Nelayan Kecil Keluhkan Sulit Dapat Solar Subsidi, Aktivitas Jeriken di SPBUN Sialang Buah DisorotNelayan Kecil Keluhkan Sulit Dapat Solar Subsidi, Aktivitas Jeriken di SPBUN Sialang Buah Disorot

SERGAI (Waspada.id): Sejumlah nelayan kecil mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis solar subsidi di SPBUN 18206028, Desa Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Nelayan mengaku, kondisi itu membuat mereka terpaksa membeli solar eceran dengan harga mencapai Rp8.000 per liter. Sementara harga solar subsidi di SPBUN disebut Rp6.800 per liter.
Keluhan tersebut mencuat karena nelayan mempertanyakan mekanisme penggunaan barcode serta pengambilan solar menggunakan banyak jeriken di SPBUN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan) tersebut.
“Kami nelayan di Teluk Mengkudu sangat sulit mendapatkan BBM jenis solar subsidi di SPBUN Desa Sialang Buah, padahal kami nelayan yang berdomisili di sini. Kalau pakai barcode, buatkan barcode kami. Kalau mau berlabuh ke laut, terpaksa beli eceran dengan harga di atas HET,” ujar SLN, 72, nelayan asal Pekan Sialang Buah.

Mobil Kijang yang terparkir tak jauh dari SPBUN 18206028 Desa Sialang Buah, tampak mengeluarkan jeriken diduga hendak mengambil BBM solar, Kamis (20/8/).Waspada.id/Bambang
SLN juga mempertanyakan adanya pihak yang disebut mengambil solar menggunakan puluhan jeriken dari luar Kecamatan Teluk Mengkudu. “Banyak yang mengambil minyak berpuluh jeriken dari luar Kecamatan Teluk Mengkudu. Apa boleh itu.” katanya.
Waspada.id yang melakukan pemantauan di SPBUN 18206028, Kamis (20/8/2026), melihat aktivitas pengisian solar subsidi menggunakan sejumlah jeriken.
Di lokasi terlihat empat becak barang yang digunakan untuk mengangkut jeriken. Selain itu, terdapat sepeda motor yang membawa hingga enam jeriken. Orang-orang yang berada di lokasi mengaku sebagai nelayan asal Pantai Cermin.
Pantauan wartawan juga menemukan sebuah mobil Kijang membawa belasan jeriken ke SPBUN Sialang Buah. Kendaraan itu terlihat melakukan pengisian solar subsidi sebelum kemudian bergerak ke arah Kecamatan Tanjung Beringin.
Fakta di lapangan tersebut membuat nelayan mempertanyakan apakah mekanisme penyaluran solar subsidi di SPBUN telah berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran. Nelayan meminta Pemkab Sergai, khususnya Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan, melakukan pengecekan langsung terhadap penyaluran solar subsidi, termasuk mencocokkan kebutuhan BBM dengan kapasitas mesin kapal.

Bukti rekomendasi dari Dinas Perikanan Sergai, Milik warga yang mengaku Nelayan, Kumis (20/8). Waspada id/Bambang
Mereka juga meminta Polres Sergai melakukan pengawasan dan mengambil tindakan apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran. “Jangan nanti malah main mata sama pelansir dan pengusaha,” tegas SLN.
Sementara itu, BSB, warga asal Desa Kuala Lama, Kecamatan Pantai Cermin, mengaku memiliki barcode yang berlaku 1 bulan lamanya untuk mengambil solar subsidi di SPBUN Sialang Buah.
Ia mengatakan, kapal Seruai 1 dengan mesin 30 GT mendapat alokasi pengambilan solar sebanyak 1.183 liter per bulan.
Namun, terkait dugaan penyalahgunaan barcode maupun mekanisme penyaluran solar menggunakan jeriken tersebut, pengelola SPBUN Desa Sialang Buah, Teluk Mengkudu Sopar Sitorus mengatakan, bahwa penyaluran BBM subsidi jenis solar untuk nelayan di SPBU tu semua sesuai rekom dan barcode. Ia juga mengatakan jika BBM di SPBUN saat ini banyak.
"Minyak banyak itu, dan nelayan kecil diberikan juga, semua sesuai rekom, kalau ada pengambilan dan mengakut dengan mobil itu bukan wewenang saya" ujarnya kepada Waspada.id melalui sambungan telepon, Jumat (21/8) siang.
Di sisi lain masyarakat nelayan berharap pemeriksaan dan verifikasi dari pihak berwenang diperlukan untuk memastikan apakah seluruh pengambilan BBM subsidi di SPBUN 18206028 telah sesuai ketentuan. (bs)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda