Negara Hadir, SD Sena Batang Kuis Direhab, Good Bye Memori Banjir


DELI SERDANG (Waspada.id): Revitalisasi SD Negeri 101868 Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, berjalan signifikan. Ruang kelas yang dulu terendam banjir kini telah ditinggikan dan diperbaiki, sementara halaman sekolah yang kerap becek kini berubah menjadi area multifungsi ber-paving block. Proyek senilai Rp201.561.874 bersumber dari APBN ini telah mengubah wajah sekolah yang selama ini kerap dilanda banjir.
Indra Kusuma (27), guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di sekolah tersebut, menyambut baik perubahan tersebut. "Sebelumnya kalau hujan turun, halaman sekolah tergenang air dan becek, menyulitkan kami untuk berolahraga. Sekarang genangan tidak lagi separah dahulu dan siswa lebih leluasa beraktivitas," ujarnya saat ditemui, Rabu (28/10/2026).
Banjir November 2025 Masih Meninggalkan Jejak
Indra yang telah hampir lima tahun mengajar di sana, masih mengingat jelas banjir terparah pada November 2025. Air masuk hingga setinggi lutut orang dewasa ke ruang kelas, membawa lumpur ke dalam bangunan. Kegiatan belajar mengajar terhenti sekitar dua pekan.

Indra Kusuma, guru olahraga di SD Negeri 101868 di Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (28/10/2026). (Dok: Tim Media Satgas PRR)
"Air mengalir deras seperti sungai masuk ke ruang kelas terdepan. Dinding-dinding berjamur dan mengelupas. Kami harus membersihkan lumpur bersama-sama sebelum siswa bisa kembali belajar," kenang Indra.
Halaman Multifungsi Dukung Kegiatan Olahraga
Kini halaman telah ditinggikan dan dipasangi paving block. Area itu dirancang serbaguna — untuk upacara bendera maupun olahraga, termasuk lapangan bulu tangkis dengan tiang yang bisa dibongkar pasang.
"Kami berencana mengembangkan kegiatan olahraga lebih maksimal, mulai dari bulu tangkis, bola voli, hingga pembinaan atletik untuk Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat kecamatan. Halaman yang kering dan rata membuat anak-anak lebih semangat bergerak," ungkap Indra.
Negara Hadir Pulihkan Fasilitas Pendidikan Pascabencana
Rehabilitasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana. Melalui APBN revitalisasi, negara hadir memperbaiki satu ruang kelas, membangun toilet, menyediakan perabotan, serta menata lingkungan sekolah. Secara nasional, pemerintah telah merevitalisasi ribuan sekolah terdampak bencana di tiga provinsi Sumatera dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable.
Saat ini progres pekerjaan mencapai 80 persen. Ruang kelas yang telah direhabilitasi belum ditempati sepenuhnya menunggu penyelesaian tahap akhir dan pengadaan perabotan. Pihak sekolah telah mengajukan adendum agar ruang kelas satunya juga mendapat penanganan serupa, mengingat kedua ruas itu sama-sama pernah terendam banjir.
"Sebagai guru, saya ingin anak-anak belajar di tempat yang aman dari ancaman banjir. Semoga perbaikan ruang kelas lainnya segera menyusul," harap Indra.
Latar Belakang
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra meminta pemerintah daerah (Pemda) mempercepat penyediaan lahan untuk relokasi 97 sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada tahun lalu. Relokasi dibutuhkan karena lokasi sebelumnya tidak lagi layak atau berada di kawasan rawan bencana.
"Ada 97 titik sekolah yang harus direlokasi karena tanahnya ada yang hilang kena longsor, kena banjir atau di daerah yang rawan sehingga memang harus dipindahkan," tandas Tito.
Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan, dari 97 satuan pendidikan yang diusulkan untuk direlokasi, sebanyak 34 sekolah saat ini telah memasuki proses pembangunan melalui skema swakelola sekolah ataupun bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat. Sedangkan sisanya masih menunggu kepastian dan legalitas lahan.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk merehabilitasi dan merevitalisasi sebanyak 4.922 sekolah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Per 22 Oktober 2026, dari 4.992 sekolah yang terdampak bencana, sebanyak 3.135 unit telah rampung direvitalisasi. Rinciannya sebanyak 2.115 di Aceh, 683 unit di Sumatera Utara dan 337 unit di Sumatera Barat.
Rekonstruksi dan rehabilitasi sekolah berpegang pada prinsip build back better, safer, and sustainable (BBBSS). Artinya, pemulihan Sumatera bukan sekadar membangun kembali tatanan yang hancur, tapi juga memastikan ketahanan yang berkelanjutan. Prinsip BBBSS tertuang dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera. Prinsip tersebut menekankan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya bertujuan memulihkan kerusakan, tapi juga meningkatkan kualitas, keamanan, dan ketangguhan wilayah terhadap risiko bencana.
Rencana induk itu juga memuat peta zona rawan bencana (ZRB) sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk untuk menentukan kelayakan pembangunan serta kebutuhan relokasi. ZRB merupakan hasil pemetaan Bappenas dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi diarahkan untuk membatasi pembangunan dan memperkuat fungsi perlindungan. Sedangkan wilayah dengan tingkat risiko lebih rendah dapat menjadi lokasi pengembangan atau relokasi kegiatan dari kawasan yang memiliki risiko lebih tinggi.
Dalam sektor pendidikan, kebutuhan pemulihan mencakup perbaikan sekolah, madrasah, pesantren, serta perguruan tinggi yang terdampak bencana. Namun, ketika fasilitas pendidikan berada di lokasi yang memiliki risiko tinggi, pemulihan tidak cukup dilakukan dengan membangun kembali fasilitas di tempat semula.
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda