MES Sumut dan BI Dorong Modernisasi UMKM Tahu Roki di Binjai, Ijeck: Target Model UMKM Syariah, Go NasionalMES Sumut dan BI Dorong Modernisasi UMKM Tahu Roki di Binjai, Ijeck: Target Model UMKM Syariah, Go Nasional

BINJAI (Waspada.id): Komitmen pemberdayaan ekonomi umat dari bawah terus diperkuat. Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Utara bersama Bank Indonesia (BI) melakukan pendampingan dan modernisasi produksi pada Kelompok Usaha Tahu Rumah Olahan Kedelai Indonesia (ROKI) di Kelurahan Sukaramai, Kota Binjai.
Kegiatan pendampingan tersebut dihadiri Ketua Umum Pengurus Wilayah MES Sumatera Utara Dr. H. Musa Rajekshah, S.Sos., M.Hum, yang juga Anggota Komisi V DPR RI, Plt Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, S.H., Ketua DPRD Kabupaten Langkat Sribana Perangin-angin, S.E., Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Imam Gunadi, perwakilan BAZNAS Sumatera Utara, serta pengelola Rumah Olahan Kedelai Indonesia (ROKI).
Dari Manual ke Mesin
Ketua Umum PW MES Sumut, Dr. H. Musa Rajekshah yang akrab disapa Ijeck, menegaskan kehadiran MES memang untuk mendorong ekonomi masyarakat melalui ekonomi syariah.
"Ya, kita tidak hanya dalam pembuatan ini ya. Dalam bentuk kemasyarakatan, MES hadir memang untuk mendorong ekonomi masyarakat melalui kegiatan ekonomi syariah. Kita mau tumbuh berkembangnya para kelompok masyarakat dengan kreativitas kumpulan-kumpulan produknya, seperti yang sekarang ini, tahu," ujar Ijeck.
Ia menjelaskan, modernisasi menjadi kunci peningkatan produktivitas. Berkat dukungan Bank Indonesia, proses produksi tahu yang sebelumnya manual kini telah beralih menggunakan mesin.
"Kebetulan kita pernah datang ke sini untuk mendorong para penggiat tahu, dan sekarang ini kita dibantu oleh Bank Indonesia untuk tidak menggunakan sistem manual lagi dalam bekerja. Ini sudah dengan mesin. Waktunya lebih cepat, kapasitasnya lebih besar untuk penghasilan tahunya, dan produksinya menjadi lebih cepat sehingga bisa segera dijual ke masyarakat. Tahu ini kan ada masa tahannya, maksimal dua hari. Jadi, dengan adanya mesin ini, proses 3 jam sudah selesai dan bisa di-packing untuk dijual ke masyarakat," jelasnya.
Dorongan Kemandirian Kedelai Lokal
Terkait bahan baku kedelai, Ijeck menyebut saat ini MES masih fokus pada hilirisasi produk olahan, namun upaya di sektor hulu sudah mulai dirintis oleh masyarakat setempat.
"Kalau tanaman kedelainya sendiri, kita belum masuk sampai ke proses tanamannya ya. Saat ini kita masih fokus untuk proses tahunya. Tapi saya lihat di sini, di belakang gedung ini, kelompok masyarakat sudah mulai mencoba menanam kedelainya," katanya.
Menurutnya, hal itu sejalan dengan arahan Presiden untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian pangan daerah.

"Mudah-mudahan ini bisa berhasil karena kita tahu saat ini kita masih impor kedelai karena kekurangan hasil. Bapak Presiden saat ini memang sedang mendorong agar bahan-bahan baku makanan atau produk-produk makanan itu tidak impor, dan bisa kita mandirikan di suatu daerah. Mudah-mudahan ke depan ini bisa mendapat dorongan dari pemerintah daerah dan bisa mendorong bagaimana petani-petani kedelai ini juga bisa semakin aktif dan masif lagi," ujarnya.
Peran Infrastruktur dan Komitmen BI
Dari sisi legislatif, Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah menegaskan pihaknya akan mendorong konektivitas infrastruktur untuk menopang produk-produk daerah.
"Kalau kami di Komisi V mitranya malah untuk infrastruktur ya. Tapi memang sekarang ini, baik pertanian maupun tempat-tempat hasil tani itu, kita sedang mendorong infrastruktur jalan harus lebih baik dan lebih mudah diakses. Tujuannya supaya ongkos angkutan itu lebih murah dan lebih cepat bisa mengeluarkan hasil-hasil tanaman atau produk-produk yang ada di daerah," tuturnya.
Sementara itu, Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Imam Gunadi menegaskan komitmen BI dalam pemberdayaan UMKM.
"Dari Bank Indonesia selalu berkomitmen kepada segenap lapisan masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat dari bawah. Kita membantu pengembangan UMKM sebagai bagian dari program nasional Bank Indonesia. Tentunya harapannya adalah dengan membantu dari bawah, pertumbuhan ekonomi di daerah itu bisa lebih kuat dan bisa lebih mandiri," kata Imam.
Harapan Go Nasional
Ijeck berharap pendampingan Tahu Roki tidak berhenti pada satu mesin saja, melainkan terus berkembang hingga mampu menembus pasar luar daerah.
"Saya harap tidak berhenti hanya sampai di sini ya. Saya harap dari kelompok penggiat Tahu Roki ini bisa berkembang lagi, tidak hanya satu mesin tapi beberapa mesin lagi, dan tidak hanya berhenti sampai batas produksi seperti ini. Kita mau ini tidak hanya menjangkau wilayah Binjai atau Medan, tapi bisa ke luar Sumatera Utara kalau memang memungkinkan ketahanan tahunya. Bisa diproduksi lebih banyak lagi nantinya," pungkasnya.
Program pemberdayaan Tahu Roki ini diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM berbasis syariah yang replikatif di Sumatera Utara, dari hulu pertanian kedelai hingga hilir produksi pangan olahan.(chen)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda