Pangdam Iskandar Muda Klaim Tak Ada Peluru Tajam Ditembakkan Saat Bentrok di Pidie


BANDA ACEH (Waspada.id): Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Mahendra Fitriadi, mengklaim tidak ada amunisi tajam yang ditembakkan personel TNI saat bentrokan dengan warga di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11/2026).
Mahendra mengatakan, tembakan yang dilepaskan aparat dalam insiden tersebut merupakan tembakan peringatan menggunakan peluru hampa dan peluru karet. Ia menegaskan, peluru karet ditembakkan ke udara, bukan diarahkan kepada warga.
“Saya yakini, saya pertanggungjawabkan, tidak ada satu butir pun amunisi tajam,” kata Mahendra kepada wartawan di Banda Aceh, Jumat (6/11/2026).
Menurut Mahendra, tembakan peringatan dilakukan setelah personel TNI mendapat serangan berupa lemparan batu dan kayu dari sejumlah warga. Ia menyebut aparat sempat diperintahkan mundur, tetapi massa masih mengejar.
“Di situlah diperintahkan menembak peringatan dengan peluru hampa. Ada peluru karet, untuk sementara ini peluru karet pun digunakan untuk nembak ke atas, bukan diarahkan ke warga,” ujarnya.
Meski memastikan tidak ada amunisi tajam yang digunakan, Mahendra menyatakan TNI masih melakukan pemeriksaan internal terhadap senjata yang dibawa personel di lokasi kejadian.
Ia menjelaskan, seluruh senjata yang digunakan saat bentrokan telah dipisahkan untuk diperiksa. Pemeriksaan itu bertujuan mengidentifikasi senjata yang meletus dan digunakan untuk memberikan tembakan peringatan.
“Senjata yang dipakai saja kami pisahkan, kemudian tentu ada teknik-teknik untuk mencari mana senjata yang meletus saat itu atau memberi peringatan,” katanya.
Selain memeriksa senjata, TNI juga akan menurunkan tim internal ke lokasi kejadian untuk mendalami rangkaian peristiwa. Mahendra menyebut proses tersebut masih berjalan sehingga hasilnya belum dapat disampaikan dalam waktu dekat.
Bentrokan di Tiro terjadi saat aparat menertibkan pengibaran Bendera Bulan Bintang dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Insiden tersebut menyebabkan satu warga bernama Abzalul Riza meninggal dunia, 13 warga lainnya terluka, serta enam personel TNI mengalami luka-luka.
Terkait kondisi personel yang terluka, Mahendra menyebut lima anggota TNI masih menjalani perawatan di Kodim Sigli. Sementara satu personel lainnya telah diperbolehkan kembali.
Di sisi lain, penyebab kematian Abzalul belum dapat dipastikan. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafi'i (RSUD TAS), Mutiara Timur, Pidie, dr Kamaruzzaman, sebelumnya menyebut terdapat luka robek pada bagian dada atas sebelah kanan, dekat bahu, pada jenazah korban.
Namun, pihak rumah sakit tidak dapat memastikan penyebab luka tersebut karena pemeriksaan yang dilakukan hanya visum luar, tanpa autopsi.
“Kami tidak bisa pastikan itu luka akibat tembakan atau hal lain karena kita hanya melakukan visum luar saja, tidak diautopsi,” ujar Kamaruzzaman saat dihubungi, Kamis (5/11/2026).
Dengan demikian, penyebab pasti luka yang dialami Abzalul masih memerlukan pendalaman. Investigasi internal TNI diharapkan dapat mengungkap penggunaan senjata oleh personel serta kronologi insiden yang menewaskan warga tersebut.
Mahendra juga mengimbau masyarakat, khususnya warga Kecamatan Tiro, untuk menahan diri dan menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami mengimbau untuk tidak panas. Mari kita sama-sama menjaga situasi yang aman, tertib, damai,” katanya.(hd)
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda