Breaking News
Memuat breaking news...

Minyak Tembus US$100, Purbaya Pastikan APBN Masih Aman

Redaksi
Redaksi
Jumat, 11 September 2026 - 7.18 AM WIB
Minyak Tembus US$100, Purbaya Pastikan APBN Masih Aman
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki ruang untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel.

Purbaya mengatakan, pemerintah telah memperhitungkan risiko kenaikan harga minyak dalam perencanaan fiskal. Karena itu, kondisi tersebut dinilai belum menjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan APBN.

"Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/9).

Meski harga minyak dunia kembali melonjak, pemerintah belum berencana menambah kuota subsidi energi. Purbaya menegaskan pemerintah masih akan mencermati perkembangan harga minyak sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut.

"Belum (ada rencana menambah kuota subsidi). Kita harus pantau terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi," ujar Purbaya saat ditanya mengenai kemungkinan penambahan kuota subsidi energi.

Menurut Purbaya, perhitungan fiskal pemerintah sebelumnya telah menggunakan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel. Dengan asumsi tersebut, defisit APBN dipatok sebesar 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Dengan asumsi pada waktu itu kan 2,85 persen itu asumsi US$100 per barel. Walaupun diturunkan sedikit, kan rata-rata sekarang masih di bawah US$90 kalau tidak salah harga minyak dunianya yang kita bayar untuk asumsi APBN. Jadi, masih ada ruang," jelasnya.

Ia menilai pemerintah memiliki pengalaman menghadapi periode harga minyak tinggi. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak saat ini belum perlu direspons dengan kekhawatiran berlebihan.

"Seandainya naik ke level yang sekarang dan bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi jangan terlalu khawatir. Kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3 persen," terangnya.

Purbaya juga menyebut kondisi fiskal Indonesia saat ini masih relatif terjaga. Ia mengatakan defisit APBN hingga Juli-Agustus masih berada di bawah 1 persen.

Daya Beli Masyarakat

Di sisi lain, Purbaya menilai kenaikan harga minyak dunia belum akan langsung memberikan tekanan besar terhadap daya beli mayoritas masyarakat. Hal ini karena pemerintah masih mempertahankan subsidi untuk jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu.

"Kalau di-absorb di APBN kan enggak. Sebagian mungkin yang Pertamax yang nggak bersubsidi akan terkena. Tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu. Yang umum yang pakai Pertalite masih disubsidi," ujarnya.

Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9). Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin parah akibat eskalasi serangan Iran dan Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen menjadi US$101,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$96,55 per barel atau naik 0,5 persen. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement