Breaking News
Memuat breaking news...

Murka Anak Krakatau

Redaksi
Redaksi
Selasa, 8 September 2026 - 10.20 AM WIB
Murka Anak Krakatau
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Jakarta menerima peringatan dari langit. Abu vulkanik menghujani ibu kota. Kota yang sesak klakson mendadak belajar: teknologi tunduk pada debu batu yang dilumat gunung.

DI SELAT SUNDA, sebuah pulau gunung api kembali mengingatkan Indonesia; alam tak pernah benar-benar tidur. Sejak Jumat malam, 4 September, Anak Krakatau bergemuruh, menyemburkan lava dan abu ke langit. Erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam sebelum berakhir Minggu dini hari. Namun gunung itu belum diam. Selasa pagi, 8 September, ia kembali erupsi. Statusnya tetap Level III, Siaga.

Murka itu tidak berhenti di bibir kawah. Abu vulkanik menumpang angin, merambat ke Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga jalur udara di atas Samudra Hindia. BMKG mendeteksinya pada lapisan setinggi 50 ribu kaki. Di negeri kepulauan yang hidupnya diikat penerbangan, debu di langit cukup membuat jadwal runtuh seperti kartu domino.

Soekarno-Hatta, pintu udara terbesar Indonesia, ditutup sementara. Halim ikut berhenti, bersama sejumlah bandara lain. Reuters mencatat hampir 3.000 penerbangan terganggu dan sekitar 341 ribu penumpang terdampak. Efeknya menjalar jauh ke Sumatera. Di Kualanamu, Sumatera Utara, sedikitnya 41 penerbangan dari dan menuju Jakarta dibatalkan pada Minggu. Sehari kemudian, rute Jakarta kembali ditiadakan hingga sore. Di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, sepuluh penerbangan Aceh–Jakarta kembali batal pada Senin.

Begitulah sebuah gunung bekerja tanpa mengenal batas administrasi. Anak Krakatau batuk di Selat Sunda; penumpang di Blang Bintang dan Deli Serdang kehilangan jadwal. Ribuan urusan tertunda. Roda ekonomi tidak berhenti, tetapi tersendat pada tiket yang harus dijadwal ulang, kamar hotel tambahan, pertemuan yang batal, dan perjalanan yang tak pernah sampai sesuai rencana.

Jakarta pun menerima peringatan dari langit. Abu vulkanik mencapai ibu kota. Pemerintah DKI memberlakukan pembelajaran jarak jauh untuk seluruh sekolah dan memperpanjangnya hingga Selasa. Abu masih ditemukan di sejumlah wilayah. Kota yang biasanya sesak oleh klakson, rapat, dan tenggat mendadak belajar bahwa teknologi dapat dipaksa tunduk oleh partikel batu yang dilumat gunung menjadi debu.

Penutupan bandara bukan kepanikan. Ia justru kewarasan. Abu vulkanik bukan debu biasa. Partikel batu sangat halus dapat mengikis badan pesawat dan mengganggu instrumen. Di mesin jet, abu dapat meleleh lalu menempel pada komponen turbin, mengurangi daya dorong bahkan memicu kegagalan mesin. Satu penerbangan yang dibatalkan jauh lebih murah daripada satu pesawat yang dipaksa menembus awan abu.

Bahaya di sekitar kawah lebih telanjang: lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan awan panas. Sejarah menyimpan luka lebih gelap. Letusan Krakatau 1883 menewaskan lebih dari 36 ribu orang. Anak Krakatau sendiri memicu tsunami pada 2018 setelah sebagian tubuhnya runtuh. Tetapi ketakutan tak boleh mengalahkan ilmu. Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau pasca-2018 saat ini relatif kecil dan tidak dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang memicu tsunami.

Dini hari Selasa, Soekarno-Hatta kembali dibuka setelah evaluasi keselamatan. Tetapi pembukaan bandara bukan tanda cerita selesai. Anak Krakatau masih Siaga; peluang letusan susulan masih tinggi. Radius tiga kilometer tetap terlarang. Pada pukul 05.34 WIB, gunung itu kembali erupsi singkat—seolah memberi tanda bahwa jeda bukan berarti selesai.

Peristiwa ini mestinya tidak berhenti sebagai berita tentang penerbangan batal. Ia adalah ujian bagi kesiapan negara menghadapi bencana lintas provinsi dan lintas sektor. Informasi harus cepat, hak penumpang harus jelas, masker tersedia, sekolah terlindungi, bandara memiliki prosedur pemulihan, dan jalur logistik alternatif mesti siap.

Anak Krakatau sedang mengajarkan pelajaran lama dengan cara keras: di negeri cincin api, kesiapsiagaan bukan pilihan tambahan. Ia adalah harga hidup. Kita boleh membangun bandara paling sibuk, pesawat paling modern, dan kota paling gemerlap. Tetapi ketika bumi mengirim segenggam abu ke langit, seluruh kesombongan itu dapat berhenti di papan keberangkatan.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement