Breaking News
Memuat breaking news...

Neraca Perdagangan RI Juli 2026 Surplus Sebesar 0,12 Miliar Dolar AS

Redaksi
Redaksi
Selasa, 1 September 2026 - 3.00 PM WIB
Neraca Perdagangan RI Juli 2026 Surplus Sebesar 0,12 Miliar Dolar AS
Sektor perdagangan /ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mengalami surplus sebesar 0,12 miliar dollar AS.

Surplus tersebut turut menopang neraca perdagangan kumulatif Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 yang mencapai 3,70 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, surplus kumulatif Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas.

Menurutnya, surplus sepanjang periode Januari-Juli 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 22,45 miliar dollar AS,

"Sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 18,75 miliar dollar AS,” ungkap Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, pada Selasa (1/9/2026).

Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Juli 2026 mencapai 167,03 miliar dollar AS, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 5,21 persen menjadi 160,01 miliar dollar AS," jelas Ateng.

Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, yakni 137,26 miliar dollar AS atau naik 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Data BPS menyebut, ada tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 adalah Tiongkok sebesar 40,62 miliar dollar AS atau 25,39 persen.

Lalu Amerika Serikat sebesar 19,19 miliar dollar AS atau 11,99 persen, dan India sebesar 11 miliar dollar AS atau 6,87 persen.

Ateng juga menyampaikan, untuk nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 mencapai 163,33 miliar dollar AS, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang naik 16,78 persen menjadi 137,56 miliar dollar AS serta impor migas yang meningkat 40,24 persen menjadi 25,77 miliar dollar AS.

Menurut penggunaan, impor bahan baku atau penolong menjadi komponen impor terbesar dengan nilai 116,70 miliar dollar AS atau naik 20,42 persen.

"Untuk impor barang modal mencapai 32,46 miliar dollar AS atau naik 20 persen. Diikuti impor barang konsumsi tercatat sebesar 14,16 miliar dollar AS atau meningkat 16,03 persen," urai Ateng.

Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 dengan nilai 58,29 miliar dollar AS atau 42,38 persen.

Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar 7,71 miliar dollar AS atau 5,61 persen dan Australia sebesar 6,47 miliar dollar AS atau 4,70 persen.

Disamping itu, surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari-Juli 2026 terutama berasal dari sejumlah komoditas utama.

Lemak dan minyak hewani atau nabati mencatat surplus sebesar 20,96 miliar dollar AS, bahan bakar mineral sebesar 16,39 miliar dollar AS.

Kemudian besi dan baja 10,32 miliar dollar AS, nikel dan barang daripadanya 7,08 miliar dollar AS, serta alas kaki sebesar 3,84 miliar dollar AS. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement