Breaking News
Memuat breaking news...

Musik Tradisional Sumut Dinilai Punya Peluang Tembus Pasar Internasional

Redaksi
Redaksi
Minggu, 6 September 2026 - 6.34 PM WIB
Musik Tradisional Sumut Dinilai Punya Peluang Tembus Pasar Internasional
Agus Setiawan Basuni, konsultan sekaligus booking agent musik, saat menghadiri Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 di Nimo Kaldera Sibisa, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Minggu (6/9/2026). Waspada.id/Ramsiana Gultom
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TOBA (Waspada.id): Musik tradisional dan etno dari Sumatera Utara dinilai memiliki potensi besar untuk menembus panggung festival internasional. Namun, potensi tersebut perlu didukung pengemasan yang profesional agar mampu bersaing di pasar musik dunia.

Hal itu disampaikan Agus Setiawan Basuni, konsultan sekaligus booking agent musik, saat menghadiri Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 di Nimo Kaldera Sibisa, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Minggu (6/9/2026).

Agus hadir dalam kegiatan yang tahun ini untuk pertama kalinya menghadirkan Music Market, sebuah ruang yang mempertemukan pelaku musik dengan peluang pasar dan jejaring festival.

Menurut Agus, kehadirannya tidak sekadar sebagai konsultan, tetapi juga untuk melihat secara langsung potensi para musisi yang tampil dan mempersiapkan mereka agar dapat dipromosikan ke festival-festival internasional.

"Saya datang dalam rangka mempersiapkan atau memfasilitasi teman-teman yang tampil hari ini, yang punya kriteria tertentu untuk bisa masuk ke pasar internasional. Gampangnya, mereka yang sudah layak untuk diekspor, saya bantu ekspor," ujarnya.

Agus yang telah berkecimpung sebagai booking agent profesional sejak 2011 menjelaskan, booking agent berperan membantu seniman atau kelompok musik mengembangkan karier dengan membuka akses pertunjukan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ia juga merupakan Managing Director Warta Jazz, organisasi yang telah berjalan sejak 2000 dan fokus mempromosikan musik jazz serta world music dari Indonesia ke dunia, sekaligus mempertemukan musisi internasional dengan pasar Indonesia.

"Bahasa kerennya export dan import. Kami mempromosikan world music dan jazz dari Indonesia, sekaligus memfasilitasi musik dari dunia yang ingin connect ke Indonesia," katanya.

Dari pengamatannya terhadap penampilan para musisi di LTTMF 6.0, Agus mengaku menemukan sejumlah talenta yang memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar internasional. Bahkan, beberapa grup musik yang tampil disebut telah menyatakan ketertarikannya untuk bekerja sama dengannya sebagai booking agent.

Meski demikian, Agus menegaskan proses tersebut tidak serta-merta dilakukan tanpa pembenahan.

Ia mengibaratkan potensi musisi seperti sebuah masakan yang memiliki cita rasa bagus, tetapi tetap membutuhkan tampilan yang menarik agar memiliki nilai jual.

"Harus di-packaging, didesain dan dibentuk supaya menjadi hal yang menarik, sehingga bisa dijual dan punya nilai lebih," ujarnya.

Menurutnya, profesionalisme tidak boleh berhenti pada kemampuan bermusik. Identitas, penampilan, materi promosi hingga cara sebuah grup memperkenalkan diri kepada penyelenggara festival internasional juga harus dipersiapkan.

Agus menilai LTTMF yang telah memasuki penyelenggaraan keenam merupakan salah satu kekuatan penting dalam ekosistem musik tradisional dan etno di Sumatera Utara.

Ia bahkan menyebut keberadaan festival tersebut menjadi sesuatu yang patut dibanggakan karena tidak semua daerah memiliki ruang yang konsisten untuk mempertemukan musik tradisional dengan jaringan yang lebih luas.

"Ini luar biasa. Beruntung Sumatera Utara punya inisiatif seperti ini dan LTTMF sudah masuk usia penyelenggaraan yang keenam," katanya.

Agus mengatakan, keberlanjutan festival tersebut perlu dijaga sekaligus dikembangkan dengan kemasan yang semakin profesional.

"Orang-orang di Jawa, Kalimantan, Sulawesi mengiri dengan Sumatera Utara. Jadi ini harus dipertahankan, dikembangkan dan dikemas lebih baik lagi," ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas ekosistem musik, Agus menyarankan penyelenggara membangun semacam talent academy. Program tersebut tidak hanya ditujukan kepada musisi, tetapi juga seluruh unsur pendukung pertunjukan.

"Yang dipersiapkan bukan cuma talent-nya, tetapi orang-orang di sekitarnya juga. Misalnya sound engineer, fasilitas pendukung, liaison officer (LO), translator dan sarana pendukung lainnya," katanya.

Tak kalah penting, menurut Agus, adalah membangun kualitas dan pemahaman penonton terhadap pertunjukan musik tradisional. "Termasuk penontonnya, harus diajari," katanya.

Ia berharap LTTMF dapat terus berkembang sebagai ruang bertemunya musisi tradisional dengan jaringan industri musik nasional dan internasional, sehingga karya-karya dari Sumatera Utara tidak hanya tampil di daerah sendiri, tetapi mampu berkelana ke berbagai panggung dunia. (Id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement