Breaking News
Memuat breaking news...

OJK Ungkap Manufaktur RI Kembali Masuk Zona Kontraksi

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 9.12 AM WIB
OJK Ungkap Manufaktur RI Kembali Masuk Zona Kontraksi
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Aktivitas industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan pelemahan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional turun ke level 49,8, atau kembali berada di zona kontraksi.

Secara sederhana, PMI di bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami penurunan. Sementara angka 50 menunjukkan kondisi industri cenderung stagnan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pelemahan manufaktur terjadi di tengah inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,19% secara tahunan pada Agustus 2026.

"Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen year-on-year, dan aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi di level PMI 49,8," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Agustus 2026 secara virtual, Senin (7/9).

Meski manufaktur melemah, Friderica memastikan stabilitas sektor jasa keuangan secara keseluruhan masih tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih relatif kuat, yakni 5,29% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penyangga utama perekonomian.

Risiko Global Masih Menghantui

Di tengah kondisi tersebut, OJK mengingatkan pemerintah dan pelaku ekonomi untuk tetap mewaspadai tingginya risiko geopolitik global.

Friderica menyoroti konflik yang berlarut-larut di Iran serta masih tertutupnya Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global dan mendorong volatilitas harga komoditas.

"Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi," ungkap Friderica.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat kembali menekan inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Tak hanya faktor geopolitik, tekanan inflasi global juga diperburuk oleh faktor alam yang terjadi di sejumlah wilayah.

"Tekanan inflasi diperberat oleh El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan," imbuhnya.

Dengan manufaktur kembali berada di bawah level 50, kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan dari dua sisi. Di dalam negeri, aktivitas industri perlu kembali didorong, sementara dari eksternal tekanan datang dari ketidakpastian geopolitik, harga energi, inflasi, dan perubahan kondisi ekonomi global. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement