Milad 800 Tahun Samudera Pasai: “Garam Lancok dan Telur Bebek Asin di Panggung Kebudayaan dan Ekonomi Rakyat”

“Milad Samudera Pasai bukan sekadar pesta budaya, melainkan panggung di mana asin garam Lancok dan gurih telur bebek menjadi strategi ekonomi rakyat pesisir,”- Camat Bayu, Muslim Araly.
Pekan kebudayaan Milad 800 tahun Samudera Pasai bukan hanya perayaan sejarah kejayaan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Ia juga menjadi panggung ekonomi rakyat, tempat produk lokal pesisir Aceh tampil sebagai simbol ketahanan dan kreativitas. Di antara tarian tradisi dan pameran budaya, aroma asin telur bebek dan ikan olahan dari Kecamatan Syamtalira Bayu justru mencuri perhatian.
Garam Lancok: Warisan Alam yang Menjadi Modal Ekonomi
Kata Muslim Arali kepada Waspada.id, Sabtu (12/9/2026) sore, Pantai Lancok menghasilkan garam kampung dengan cara tradisional, dijemur di bawah terik matahari. Garam ini bukan sekadar bumbu, melainkan fondasi ekonomi pesisir. Ia menjadi bahan baku utama asinan yang dipamerkan di festival, sekaligus menghidupi keluarga yang menggantungkan hidup pada siklus produksi garam.
Namun, rantai produksi garam tradisional ini masih rapuh. Ketika musim hujan tiba, produksi menurun drastis. Di sinilah kebijakan daerah seharusnya hadir: mendukung teknologi pengolahan garam yang lebih tahan cuaca, memperkuat distribusi, dan memberi akses modal bagi petani garam. Dengan begitu, garam Lancok bisa naik kelas dari sekadar komoditas lokal menjadi identitas kuliner Aceh.
Telur Bebek Asin: UMKM yang Menjadi Primadona
Telur bebek asin dari Syamtalira Bayu laris manis di festival. Permintaan tinggi membuat produk ini habis setiap hari. Rantai produksinya melibatkan peternak bebek, pengolah garam, hingga ibu rumah tangga. Produk ini adalah contoh nyata UMKM yang tumbuh dari tradisi.

Pemerintah daerah dapat menjadikan telur bebek asin sebagai bagian dari program penguatan UMKM kuliner. Branding kuliner Aceh bisa diperluas dengan sertifikasi halal, kemasan modern, dan promosi digital. Dengan dukungan kebijakan, produk sederhana ini bisa menembus pasar nasional bahkan ekspor.
Selain asinan, festival juga menampilkan berbagai jenis kue tradisional seperti bhoi, keukarah, dan keripik. Produk ini adalah strategi diversifikasi ekonomi rumah tangga. Dengan modal kecil, ibu-ibu menghasilkan camilan yang langsung diserap pasar. Jika pemerintah memberi akses pelatihan dan jaringan distribusi, kue tradisional bisa menjadi bagian dari industri kreatif kuliner Aceh.
Milad 800 tahun Samudera Pasai adalah momentum. Ia menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya nostalgia sejarah, melainkan etalase ekonomi rakyat. Garam Lancok, telur bebek asin, dan kue tradisional adalah narasi ekonomi yang lahir dari budaya, bertahan di pasar, dan menghidupi keluarga. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I













Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda