Panasnya Kontestasi Pilrek Unimal: Dua Nama, Satu Kursi, Satu Panggung

“Sebagian pengantar tidak bisa masuk ke ruang sekretariat karena terbatasnya ruangan. Mereka menunggu di lobi,”- Sekretaris Panitia, Dr. Hadi Iskandar.
Rabu pagi, 26 Agustus 2026, lantai II Gedung Rektorat Universitas Malikussaleh, Kampus Reuleut, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, mendadak menjadi panggung sejarah. Panitia Pemilihan Rektor resmi membuka pendaftaran bakal calon untuk periode 2026–2030. Dalam hitungan jam, dua sosok akademisi muncul membawa harapan, visi, sekaligus rombongan pendukung yang menebarkan aura kompetisi.
Gelombang Pertama: Mukhlis Melangkah Tenang
Pukul 10.30 WIB, Dr. Mukhlis, Doktor Ilmu Hukum lulusan Universitas Padjadjaran, memasuki ruang sekretariat dengan langkah mantap. Didampingi anggota senat Fakultas Hukum, ia menyerahkan berkas pencalonan dalam suasana tertib dan formal.
Mukhlis, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan untuk dua periode, tampil sebagai figur birokrat akademik yang tenang. Visi yang ia usung terdengar ambisius: “Menuju UNIMAL sebagai kampus transformatif yang unggul di tingkat internasional berbasis potensi lokal untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.”
Program kerjanya mencakup akademik dengan konsep Link & Match 5.0, riset dan hilirisasi melalui Pusat Inovasi Komoditas Strategis, tata kelola Smart & Green Campus, hingga kerja sama sosial Kosabangsa. Mukhlis hadir dengan wajah transformasi birokrasi yang rapi dan terukur.
Gelombang Kedua: Jullimursyida dan Rombongan Besar
Tak sampai setengah jam setelah Mukhlis keluar, pukul 11.00 WIB, suasana berubah drastis. Jullimursyida, Ph.D., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, datang dengan rombongan besar yang memenuhi lobi lantai II Gedung Rektorat.
Nama-nama besar ikut mengiringi: Prof. Dr. A. Hadi Arifin, mantan Rektor Unimal periode 1999–2010; Dr. Faisal Matriyadi, mantan Dekan FEB; Prof. Mawardati, Kepala LPPM saat ini; serta jajaran wakil dekan, ketua jurusan, sekretaris jurusan, koordinator prodi, hingga dosen-dosen FEB. Kehadiran mereka menjadikan momen pendaftaran Julli bukan sekadar formalitas, melainkan demonstrasi dukungan politik akademik.
Sekretaris Panitia, Dr. Hadi Iskandar, bahkan harus menenangkan kerumunan. “Sebagian pengantar tidak bisa masuk ke ruang sekretariat karena terbatasnya ruangan. Mereka menunggu di lobi,” ujarnya. Antusiasme itu menjadi simbol dinamika positif, sekaligus menandai betapa panasnya atmosfer kontestasi.
Visi Julli tak kalah menggugah: “Mewujudkan Universitas Malikussaleh yang unggul, inklusif dan adaptif berbasis potensi lokal, berdaya saing global dan berdampak nyata bagi pembangunan nasional.” Program kerjanya menekankan akreditasi internasional, kerja sama global, pemanfaatan aset kampus, pembangunan rumah sakit pendidikan, serta peningkatan prestasi mahasiswa.
Dua Visi, Satu Pertarungan
Hari pertama pendaftaran ini seakan menjadi prolog sebuah drama panjang. Mukhlis hadir dengan ketenangan birokrasi dan visi transformasi, sementara Julli datang dengan gelombang dukungan yang riuh, menandai pertarungan ide, jaringan, dan karisma.
Pendaftaran bakal calon rektor Unimal akan terus berlangsung hingga 10 September 2026. Namun sejak hari pertama, atmosfer kampus sudah dipenuhi bisik-bisik, spekulasi, dan rasa penasaran: siapa yang akan menapaki kursi tertinggi Universitas Malikussaleh setelah Prof. Herman Fithra, dan membawa kampus ini ke panggung nasional maupun internasional? WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda