Breaking News
Memuat breaking news...

PALMEX Medan 2026 Jadi Momentum Sawit Sumut Perkuat Produktivitas dan Hilirisasi

Redaksi
Redaksi
Selasa, 6 Oktober 2026 - 4.27 PM WIB
PALMEX Medan 2026 Jadi Momentum Sawit Sumut Perkuat Produktivitas dan Hilirisasi
Ketua Kadin Sumatera Utara, Firsal Dida Mutiara didampingi Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong saat meninjau stand pameran teknologi kelapa sawit Palmex Medan 2026.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pameran teknologi kelapa sawit PALMEX Medan 2026 menjadi momentum penting bagi Sumatera Utara untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat industri sawit nasional. Ajang ini tidak hanya mempertemukan pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang mempercepat produktivitas, hilirisasi, adopsi teknologi hingga perluasan pasar.

PALMEX Medan 2026, edisi ke-16 yang berlangsung pada 6–8 Oktober 2026 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan dengan mengusung tema “Medan: Pusat Kelapa Sawit Indonesia – Mentransformasi Perkebunan, Pabrik Kelapa Sawit, dan Kilang Pengolahan”, ini menghadirkan lebih dari 250 peserta pameran dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, India, Korea, Tiongkok, serta sejumlah negara lainnya.

Ketua Kadin Sumatera Utara, Firsal Dida Mutiara mengatakan, Medan memiliki posisi strategis sebagai titik temu antara pelaku usaha, investor, penyedia teknologi, media dan pembeli dari dalam maupun luar negeri.

“Kami dari Kadin Sumatera Utara bangga menjadi bagian dari perjalanan panjang PALMEX dan siap menjadi partner PALMEX di tahun-tahun ke depan,” katanya saat pembukaan PALMEX Medan 2026, di Selasa (6/10).

Menurut Firsal, PALMEX memiliki arti penting bagi Sumatera Utara karena sawit telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah sekaligus kekuatan ekonomi daerah.

Lebih dari satu abad lalu, perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia dibuka di Sumatera Utara. Hingga kini, industri tersebut berkembang menjadi ekosistem besar yang melibatkan petani, pekerja perkebunan dan pabrik, sektor logistik, perbankan hingga pelaku usaha kecil dan menengah.

Sumatera Utara juga memiliki rantai industri sawit yang relatif lengkap, mulai dari perkebunan, industri pengolahan, pusat riset hingga pelabuhan ekspor.

Kondisi tersebut membuat PALMEX Medan 2026 dinilai menjadi kesempatan untuk menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam satu ekosistem bisnis yang lebih kuat.

Momentum Perkuat Produktivitas Sawit Sumut

Firsal mengatakan, salah satu agenda utama yang harus didorong melalui momentum PALMEX Medan 2026 adalah peningkatan produktivitas.

Hal ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan terhadap sawit terus meningkat, sementara pertumbuhan produksi cenderung terbatas.

Pada semester I 2026, produksi CPO dan PKO nasional disebut sekitar 30 juta ton. Hampir 13 juta ton terserap untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan sekitar 16 juta ton diekspor.

Kebutuhan domestik diperkirakan semakin besar seiring program B50 yang akan menyerap lebih banyak minyak sawit untuk kebutuhan energi. Sementara itu, pertumbuhan produksi sawit Sumatera Utara berdasarkan laporan GAPKI Sumut diperkirakan hanya sekitar 2 persen.

“Permintaannya meningkat, sementara pasokannya bisa kita katakan jalan di tempat. Tanpa lompatan produktivitas, kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, energi dan ekspor sekaligus,” ujarnya.

Karena itu, PALMEX dinilai dapat menjadi ruang bertemunya pelaku industri dengan teknologi dan inovasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, terutama di perkebunan rakyat.

Persoalan peremajaan tanaman dan kualitas bibit menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar peningkatan produksi tidak hanya mengandalkan perluasan lahan.

Hilirisasi Jadi Agenda Berikutnya

Selain produktivitas, Firsal menilai PALMEX 2026 dapat menjadi momentum memperkuat hilirisasi sawit di Sumatera Utara.

Menurutnya, Sumut sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan industri hilir, mulai dari KEK Sei Mangkei, Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Belawan hingga konektivitas Tol Trans-Sumatera.

Namun, hilirisasi dinilai belum sepenuhnya menjangkau kabupaten dan kota penghasil sawit. Akibatnya, nilai tambah dari komoditas tersebut belum maksimal dirasakan masyarakat di desa-desa penghasil.

Karena itu, hilirisasi harus diperluas, termasuk dengan mendorong industri kecil dan menengah untuk masuk ke rantai pengolahan produk turunan sawit.

Firsal menyebut setidaknya ada empat agenda yang harus diperkuat melalui pengembangan industri sawit Sumut, yakni produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi dan akses pasar.

Dari sisi keberlanjutan, penerapan ISPO diharapkan tidak sekadar menjadi persyaratan untuk menembus pasar. Sertifikasi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat akses pembiayaan dan pengembangan usaha petani.

PALMEX Buka Akses Pasar dan Investasi

Tidak kalah penting, PALMEX Medan 2026 diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku industri sawit Sumatera Utara.

Firsal menilai ajang tersebut dapat menjadi sarana mempertemukan petani dan pengusaha dengan pembeli, investor maupun mitra usaha dari berbagai daerah dan negara.

Ia mencontohkan business matching Sumatera Utara dengan Jawa Timur yang menghasilkan transaksi sekitar Rp2,2 triliun dalam waktu kurang dari delapan jam.

Namun, sekitar Rp2,1 triliun merupakan transaksi pembelian dari Jawa Timur, sedangkan ekspor Sumatera Utara ke Jawa Timur hanya sekitar Rp100 miliar.

“Jangan sampai kondisi seperti ini terjadi di industri kelapa sawit. Kita harus mampu meningkatkan produksi dan nilai tambah agar lebih banyak produk Sumut yang keluar,” katanya.

Bagi Firsal, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa Sumatera Utara tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Industri sawit harus didorong agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan memiliki pasar yang lebih luas.

Teknologi Jadi Penggerak Industri Sawit

Sementara itu, Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, mengatakan PALMEX Medan 2026 juga membawa perkembangan teknologi yang semakin luas ke dalam industri kelapa sawit.

Pameran tahun ini menghadirkan sekitar 300 merek teknologi dan peralatan, mulai dari automation untuk processing dan packaging, teknologi perkebunan hingga sistem pengoperasian secara remote.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga mulai diterapkan dalam industri sawit.

Menurutnya, edukasi kepada pelaku usaha, perkebunan dan petani menjadi penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Firsal berharap PALMEX Medan 2026 tidak berhenti sebagai ajang pameran, tetapi menghasilkan transaksi, investasi dan kerja sama konkret yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Sumatera Utara.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, PALMEX Medan mencatat nilai transaksi hampir US$70 juta atau sekitar Rp1,3 triliun.

Ia berharap transaksi PALMEX tahun ini dapat meningkat sekaligus memperkuat posisi Sumatera Utara sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan sawit nasional.

“Sawit telah membesarkan Sumatera Utara lebih dari satu abad. Tugas kita sekarang adalah memastikan sawit tetap menjadi kebanggaan untuk satu abad berikutnya,” pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement