Breaking News
Memuat breaking news...

Minyak Dunia Melambung, Selat Hormuz Masih Tak Pasti

Redaksi
Redaksi
Senin, 10 Agustus 2026 - 10.06 AM WIB
Minyak Dunia Melambung, Selat Hormuz Masih Tak Pasti
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali melambung pada perdagangan Senin (10/8/2026), di tengah ketidakpastian mengenai rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman minyak dunia.

Kenaikan harga terjadi setelah Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru telah memasuki tahap akhir. Namun, pembukaan kembali jalur strategis tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan lain, termasuk dari Amerika Serikat (AS).

Mengutip Channel News Asia, harga minyak mentah Brent naik US$1,20 atau 1,44 persen menjadi US$84,79 per barel pada pukul 22.06 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,12 atau 1,08 persen menjadi US$79,29 per barel.

Harapan Pembukaan Hormuz Belum Cukup

Kedua harga acuan minyak tersebut sebelumnya anjlok lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu. Penurunan dipicu harapan Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis bagi pengangkutan pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi sekaligus meningkatkan premi risiko di pasar minyak global.

Iran pada Minggu menyatakan kesepakatan dengan Oman telah memasuki "tahap akhir". Namun, Teheran menegaskan jalur perairan tersebut baru akan dibuka setelah Washington memenuhi sejumlah persyaratan.

Salah satu tuntutan Iran adalah pemberian kompensasi dari AS atas serangkaian serangan yang terjadi.

"Para pelaku pasar sudah terbiasa dengan dinamika negosiasi yang sering kali maju-mundur dan kini menantikan bukti nyata, seperti pergerakan kapal tanker yang terverifikasi atau kesepakatan resmi, sebelum mereka lebih jauh mengurangi premi risiko," ujar Analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap hati-hati pasar. Pelaku pasar masih menunggu bukti konkret sebelum benar-benar menghapus risiko gangguan pasokan dari harga minyak.

Iran-AS Belum Berunding

Ketidakpastian juga diperkuat pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menyebut Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan.

Teheran juga menegaskan tidak akan memulai perundingan selama Washington dinilai melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.

Situasi tersebut membuat pasar minyak masih dibayangi risiko geopolitik, terutama karena belum ada kepastian mengenai kapan Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara normal.

Fasilitas Minyak Saudi Diserang

Ancaman terhadap pasokan minyak global juga meningkat setelah sebuah fasilitas minyak milik Arab Saudi diserang pada akhir pekan lalu.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan. Kerja sama tersebut menjadi respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat perang antara AS-Israel melawan Iran yang berhaluan Syiah.

Di sisi lain, ancaman terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga dilaporkan oleh perusahaan energi Uni Emirat Arab, ADNOC.

Perusahaan tersebut pada Jumat mengungkapkan bahwa 15 kapal miliknya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik bermula.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak global masih menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menekan harga, tetapi ketidakpastian negosiasi serta meningkatnya serangan terhadap fasilitas dan kapal energi dapat kembali mengangkat premi risiko minyak.

Perkembangan selanjutnya terkait pembukaan Selat Hormuz dan konflik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting yang akan menentukan arah harga minyak dunia dalam perdagangan berikutnya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement