Breaking News
Memuat breaking news...

Moody's: Ekonomi AS Mulai Melambat, Suku Bunga Tinggi Jadi Biang Kerok

Redaksi
Redaksi
Senin, 5 Oktober 2026 - 5.42 PM WIB
Moody's: Ekonomi AS Mulai Melambat, Suku Bunga Tinggi Jadi Biang Kerok
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan akibat kebijakan suku bunga tinggi. Kepala Ekonom Moody's Mark Zandi menilai dampak kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) mulai terasa di berbagai sektor ekonomi.

Sebelumnya, Zandi telah memperingatkan bahwa keputusan The Fed menaikkan suku bunga merupakan kesalahan kebijakan yang serius. Kini, setelah suku bunga kembali naik dan kenaikan lanjutan masih diperkirakan terjadi, kekhawatiran tersebut mulai terlihat dalam kondisi ekonomi AS.

"Saya pikir ekonomi akan mulai melambat akibat kenaikan suku bunga ini," kata Zandi kepada Yahoo Finance, dikutip Senin (5/10/2026).

Menurut Zandi, tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari kenaikan suku bunga acuan The Fed. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury tenor panjang juga ikut meningkat dan berdampak langsung terhadap biaya pinjaman.

Yield Treasury 10 tahun tercatat naik ke 5,22% pada Senin, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 20 tahun pada pekan lalu.

Kenaikan biaya pinjaman juga terlihat dari suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) tenor 30 tahun yang bertahan di level 7,5%. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak musim semi 2024 dan semakin membebani masyarakat yang ingin membeli properti menggunakan kredit.

Nasib Ekonomi AS Bergantung pada Lamanya Suku Bunga Tinggi

Zandi menilai durasi suku bunga tinggi akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar tekanan terhadap ekonomi AS.

Jika suku bunga tinggi hanya bertahan selama beberapa bulan, konflik di Iran berakhir, harga minyak kembali turun, dan The Fed tidak melanjutkan kenaikan suku bunga, dampaknya terhadap perekonomian dinilai masih dapat dikendalikan.

"Tapi jika ini berlangsung jauh lebih lama dari itu dan berlanjut hingga tahun depan, saya pikir ekonomi akan benar-benar mulai kesulitan," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut muncul ketika pasar justru mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan. Pasar memperkirakan tiga hingga empat kali kenaikan tambahan dalam setahun ke depan, dengan salah satunya berpotensi terjadi pada tahun ini.

The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75-4% pada 16 September lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun.

Kebangkrutan Korporasi Mengintai

Zandi memperingatkan, apabila ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga benar-benar terwujud, tekanan terhadap dunia usaha dapat semakin besar. Gelombang kebangkrutan korporasi berpotensi terjadi karena banyak perusahaan dengan utang besar selama ini masih mampu bertahan berkat perpanjangan jatuh tempo utang oleh pemilik ekuitas swasta.

Suku bunga tinggi dalam waktu lama juga berpotensi menekan rumah tangga yang memiliki utang kartu kredit maupun pinjaman berbasis ekuitas rumah.

Namun, perusahaan teknologi yang tengah menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat.

Perusahaan-perusahaan teknologi besar disebut memiliki margin keuntungan yang cukup tinggi sehingga masih mampu menyerap kenaikan biaya pinjaman untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI.

"AI berjalan dengan dinamikanya sendiri, dan ekspektasi laba masa depan cukup tinggi. Jadi selama itu berlanjut, perusahaan teknologi besar akan mampu membayar suku bunga ini plus lebih banyak lagi, dan itu tidak akan banyak merusak," kata Zandi.

Yield Obligasi Dibayangi Ketidakpastian

Zandi juga menyoroti kenaikan yield obligasi pemerintah AS jangka panjang. Menurutnya, lonjakan yield tidak semata-mata mencerminkan kuatnya pertumbuhan ekonomi AS seperti yang dipandang sebagian pejabat The Fed.

Ia justru melihat gesekan geopolitik dan ketidakpastian pasar sebagai salah satu faktor yang mendorong kenaikan yield.

Ketiadaan panduan kebijakan ke depan dari Ketua The Fed juga dinilai membuat investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk menghadapi ketidakpastian arah kebijakan moneter berikutnya.

Risiko lain yang mulai menjadi perhatian adalah pertarungan batas utang AS yang diperkirakan kembali membayangi musim gugur tahun depan.

Jika pemilu sela menghasilkan pemerintahan terbelah, kondisi tersebut berpotensi menciptakan kebuntuan politik yang dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar obligasi.

Meski demikian, Zandi tidak memperkirakan kenaikan suku bunga tinggi secara otomatis akan memicu keruntuhan mendadak di pasar saham yang saat ini masih berada dalam kondisi kuat.

"Kenaikan suku bunga itu bersifat korosif terhadap valuasi. Ini bukan peristiwa jatuh tiba-tiba," katanya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement