MS Kaban: Pangan Global Butuh Bukti Kebun, Bukan Cuma Nostalgia 80 Tahun


JAKARTA (Waspada.id) : MS Kaban menegaskan Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) harus segera kembali ke akar gerakan pertanian untuk menjawab tantangan krisis pangan global dan menjadi pemain kunci di tanah air.
“Zaman sudah berubah, mari kita kembali ke pertanian,” tegas mantan Ketua Badan Kehormatan Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) dalam pernyataan mendasarnya pada acara peringatan 80 tahun SITI di Gedung Menara Dakwah, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu I di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009, Kaban di hadapan jajaran aktivis STII dari berbagai daerah mengingatkan bahwa dinamika peradaban telah bergeser dari benturan ideologis masa lalu ke arah ancaman kelangkaan pangan dunia yang kian nyata.
Secara de jure dan sosiogeografis Indonesia masih diidentifikasi sebagai negara agraris, namun dengan catatan bahwa strukturnya sedang bergeser menuju negara industri dan jasa.
“Ini tantangan sekaligus peluang,” kata Kaban seraya menunjuk potensi komoditas strategis seperti kelapa sawit yang perlu digarap secara optimal oleh para kader.
Pergeseran struktur ekonomi tersebut, menurut Kaban, tidak boleh melunturkan fondasi agraris Indonesia yang menjadi tiang utama kedaulatan bangsa.
Untuk menggambarkan besarnya eskalasi kebutuhan pangan dunia, Kaban menyoroti gabungan populasi China dan India yang mencapai 2,89 miliar jiwa atau sekitar 35 persen penduduk bumi.
Estimasi Worldometer yang bersumber dari PBB menyebut penduduk India pada 2026 mencapai 1.476.625.576 jiwa, sementara China 1.412.914.089 jiwa. Bila dijumlahkan, keduanya sekitar 2,89 miliar jiwa, atau kurang lebih 35 persen penduduk bumi.
Angka raksasa estimasi Worldometer yang bersumber dari PBB itu membuktikan betapa krusialnya pemenuhan pasokan pangan harian di tingkat global.
“STII harus menjadi kekuatan dunia,” tegas Kaban, sembari menyerukan perlunya dorongan dan dukungan penuh dari pemerintah bagi gerakan petani nasional.
Namun, Kaban menutup orasinya dengan otokritik tajam mengenai keberadaan titik-titik sentra produksi STII di lapangan saat ini.
"Pembuktian peran sebagai kunci kekuatan pangan global tidak cukup diukur dari catatan sejarah atau perayaan delapan dekade, melainkan harus dijawab dengan ketersediaan lahan produktif, kebun yang terkelola, serta hasil panen nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat," kata MS Kaban. (id89)
Berita Terkait




































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda