Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Pak Salam Desak Pemulihan Trauma Warga Pulo Keunari

Redaksi
Redaksi
Jumat, 6 November 2026 - 10.34 PM WIB
Pak Salam Desak Pemulihan Trauma Warga Pulo Keunari
Warga terlibat ketegangan dengan aparat TNI di tengah situasi yang memanas di lokasi kejadian. Waspada.id/Muhammad Riza
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

SIGLi (Waspada.id): Tragedi di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, menyisakan trauma bagi masyarakat, terutama anak-anak, perempuan, dan lansia.

Anggota DPRK Pidie dari Fraksi Partai Aceh, Sulaiman alias Pak Salam, Jumat (6/11), meminta pemerintah segera memberikan perlindungan dan pendampingan psikologis.

Menurut Pak Salam, insiden kekerasan bersenjata saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut tidak hanya meninggalkan luka fisik bagi para korban, tetapi juga trauma psikologis bagi keluarga korban dan masyarakat yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Ia menegaskan, kelompok rentan harus mendapatkan perlindungan dan pendampingan khusus. Sebab, mereka berpotensi mengalami ketakutan, kecemasan, dan kehilangan rasa aman setelah menyaksikan maupun merasakan langsung dampak peristiwa tersebut.

"Yang paling penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan rasa aman masyarakat Pulo Keunari. Jangan sampai anak-anak tumbuh dengan ingatan tentang suara tembakan, ketakutan, dan peristiwa kekerasan yang mereka saksikan. Mereka tidak tahu-menahu tentang persoalan yang terjadi, tetapi justru bisa menjadi kelompok yang paling lama menanggung dampak psikologisnya," ujar Sulaiman.

Ia juga mengingatkan kondisi para ibu, kaum perempuan, dan orang tua lanjut usia yang membutuhkan perhatian serius. "Bayangkan bagaimana perasaan seorang ibu ketika melihat anak-anaknya ketakutan, atau bagaimana kondisi orang tua lanjut usia ketika menyaksikan peristiwa yang mengguncang ketenteraman hidup mereka. Ini bukan sekadar persoalan medis, tetapi persoalan kemanusiaan," tegasnya.

Karena itu, Pak Salam meminta pemerintah tidak hanya mendata korban luka dan meninggal dunia, tetapi juga mengidentifikasi warga yang mengalami tekanan psikologis, termasuk keluarga korban dan masyarakat yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Ia mendorong Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perlindungan Ibu dan Anak ( DP3 AKB), serta instansi terkait segera turun ke lokasi dengan melibatkan psikolog, tenaga kesehatan, dan pendamping sosial.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang aman dan pendampingan ramah anak. Perempuan perlu mendapatkan perlindungan serta ruang untuk menyampaikan kecemasan, sedangkan lansia membutuhkan perhatian khusus terhadap kondisi fisik dan psikologis mereka.

"Jangan biarkan luka fisik menjadi perhatian, sementara luka batin masyarakat terabaikan. Anak-anak harus bisa kembali bermain tanpa ketakutan, para ibu menjalani kehidupan dengan tenang, dan orang tua dapat beristirahat tanpa dihantui kecemasan," katanya.

Pak Salam menegaskan, pemulihan pascainsiden tidak boleh berhenti pada penanganan medis dan proses hukum. Pemerintah harus hadir memastikan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan psikologis masyarakat berlangsung secara berkelanjutan.

"Ini persoalan kemanusiaan. Pemerintah harus hadir sampai masyarakat benar-benar pulih dan kembali merasakan kehidupan yang aman dan damai," tutupnya.(id69)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement