Breaking News
Memuat breaking news...

Minyak Mentah Menumpuk di Amerika, Eropa dan Asia Berebut Pasokan

Redaksi
Redaksi
Rabu, 14 Oktober 2026 - 6.50 AM WIB
Minyak Mentah Menumpuk di Amerika, Eropa dan Asia Berebut Pasokan
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Pasar minyak global menghadapi ketidakseimbangan pasokan setelah minyak mentah berat (dense heavy crude) menumpuk di kawasan Amerika akibat lonjakan biaya pengiriman dan keterbatasan kapasitas kilang di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat pembeli di Asia dan Eropa semakin kesulitan mendapatkan pasokan, di tengah harga acuan minyak dunia yang menembus US$100 per barel.

Melansir CNA, Selasa (13/10/2026), penumpukan minyak mentah di Amerika Utara dan Selatan telah memicu perpecahan di pasar energi global. Ketika pasokan tertahan di Benua Amerika, kilang-kilang di Asia dan Eropa justru berupaya mengamankan minyak untuk memenuhi kebutuhan pengolahan.

Dengan asumsi kurs Rp17.920 per dolar AS, harga minyak US$100 per barel setara sekitar Rp1,79 juta.

Minyak mentah berat menjadi incaran kilang di berbagai kawasan karena harganya relatif lebih murah dibandingkan minyak mentah ringan. Jenis minyak ini juga dapat menghasilkan lebih banyak diesel sehingga memberikan peluang margin pengolahan yang lebih baik, terutama ketika biaya pengangkutan masih terjangkau.

Namun, lonjakan ongkos pengiriman dan keterbatasan kemampuan kilang AS untuk menyerap tambahan pasokan membuat minyak tersebut sulit bergerak menuju pasar yang membutuhkan.

Pakar energi TP ICAP, Scott Shelton, menilai biaya pengiriman menjadi salah satu persoalan utama yang menghambat keseimbangan pasar minyak global.

Venezuela, AS, dan Kanada memproduksi minyak dalam jumlah yang melampaui konsumsi domestik sehingga ekspor ke Asia berpotensi membantu menyeimbangkan pasokan. Akan tetapi, tingginya biaya pengangkutan membuat peluang tersebut semakin sulit direalisasikan.

Di tengah melonjaknya harga diesel di AS, minyak mentah berat yang tertahan seharusnya menarik minat pembeli karena dapat menghasilkan lebih banyak diesel dibandingkan minyak mentah yang lebih ringan. Namun, menurut para analis dan pedagang, kilang-kilang di Pantai Teluk AS telah membeli minyak sebanyak yang mampu mereka olah.

Sementara itu, ekspor minyak Venezuela meningkat sejak AS menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro pada Januari dan mendorong pembangunan kembali sektor minyak negara tersebut. Arus ekspor Kanada juga mencapai rekor, sedangkan Washington telah melepas lebih dari 130 barel dari persediaan daruratnya, sebagaimana disebutkan dalam laporan tersebut.

Biaya Kapal Tanker Melonjak, Pengiriman ke Asia Tembus US$80 Juta

Lonjakan biaya transportasi laut menjadi faktor penting yang mempersempit aliran perdagangan minyak mentah global. Biaya sewa kapal tanker raksasa dari Pantai Teluk AS menuju Asia telah meningkat lebih dari lima kali lipat sejak Februari.

Kenaikan tersebut terjadi ketika aktivitas pemindahan muatan antarkapal di Teluk Oman menyebabkan kapal-kapal di berbagai kawasan tertahan dan mengganggu ketersediaan armada.

"Kapal itu dibutuhkan dan harganya semakin naik, serta ketersediaan kapal mulai merosot," kata Shelton.

Mahalnya biaya pengiriman membuat minyak mentah berat dari Amerika kehilangan sebagian daya tarik harganya bagi pembeli di luar kawasan tersebut. Akibatnya, minyak yang seharusnya dapat diekspor justru tertahan di negara produsen.

Data lembaga pelaporan harga Argus Media menunjukkan harga sejumlah minyak mentah berat andalan Kanada, Kolombia, dan Ekuador turun lebih dari US$10 per barel dan berada pada level terendah dalam enam minggu terakhir.

Harga Western Canada Select, di luar biaya pengiriman dan asuransi, berada di kisaran US$74 per barel pada Kamis. Sementara itu, minyak Vasconia dari Kolombia diperdagangkan sekitar US$84 per barel dan Oriente dari Ekuador sekitar US$76 per barel.

Adapun harga minyak mentah Venezuela sebelum biaya pengiriman berada di sekitar US$74,50 per barel pada Kamis, menurut dua pedagang.

Dengan demikian, harga minyak di negara produsen tidak sepenuhnya mencerminkan biaya yang harus ditanggung pembeli hingga minyak tiba di lokasi tujuan. Ongkos angkut yang meningkat tajam menjadi komponen tambahan yang dapat mengubah perhitungan ekonomi kilang.

Menurut Georgios Sakellariou, analis Signal Maritime, biaya pengiriman menggunakan kapal tanker raksasa dari Pantai Teluk AS menuju Eropa diperkirakan mencapai sekitar US$46 juta atau Rp824,4 miliar pada pekan sebelumnya.

Biaya tersebut setara sekitar US$24,50 per barel, termasuk ongkos pemindahan muatan antarkapal dan biaya lainnya. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$6,5 juta atau US$4 per barel sebelum perang Iran meletus pada akhir Februari.

Untuk rute Amerika menuju Asia, biaya pengiriman dengan kapal tanker bahkan meningkat menjadi lebih dari US$80 juta atau sekitar Rp1,4 triliun pada pekan sebelumnya. Biaya tersebut setara sekitar US$40 per barel, dibandingkan kisaran US$10 juta hingga US$15 juta pada awal tahun.

Kilang AS Hampir Penuh, Minyak Berat Sulit Diserap

Selain mahalnya ongkos pengiriman, kapasitas pengolahan kilang di AS turut membatasi penyerapan minyak mentah berat yang tersedia.

Menurut Energy Information Administration (EIA), kilang-kilang minyak AS beroperasi pada tingkat utilisasi 93,5% setiap minggu sepanjang tahun ini. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam 28 tahun terakhir, seiring upaya industri mengolah minyak sebanyak mungkin untuk memperoleh keuntungan dari tingginya harga diesel.

Meski sejumlah kilang di AS dirancang untuk mengolah minyak mentah berat, kemampuan tersebut tetap memiliki batas. Kilang hanya dapat memproses persentase tertentu dari kapasitas totalnya untuk jenis minyak dengan karakteristik tertentu.

Pasokan tambahan dari Venezuela dan AS telah mendorong tingkat utilisasi unit coker di kilang-kilang AS mendekati kapasitas maksimum. Unit ini berfungsi mengolah residu minyak mentah menjadi bahan baku untuk produksi diesel dan bensin.

Minyak mentah yang lebih berat membutuhkan kapasitas pengolahan coker yang lebih besar. Ketika unit tersebut mendekati batas operasional, kilang tidak bisa terus meningkatkan volume pengolahan meskipun minyak tersedia dalam jumlah besar.

Selain itu, banyak kilang di AS dirancang untuk mengolah minyak mentah lepas pantai Teluk Meksiko, seperti Mars Sour. Sementara itu, minyak dari Kanada dan Venezuela perlu dicampur dengan bahan baku yang lebih ringan agar sesuai dengan kebutuhan pengolahan kilang tertentu.

Kombinasi keterbatasan kapasitas kilang dan tingginya ongkos angkut akhirnya membuat pasokan minyak mentah berat tertahan di Amerika.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa melimpahnya produksi tidak selalu menjamin pasokan dapat segera menjangkau pasar yang membutuhkan. Di tengah harga minyak yang tinggi, biaya logistik, ketersediaan kapal tanker, dan kapasitas pengolahan menjadi faktor penentu kelancaran perdagangan energi global. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement