Muara Ujung Serangga Dangkal, Nelayan Abdya Terancam Kehilangan PenghasilanMuara Ujung Serangga Dangkal, Nelayan Abdya Terancam Kehilangan Penghasilan

BLANGPIDIE (Waspada.id): Aktivitas puluhan nelayan di kawasan Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kembali terganggu.
Mulut Muara Ujung Serangga, yang berulang kali tertutup endapan pasir, mengakibatkan perahu nelayan kesulitan keluar-masuk menuju laut.
Kondisi tersebut bukan sekadar menghambat aktivitas melaut, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, serta kerusakan perahu dan perlengkapan tangkap, yang menjadi modal utama nelayan untuk mencari nafkah.
Nelayan setempat, Amran, Sabtu (22/8) mengatakan, persoalan pendangkalan dan tertutupnya mulut muara sudah berlangsung berulang kali. Sedimentasi yang terbawa gelombang laut, membentuk hamparan pasir sepanjang lebih dari 50 meter, hingga mendekati bibir pantai, dengan ketebalan di beberapa bagian mencapai sekitar satu meter.
Akibatnya, nelayan harus mengerahkan tenaga secara gotong royong, untuk menarik atau mendorong perahu melewati jalur muara yang dangkal.
Situasi paling berisiko terjadi ketika perahu berhadapan dengan gelombang saat melewati mulut muara. Perahu yang sarat dengan peralatan dan hasil tangkapan, menjadi sulit dikendalikan, sehingga rawan rusak bahkan terbalik. “Sudah berulang kali kami keruk secara manual, tetapi kembali tertutup. Aliran muara juga semakin dangkal, sehingga menyulitkan nelayan hilir mudik,” kata Amran.
Menurut dia, persoalan tersebut menyebabkan sebagian nelayan terpaksa menunda keberangkatan, karena kondisi muara tidak memungkinkan untuk dilalui. Sementara nelayan yang tetap memaksakan diri melaut, harus menghadapi risiko lebih besar, saat membawa perahu keluar maupun kembali ke daratan.
Tidak jarang, lanjut Amran, bekal dan hasil tangkapan ikan berhamburan, ketika perahu dihantam ombak. Sejumlah perlengkapan seperti mesin, lampu penerang, jaring, aki dan peralatan lainnya, juga berpotensi mengalami kerusakan. “Kalau perahu rusak, kami harus mengeluarkan biaya lagi untuk memperbaikinya. Padahal penghasilan kami sangat bergantung dari hasil melaut,” ujarnya.
Amran menyebutkan, persoalan sedimentasi tidak hanya terjadi di bagian pintu masuk muara. Aliran Muara Ujung Serangga dari kawasan hulu Desa Baharu, hingga ke kawasan hilir Ujung Serangga, Desa Kedai Susoh, juga semakin dangkal.
Kondisi tersebut mempersempit ruang gerak perahu, juga membuat nelayan kesulitan membawa perahu menuju laut. Bahkan, pada kondisi tertentu, nelayan memilih tidak melaut, karena khawatir perahu mengalami kerusakan saat melewati jalur muara.
Selama ini, kata Amran, nelayan berupaya melakukan pengerukan secara swadaya dengan peralatan seadanya. Namun, langkah tersebut hanya bersifat sementara, karena material pasir kembali terbawa arus dan gelombang, sehingga menutup jalur yang telah dibuka. “Pengerukan manual tidak mungkin menjadi solusi setiap saat. Kami membutuhkan penanganan yang lebih permanen, agar masalah ini tidak terus berulang,” katanya.
Ia mengatakan persoalan pendangkalan Muara Ujung Serangga, sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah di tingkat kabupaten. Namun, hingga kini nelayan belum melihat adanya penanganan berupa pengerukan atau normalisasi, yang mampu mengatasi persoalan tersebut secara menyeluruh.
Para nelayan berharap, pemerintah segera turun tangan melakukan kajian dan normalisasi, baik pada bagian mulut muara maupun alur muara yang mengalami pendangkalan.
Menurut mereka, akses muara yang kembali terbuka dan aman akan sangat membantu nelayan kecil mempertahankan mata pencaharian sekaligus mengurangi risiko kerusakan perahu dan perlengkapan saat melaut. “Kami berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi nelayan kecil. Kalau muara dinormalisasi, kami bisa lebih leluasa keluar-masuk dan mencari nafkah di laut,” ujar Amran.(id82)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda