Breaking News
Memuat breaking news...

MUI Padangsidimpuan Bekali Generasi Muda Mampu Berdakwah di Era Digital

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 3 Oktober 2026 - 5.33 PM WIB
MUI Padangsidimpuan Bekali Generasi Muda Mampu Berdakwah di Era Digital
Ketua MUI Kota Padangsidimpuan, Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, Wakil Ketua MUI Drs. Samsuddin Pulungan, MA, dan Bendahara H. Rawadi Daulay, SE, foto bersama dengan peserta pelatihan, Sabtu (3/10/2026). Waspada.id/Mohot Lubis.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

P. SIDIMPUAN (Waspada.id): DP Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padangsidimpuan membekali generasi muda tentang teknik dan indikator keberhasilan dalam berdakwah melalui pelatihan Dai dan Daiyah yang digelar selama dua hari (3–10 Oktober 2026) di Aula Kantor MUI, Jl. HT. Rizal Nurdin, Palampat, P. Sidimpuan.

Pelatihan yang dibuka Ketua MUI Kota Padangsidimpuan, Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, Sabtu (3/10/2026), merupakan bagian dari upaya MUI Padangsidimpuan dalam mendorong generasi muda mampu menjadi Dai dan Daiyah yang andal di masa yang akan datang.

Sebagai pemateri dalam kegiatan yang bertema “Optimalisasi Media Digital sebagai Sarana Syiar Islam di Masa Kini”, Komisi Dakwah MUI Kota Padangsidimpuan menghadirkan dua orang pemateri dari UIN Syahada Padangsidimpuan, yakni Dr. Hj. Fauziah Nasution, M.Ag., dan Alexsandra Pane, S.Sos.

Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Padangsidimpuan, Drs. H. Syahid Muammar Pulungan, SH, yang juga sebagai ketua panitia pelatihan, mengatakan penguatan kompetensi calon dai dan daiyah tersebut diikuti utusan dari siswa MAN dan santri pondok pesantren se-Kota P. Sidimpuan.

Syahid Muammar menegaskan bahwa keberhasilan dalam dakwah tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh metode dan cara pendakwah menyampaikan materi kepada masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media digital.

Menurutnya, Alquran telah memberikan prinsip-prinsip dalam berdakwah, antara lain menyampaikan hikmah, mengajak kepada Allah, menyampaikan sesuatu yang diketahui, menggunakan perkataan yang lembut, serta menghindari perdebatan yang tidak produktif.

Ketua MUI Kota Padangsidimpuan, Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, yang juga sebagai pemateri pertama dalam pelatihan calon dai dan daiyah tersebut, menjelaskan bahwa berdakwah dalam ajaran agama Islam merupakan kegiatan menyeru manusia untuk beriman dan taat kepada Allah agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dasar hukum pelaksanaan dakwah dalam Alquran, ucapnya, sebagaimana tertuang dalam QS An-Nahl ayat 125 yang isinya perintah menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan debat yang santun.

Kemudian, juga tertuang dalam QS Ali 'Imran ayat 104 yang artinya kewajiban adanya golongan yang menyeru pada kebaikan, amar makruf nahi mungkar. Selanjutnya, dalam QS Fussilat ayat 33, yakni penegasan bahwa perkataan terbaik adalah perkataan orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh.

Sedangkan dasar hukum dakwah dalam hadis, yakni sebagaimana diriwayatkan Bukhari Muslim yang artinya, "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya."

Menurutnya, dakwah di era digital tidak cukup hanya terdengar di telinga. Pesan Islam harus mampu menembus hati dan melahirkan perubahan perilaku. Karena itu, calon dai dan daiyah dituntut menguasai media digital sekaligus memiliki landasan ilmu agama yang kuat.

Dr. Hj. Fauziah Nasution, M.Ag., dari UIN Syahada P. Sidimpuan saat memberikan pencerahan kepada peserta pelatihan dai dan daiyah di Aula Kantor MUI, Jl. HT. Rizal Nurdin, Palampat, P. Sidimpuan, Sabtu (3/10/2026). Waspada.id/Mohot Lubis.

Dr. Hj. Fauziah Nasution, M.Ag., Kepala Prodi Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Syahada P. Sidimpuan, sebagai pemateri kedua memberikan penguatan kepada peserta pelatihan, seperti mengenai aktivitas yang diwajibkan dilakukan agar hati tetap terjaga, yakni salat malam.

Berdasarkan hasil penelitian, ungkapnya, kemampuan seseorang dalam menyampaikan materi dakwah, termasuk teknik retorika dan penguasaan panggung, hanya 20 persen dari keberhasilan seseorang berdakwah.

"Sedangkan 80 persen tergantung pada konsistensi, independensi, gurah dan ibadah Sir," jelas Dr. Fauziah serta bertanya kepada peserta siapa yang melaksanakan salat malam (Tahajud).

Materi disampaikan dengan pendekatan kontekstual, termasuk menggambarkan kisah tawanan perang Badar sebagai bagian dari pembelajaran kepada calon dai-daiyah.

Menjawab pertanyaan salah seorang peserta pelatihan tentang musik dalam syiar agama, Ustaz Zulfan Efendi Hasibuan menegaskan bahwa musik tidak dilarang, tetapi harus sesuai dengan ajaran agama Islam. (id46)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement