MUI Kota Medan Gelar Muzakarah AI, Ingatkan Kemajuan Teknologi Jangan Abaikan Nilai Etika


MEDAN (Waspada.id): Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan melalui Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Infokomdigi) MUI Kota Medan, menggelar acara muzakarah dengan tema “AI Makin Pintar, Kita Jadi Apa?”, di Aula kantor MUI Kota Medan Jalan Nusantara Medan, Sabtu (24/10).
Hadir sebagai narasumber Ketua Umum MUI Kota Medan, Dr Hasan Matsum, MAg, Bendahara MUI Kota Medan yang juga Anggota DPRD Kota Medan, Afif Abdillah, SE dan anggota Infokomdigi MUI Kota Medan yang juga Produser Program DAAI TV, Zen Setia, S.H. Acara diramaikan dengan 100 peserta dari mahasiswa di berbagai universitas di Kota Medan, pelajar, masyarakat setempat dan pengurus Komisi Infokomdigi MUI Kota Medan, Sugiatmo, MA, Hj Sri Wahyuni Naibaho, Irham Azmi, S.PdI, Iin Prasetyo, S.E, ME, Ahmad Faiz Nirwan Siregar, S.H, Ditanty Chicha, S.H, Nurdalillah Harahap, S.H, MH, dan Rubianto, M.Kom.

Dalam paparannya, Hasan Matsum, mengingatkan generasi muda agar bijak menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan etika, moral, kejujuran, dan tanggung jawab.
“AI ini hanya kita gunakan sebagai alat bantu. Setelah datanya kita dapat, kita analisis lagi. Jangan data mentah itu kita terima lalu kita jadikan produk jadi,” tegas Hasan Matsum.
Menurutnya, AI bekerja melalui algoritma dengan mengolah data berdasarkan probabilitas untuk menghasilkan informasi. Namun, hasilnya tidak selalu benar dan tidak dapat menggantikan pertimbangan moral, emosional, serta spiritual manusia.
Ia mencontohkan, AI dapat keliru mencantumkan sumber hadis, termasuk nama kitab atau perawinya. Karena itu, informasi keagamaan yang dihasilkan AI harus diperiksa kembali melalui sumber yang dapat dipercaya sebelum digunakan atau disebarluaskan.
Menurut Hasan, kemampuan meneliti dan memverifikasi informasi merupakan bagian penting dari etika keilmuan. Pengguna tidak boleh sekadar menerima hasil AI karena bahasanya terlihat meyakinkan.

“Untuk mahasiswa dan pelajar manfaatkan lah AI untuk membantu proses belajar dan pembuatan konten, termasuk konten dakwah, tanpa mengabaikan tanggung jawab atas informasi yang dihasilkan. Pemanfaatan teknologi perlu diimbangi pembentukan karakter,” imbuhnya.
Sementara Anggota DPRD Kota Medan, Afif Abdillah, mengingatkan peserta agar tidak bergantung sepenuhnya pada AI dalam mengerjakan tugas maupun mempersiapkan masa depan.
“Kemajuan teknologi itu harus dimanfaatkan dalam mengembangkan kemampuan diri, bersikap jujur, serta melakukan riset terhadap cita-cita dan profesi yang ingin ditekuni agar mampu bersaing,” ucapnya.
Ia menyoroti kebiasaan menggunakan AI untuk mengerjakan tugas akademik tanpa mengolah dan memahami kembali hasilnya. Padahal, kejujuran dan kemauan memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam membangun karakter generasi muda.
Dilanjutkan Ketua DPD Partai Nasdem Kota Medan ini, nilai kejujuran, kemanusiaan, dan tanggung jawab perlu menjadi landasan dalam memanfaatkan teknologi maupun menyebarkan informasi. Kemajuan teknologi, harus berjalan seiring dengan penguatan karakter.
“AI boleh semakin pintar, tetapi etika, kejujuran, dan nilai-nilai Pancasila tidak boleh ditinggalkan,” tuturnya.
Narasumber selanjutnya, Zen Setia, dengan membawa tema “Jangan Cuma Jadi Pengguna, Jadikan AI Modal Berkarya”, menyatakan, pemanfaatan AI harus dapat mendukung kreativitas dan produktivitas. Karena AI dapat membantu proses pengembangan ide, produksi konten, penyusunan materi komunikasi, hingga berbagai pekerjaan kreatif, selama hasilnya tetap diperiksa dan digunakan secara bertanggung jawab.

“Teknologi AI dapat menjadi sarana untuk mengembangkan karya dan meningkatkan efektivitas proses produksi. Pemanfaatan teknologi dalam industri media juga menuntut ketelitian, kreativitas, serta komitmen terhadap akurasi dan tanggung jawab kepada publik,” ungkapnya.
Sebelumnya Ketua Komisi Infokomdigi, Ustadz H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc menjelaskan, melalui muzakarah ini, MUI Kota Medan diharapkan dapat memperkuat ruang dialog antara ulama, pemangku kebijakan, praktisi media, dan masyarakat mengenai perkembangan teknologi. Pendekatan lintas perspektif tersebut penting agar pemanfaatan AI tidak hanya berorientasi pada kemudahan dan kecepatan, tetapi juga memperhatikan aspek etika, tanggung jawab sosial, serta kepentingan bangsa.
“Kecanggihan teknologi harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan manusia. Masyarakat tidak cukup hanya memahami cara menggunakan AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai kebenaran informasi, menjaga integritas, dan memanfaatkan teknologi bagi kepentingan yang lebih luas,” pungkasnya.(wsp.id)
Berita Terkait

































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda