Muktamar NU ke-35 Rekomitmen Kolektif Menghidupkan Warisan Para NabiMuktamar NU ke-35 Rekomitmen Kolektif Menghidupkan Warisan Para Nabi

MEDAN (Waspada.id): Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, diharapkan tidak sekadar menjadi forum pemilihan kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tetapi juga menjadi momentum melakukan rekomitmen kolektif terhadap arah dan khidmat NU bagi umat, rakyat, dan bangsa.
Ketua PW ISNU Sumatera Utara, Prof. Dr. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum, mengatakan Muktamar harus menjadi ruang refleksi untuk memastikan NU mampu membaca perubahan secara lebih cepat, menjawab persoalan secara tepat, serta menghadirkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan NU tidak cukup dilihat dari besarnya struktur organisasi, banyaknya kegiatan, maupun ramainya forum. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana NU mampu hadir menjawab persoalan konkret dan menghadirkan kemaslahatan.
"Rasulullah SAW bersabda, khairunnâsi anfa'uhum linnâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Jika prinsip ini dibawa ke dalam kehidupan organisasi, maka sebaik-baik perkumpulan adalah perkumpulan yang paling besar manfaatnya bagi umat dan masyarakat," ujar Arifuddin dalam keterangan tertulis yang diterima waspada.id Rabu (26/8).
Arifuddin menilai gagasan mengenai NU sebagai kebangkitan para ulama harus diterjemahkan dalam kerja nyata. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan al-'ulamâ'u waratsatu al-anbiyâ' atau ulama merupakan pewaris para nabi.
Karena itu, menurut dia, NU tidak cukup hanya menjadi tempat berhimpunnya para ulama. NU juga harus menjadi ruang kolektif untuk menghidupkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat.
"Para nabi tidak hadir hanya untuk menyampaikan nasihat. Mereka hadir di tengah umat, membaca persoalan, memberi petunjuk, menghadapi ketidakadilan, menawarkan solusi, dan menggerakkan perubahan," katanya.
Ia mengatakan semangat tersebut dapat diwujudkan oleh seluruh kader NU sesuai bidang keahliannya, mulai dari pendidikan, ekonomi, hukum, politik, kesehatan, teknologi hingga pertanian.
Dengan demikian, warisan kenabian tidak berhenti pada simbol spiritual, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Arifuddin juga mendorong NU memperkuat kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan yang ia sebut "Nongkrongin Umat, Nungguin Umat, dan Nanyain Umat".
"Nongkrongin Umat berarti hadir dan duduk bersama mereka. Nungguin Umat berarti memastikan NU tidak meninggalkan mereka ketika menghadapi persoalan. Nanyain Umat berarti mau mendengar dan memahami apa yang sesungguhnya mereka butuhkan," ujarnya.
Menurutnya, persoalan masyarakat tidak cukup dibahas dalam rapat organisasi. Para pengurus dan kader NU perlu turun langsung menemui berbagai kelompok masyarakat, termasuk petani, nelayan, buruh, guru, pelaku usaha kecil, generasi muda, perempuan, serta kelompok masyarakat lainnya.
Ia menilai pendekatan langsung tersebut penting agar program dan kebijakan NU benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Arifuddin mengatakan NU memiliki tradisi intelektual yang kuat melalui Bahtsu al-Masâ'il, yakni forum pengkajian persoalan dengan merujuk pada khazanah keislaman dan berbagai dalil untuk menghasilkan keputusan.
Namun, tradisi tersebut dinilai perlu dilanjutkan hingga menghasilkan dampak nyata. Ia menyebut gagasan itu sebagai pergeseran dari Bahtsu al-Masâ'il menuju Wushûlu al-Hashâ'il.
"Umat tidak hanya membutuhkan rumusan masalah, keputusan, atau rekomendasi. Umat membutuhkan hasil dan solusi," katanya.
Karena itu, NU ke depan diharapkan mampu mengubah ilmu menjadi kebijakan, keputusan menjadi tindakan, serta khidmat organisasi menjadi kemanfaatan bagi masyarakat.
Dalam konteks kepemimpinan NU, Arifuddin menilai kualitas keilmuan dan kesalehan tetap menjadi unsur penting. Namun, dua hal tersebut dinilai belum cukup tanpa kemampuan membangun kolektivitas.
"NU membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kolektivitas, menyatukan potensi, menggerakkan kader, menjembatani perbedaan, dan memastikan keputusan organisasi benar-benar sampai kepada umat," ujarnya.
Menurutnya, besarnya organisasi NU membuat kepemimpinan tidak dapat bergantung pada satu atau dua figur. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu membuat seluruh kader memiliki kekuatan dan bergerak bersama.
Ia berharap proses Muktamar NU ke-35 dapat menghasilkan kepemimpinan yang mampu merawat tradisi, membaca perkembangan zaman, menggerakkan kader, serta menghadirkan kemaslahatan.
Arifuddin juga mengingatkan agar dinamika pemilihan kepemimpinan tidak meninggalkan fragmentasi setelah Muktamar berakhir. Pihak yang terpilih dan yang tidak terpilih diharapkan kembali berada dalam satu barisan untuk menjalankan amanah organisasi.
"Setelah Muktamar selesai, tidak boleh ada lagi jarak antara yang memilih dan yang terpilih. Tidak ada lagi kubu yang menang dan kalah. Yang ada adalah satu barisan, satu amanah, dan satu tanggung jawab," katanya.
Ia berharap Muktamar NU ke-35 dapat melahirkan rekomitmen bersama agar NU semakin dekat dengan umat, mempertahankan tradisi intelektual, sekaligus memastikan setiap keputusan organisasi berujung pada tindakan dan kemanfaatan.
"Ilmu harus menjadi amal. Kesalehan harus menjadi pelayanan. Keputusan harus menjadi tindakan. Dan organisasi harus menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan," ujar Arifuddin.
Ia pun berharap seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 berlangsung lancar, aman, khidmat, dan penuh keberkahan serta menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa NU memberikan manfaat lebih besar bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.(Fes)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda