Breaking News
Memuat breaking news...

Muncul Sinyal IHSG Rebound, Tangkap Peluang Cuan Saham dengan Teknologi AI IPOT

Redaksi
Redaksi
Senin, 12 Oktober 2026 - 9.41 AM WIB
Muncul Sinyal IHSG Rebound, Tangkap Peluang Cuan Saham dengan Teknologi AI IPOT
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Selama pekan perdagangan 5–9 Oktober 2026 lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,94% atau 56,87 poin ke level 6.093,76 dari 6.036,89 pada pekan sebelumnya dan sepanjang pekan IHSG bergerak pada rentang 5.995–6.216.

Pada pekan tersebut kapitalisasi pasar BEI meningkat 0,69% menjadi Rp10.701 triliun dari Rp10.627 triliun. Namun, investor asing masih mencatatkan net foreign sell sekitar Rp2,44 triliun.

Saham yang paling banyak dibeli asing adalah ULTJ sebesar Rp111,5 miliar diikuti MEDC Rp48,5 miliar dan EMAS Rp42,1 miliar.

Sementara itu, saham yang paling banyak dijual asing adalah GOTO sebesar Rp663,2 miliar, BBCA Rp293,5 miliar, dan BMRI Rp235,6 miliar.

Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62% menjadi 46,53 miliar saham dan frekuensi transaksi melemah 0,27% menjadi 1,67 juta kali.

Sebaliknya, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 28,52% menjadi Rp16,23 triliun dan pada Jumat (9/10) IHSG ditutup menguat 1,04% ke level 6.093,76 setelah sempat menyentuh level terendah 5.995,82 pada sesi perdagangan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari menegaskan, ada sejumlah sentimen dari global dan domestik memengaruhi pergerakan saham dalam sepekan terakhir.

"Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik," tandasnya, Senin (12/10).

Ia menjelaskan, Wall Street sempat bergerak bervariasi seiring tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI serta kenaikan yield US Treasury yang meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham.

Di pasar obligasi, yield US Treasury 10Y tetap berada di level tinggi, meskipun sempat terkoreksi setelah lelang obligasi AS mendapat respons permintaan yang kuat.

"Sentimen membaik pada Jumat (9/10), ketika Dow Jones naik 0,83%, S&P 500 menguat 0,59%, dan Nasdaq naik 0,64%, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi," ujarnya.

Selanjutnya dari sisi komoditas, harga minyak bergerak volatil akibat perubahan ekspektasi pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. WTI sempat turun ke US$ 88,28/barel pada Rabu (7/10) sebelum kembali naik tajam +3,64% ke level US$91.49/barel pada Kamis.

Ia menjelaskan, penguatan dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS terhadap Iran, serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.

"Pada Jumat (9/10) WTI kembali naik tipis 0,19% ke US91,66/barel seiring gangguan produksi akibat badai yang mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik AS - Iran. Di sisi lain, emas menguat 1,47% ke US4.193,9/troy ounce pada 9 Oktober, didukung pelemahan dolar AS dan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar," katanya.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle terkoreksi ke US$ 148,85/ton pada penutupan 9 Oktober setelah sempat menyentuh US$152/ton, level tertinggi dalam 23 bulan. Permintaan listrik India dan China serta keterbatasan pasokan domestik China menjadi faktor pendukung harga, meskipun pemulihan produksi China berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.

Dari sisi domestik, risiko eksternal masih menjadi perhatian seiring proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia menjadi 1,5% PDB pada 2026 akibat meningkatnya impor energi.

Kombinasi kebutuhan impor energi dan tingginya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah serta arus dana asing terhadap perubahan sentimen global. Di dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 tercatat sebesar 118,1 dan masih berada di zona optimistis. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5, mengindikasikan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami moderasi.

"Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung," terangnya.

Di sisi lain, sejumlah faktor masih menjadi penyangga stabilitas domestik, termasuk cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar atau setara 5,3 bulan impor, status Indonesia yang dipertahankan FTSE Russell sebagai Secondary Emerging Market, serta defisit APBN hingga September 2026 yang dilaporkan sebesar 1,24% PDB dengan keseimbangan primer surplus.

Pemerintah juga berupaya menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian belanja. Di pasar saham, IHSG rebound 1,04% pada Jumat (9/10), meskipun tekanan jual asing masih terlihat di pasar reguler.

Selain itu, Danantara menyatakan terbuka untuk menambah investasi ketika valuasi saham dinilai menarik. Dengan portofolio saham dan obligasi sekitar US 3 miliar dan rencana tambahan investasi US 1 miliar hingga akhir 2026, pendekatan berbasis valuasi dan due diligence berpotensi mendukung permintaan saham domestik. Namun, efektivitasnya terhadap arus dana pasar secara keseluruhan tetap bergantung pada realisasi investasi dan kondisi likuiditas.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi IPOT

Secara teknikal IHSG menguat 1,04% ke level 6.093,76 pada Jumat (9/10 lalu dan ditutup di atas MA3. Indeks juga berhasil bertahan di atas level psikologis 6.000. Pada timeframe mingguan, IHSG menguat 0,94% dengan dukungan volume pembelian, tetapi belum menembus MA20 sehingga pemulihan tren jangka menengah belum terkonfirmasi.

Dari sisi momentum, histogram negatif MACD yang terus menyempit mengindikasikan tekanan jual mulai mereda. Namun, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan bahwa penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan.

"Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai," prediksinya untuk sepekan kedepan 12-16 Oktober 2026.

Ia menambahkan untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018.

"Kami memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif pada kisaran 6.000–6.215 pada pekan depan. Penembusan resistance rentang tersebut berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297, sedangkan pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan," tandasnya.

Merespons dinamika market di atas PT Indo Premier Sekuritas yang baru saja meluncurkan IPOT X yang mampu merevolusi pengalaman investasi dengan memanfaatkan AI-Native Intelligence dan membantu investor mengubah kompleksitas pasar menjadi Market Clarity melalui Think Smarter, melihat lebih dalam melalui See Deeper, membaca lebih jelas melalui Read Clearly, serta menemukan, memantau, dan membandingkan melalui Discover, Monitor & Compare serta semua itu dipersatukan oleh pengalaman Move Effortlessly merekomendasikan saham-saham berikut ini untuk trading pekan ini.

1. Buy EMAS (Entry : 7.950-8.075, Target Price (TP): 8.700 dan Stop Loss (SL): 7.625). Secara teknikal, pergerakan saham EMAS menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil bergerak di atas MA5 hingga MA50. Selain itu, indikator Trade Flow mengindikasikan adanya akumulasi dari Smart Money dan investor asing yang memperkuat sinyal positif tersebut.

2. Buy ICBP (Entry : 6.950, Target Price (TP): 7.400, Stop Loss (SL): 6.825). Secara teknikal, ICBP mengonfirmasi sinyal rebound dengan membentuk Candle Bullish Marubozu. Tren jangka pendek diperkuat seiring posisi harga yang kembali bergerak di atas area MA5 hingga MA20.

3. Buy BBTN (Entry: 1.070, Target Price (TP): 1.120, Stop Loss (SL): 1.050). Secara teknikal, pergerakan BBTN menunjukkan potensi reversal dari area bottoming yang cukup kuat yakni di level 1050. Sinyal awal pembalikan arah ini juga didukung oleh indikator MACD yang mulai membentuk pola Golden Cross. Selain itu, Trade Flow menunjukan adanya akumulasi Smart Money sebesar +16.8 B secara cumulative.

4. Buy Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD). XGLD menawarkan alternatif investasi yang efisien bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa, tanpa perlu membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung. Dengan karakteristik yang sesuai prinsip syariah, XGLD dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio sekaligus sarana untuk memanfaatkan potensi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar. Investor juga dapat melakukan transaksi unit penyertaan XGLD melalui aplikasi IPOT layaknya ETF pada umumnya, sehingga memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam mengakses aset emas. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement