berkaitan dengana dat istiadat. Alhamdulillah kepadamereka kita jelaskan dengan detail hingga mereka memahaminya,” kata T. Idris Thaib kepada Waspada.id, Rabu (9/9/2026), seraya menyebutkan, keramaian di stand MAA Aceh Utara terlihat hingga malam hari.
Rekomendasi Program Konkret
Ketua Umum DPP-Persatuan Wartawan Aceh (DPP-PWA) menegaskan bahwa momentum ini harus dijadikan pijakan untuk gerakan berkelanjutan. Ia merekomendasikan agar MAA Aceh Utara menyiapkan program nyata yang menyentuh ruang pendidikan, ruang publik, dunia digital, hingga ekonomi kreatif.
“Kami dari DPP-PWA sangat menyarakan agar kegiatan seperti ini dapat diteruskan melalui berbagai program lainnya untuk merawat ingatan generasi muda dalam mengenala dat istiadatnya sendiri,” kata Ketua Umum DPP-PWA, Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I kepada Waspada.id.
Beberapa program yang ditawarkan itu yakni MAA Saweu Sikula – membawa rapa’i, ale tunjang, dan filosofi motif adat ke sekolah. Gerakan “Meubasa Aceh” – memperluas kebijakan berpakaian adat dan berbahasa Aceh menjadi agenda rutin mingguan. Panggung Budaya Berkala – pertunjukan seni tradisional sebulan sekali di pusat kota.
Selanjutnya, Digitalisasi Adat – produksi konten pendek di TikTok dan Instagram, dengan melibatkan “Duta Adat Muda Aceh Utara.” Dan, Pemberdayaan UMKM Pengrajin Lokal – lisensi bordir motif adat untuk pengrajin lokal agar pakaian adat lebih mudah diakses. “Merawat ingatan adalah melawan amnesia sejarah. Jika adat hanya dipamerkan setahun sekali, maka generasi kita akan kehilangan akar,” kata Maimun Asnawi.
Pantauan Waspada.id di lapangan, Selasa (8/9/2026) Stand MAA juga dikunjungi oleh orang nomor satu di kabupaten itu, Ayahwa. Stand MAA di HUT ke-800 Aceh Utara adalah bukti bahwa api kecintaan terhadap adat indatu belum padam. Kini tugas MAA bersama pemerintah daerah adalah menjaga agar api itu tetap menyala sepanjang tahun. Dengan program yang terstruktur dan adaptif, Aceh Utara bisa melahirkan generasi modern yang tetap kokoh berpijak pada akar sejarahnya. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda