Breaking News
Memuat breaking news...

OPEC Naikkan Produksi Minyak, Pengamat: Pasar Fokus Suksesi Gubernur BI

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 10.29 AM WIB
OPEC Naikkan Produksi Minyak, Pengamat: Pasar Fokus Suksesi Gubernur BI
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan domestik pada awal pekan berlangsung penuh kehati-hatian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat ke level 6.272,617 pada pembukaan perdagangan, namun kemudian berbalik melemah dan bergerak di dua zona seiring tekanan yang juga dialami mayoritas bursa saham Asia.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen eksternal yang masih membayangi pasar. Selain tekanan dari bursa regional, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global serta dinamika dalam negeri.

"Mayoritas bursa saham Asia diperdagangkan di zona merah. Kondisi tersebut membuat IHSG berpeluang ikut terseret sentimen negatif regional selama sesi perdagangan berlangsung," ujar Gunawan, Senin (3/8).

Menurutnya, perhatian investor domestik saat ini tertuju pada proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia. Pasar akan merespons setiap perkembangan, termasuk munculnya nama-nama calon Gubernur BI sebelum keputusan resmi ditetapkan.

"Pelaku pasar bukan hanya menunggu siapa yang terpilih menjadi Gubernur BI, tetapi juga akan memberikan respons sejak nama-nama kandidat mulai dimunculkan. Faktor ini menjadi salah satu penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam waktu dekat," jelasnya.

Di sisi eksternal, pasar juga mencermati rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski pertemuan tersebut diharapkan dapat meredakan ketegangan geopolitik, harga minyak dunia belum menunjukkan respons signifikan. Minyak mentah Brent masih bergerak di kisaran US$85 per barel.

Selain itu, keputusan negara-negara anggota OPEC untuk kembali meningkatkan produksi minyak mentah turut menjadi perhatian investor. Menurut Gunawan, kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arah inflasi global sekaligus ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.

Di tengah beragam sentimen tersebut, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan. Pada perdagangan pagi, rupiah berada di kisaran Rp17.970 per dolar Amerika Serikat, meski tekanan terhadap aset berisiko di kawasan Asia masih cukup kuat.

"Penguatan rupiah menjadi sinyal positif di tengah sentimen regional yang kurang kondusif. Namun arah pasar selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan suksesi Gubernur BI serta dinamika ekonomi global," kata Gunawan.

Sementara itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi nasional pada awal bulan. Inflasi diperkirakan naik sekitar 0,1 persen secara bulanan (month to month). Kendati demikian, Gunawan menilai data tersebut belum akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar keuangan.

Di pasar komoditas, harga emas dunia tercatat menguat ke level sekitar US$4.060 per troy ons dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Dengan kondisi tersebut, harga emas setara berada di kisaran Rp2,35 juta per gram, didorong meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement