Breaking News
Memuat breaking news...

Orang Tua Korban Menangis Mendesak Bukti, Kepala BGN Akui Kelalaian Fatal di Balik Keracunan MBG Berastagi

Redaksi
Redaksi
Senin, 17 Agustus 2026 - 1.54 AM WIB
Orang Tua Korban Menangis Mendesak Bukti, Kepala BGN Akui Kelalaian Fatal di Balik Keracunan MBG Berastagi
Orang tua pelajar yang menjadi korban dugaan keracunan makan gizi gratis, meluapkan rasa kekecewaannya di hadapan Kepala BGN saat menjenguk para korban di RS Efarina Etaham Berastagi, Minggu (16/8).Waspada.id/Micky Maliki
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

KARO (Waspada.id): Tak tahan menahan rasa kecewa, Fitriani Boru Sijabat ibu dari salah satu korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Berastagi meluapkan kondisi anaknya, saat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjenguk para korban di RS Efarina Etaham, Berastagi, Minggu (16/8).

Kekecewaan berat yang dialaminya, ketika mendengar putrinya juga salah satu korban dugaan keracunan MBG. Rasa kecewa atas peristiwa itu, sampai saat ini masih terus dirasakan dan sudah sangat mengkhawatirkan, sebab putrinya Agnesia Paruliana Boru Silitonga, masih menjalani perawatan.

Tidak hanya itu, dalam peristiwa dugaan keracunan makan bergizi gratis, Kamis (13/8) itu, putrinya sempat diperbolehkan pulang oleh pihak medis, namun beberapa jam sesampai di dumah, putrinya kembali merasakan kesakitan. Seperti sesak nafas, mual-mual dan gatal-gatal, bahkan terus menangis tak kuasa menahan sakit di tubuhnya.

Sementara, dari pihak rumah sakit, sampai saat ini masih belum memberikan keterangan dan langkah serta tindakan apa yang bisa segera mengobati putrinya. Dengan suara bergetar dan berlinang air mata, di hadapan Kepala BGN, Fitriani mempertanyakan penyebab gangguan kesehatan yang dialami anaknya.

Tidak hanya itu, ia meminta BGN agar segera memberikan penjelasan secara terbuka mengenai zat atau makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan. “Tolong, Pak. Permintaan maaf Bapak tidak mengubah keadaan. Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya, agar kami tahu cara mengobatinya,” katanya dengan berlinang air mata.

Menurutnya, informasi tersebut penting agar pengobatan yang diberikan kepada anaknya sesuai dengan penyebab penyakit yang dialami. Ia khawatir pemberian obat yang tidak tepat justru menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

“Aku tidak mau salah obat. Nanti rusak ginjalnya, siapa lagi yang bertanggung jawab?” jelasnya.

Ia juga mengatakan, keinginannya untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami putrinya. Semua itu tidak terlepas dari pengetahuan pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat Karo.

“Saya mewakili orang tua yang lain. Di sini banyak obat herbal dan lainnya yang bisa kami gunakan. Tapi pada intinya kami mau obat yang cocok dengan penyakitnya,” histerisnya.

Selain itu, ia juga mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban BGN terhadap putrinya dan para korban lain. Menurutnya, orang tua hingga kini masih membutuhkan penjelasan yang lebih jelas mengenai kondisi anak-anak mereka serta langkah penanganan yang dilakukan pemerintah.

“Pertanggungjawaban yang mana yang kalian bilang? Anak saya ini sebenarnya kenapa? Tolong jangan cuma datang dan melihat, kasih kami keterangan yang jelas,” teriaknya di hadapan Kepala BGN Sudaryono.

Menanggapi situasi dan keluhan salah satu orang tua korban makan bergizi gratis di RS Efarina Etaham Berastagi, Kepala BGN Sudaryono mengatakan pihaknya akan membuka hasil investigasi secara transparan dan tidak akan menutup nutupi penyebab kejadian peristiwa yang kini terjadi di dua sekolah itu.

Sudaryono mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah diperoleh, dugaan awal berkaitan dengan ikan yang tidak disimpan di ruang pendingin selama lebih dari 12 jam.

“Kita akan terbuka, semuanya kita akan buka. Kalau penyebab berasal dari ikan yang tidak diletakkan di ruang pendingin lebih dari 12 jam,” terang Sudaryono saat dikonfirmasi sejumlah madia di RS Efarina Etaham.

Ia juga mengakui adanya kelalaian di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilainya fatal hingga diduga menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada para pelajar di dua sekolah ini.

“Hasil uji sudah ada di Dinas Kesehatan. Itu ada kelalaian yang fatal dan kita sudah lakukan penutupan dapur, dan kepala SPPG sudah kita copot,” katanya.

Sementara itu, dari ratusan siswa yang mengalami dugaan keracunan makan gizi gratis, sebagian telah kembali kerumah masing masing. Namun sebanyak 32 pelajar, saat ini masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, seperti RS Efarina Etaham, RS Amanda Berastagi, RS Haji Medan, dan RS Bina Kasih Medan. (id35)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement