Pasca Banjir Besar, Sampah Kayu dan Sedimen Sumbat Penyaring Sampah Irigasi Jambo AyePasca Banjir Besar, Sampah Kayu dan Sedimen Sumbat Penyaring Sampah Irigasi Jambo Aye

ACEH UTARA (Waspada.id) : Penyaring sampah (trash rack) pada Bendung Daerah Irigasi (D.I.) Jambo Aye dilaporkan tertutup tumpukan sampah kayu dan sedimen layang pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada akhir tahun 2025. Kondisi ini menyebabkan kendala serius pada suplai air irigasi bagi para petani di wilayah tersebut.
Menurut Ketua Unit Pengelolaan Irigasi (UPI) D.I. Jambo Aye-Langkahan, Ir. Setia Budi, ST., MT., penumpukan material kayu dan endapan lumpur ini sering kali berulang, terutama setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu Sungai Arakundo.
Kondisi memprihatinkan tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Penanganan Pasca Bencana pada Jaringan Irigasi Jambo Aye. Acara ini diselenggarakan oleh Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA Sumatera I melalui Unit Pengelola Irigasi (UPI) D.I. Jambo Aye pada Senin (3/8) berlokasi di Kantor UPI Jambo Aye, Keude Breuh, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.
Penyelenggara ikut mengundang berbagai pihak terkait, guna membahas progres penanggulangan tanggap darurat pasca bencana. Selain itu juga menginventarisasi permasalahan yang dihadapi di lapangan, serta merumuskan solusi bersama.
Pertemuan mendesak ini turut melibatkan lintas sektor dari dua kabupaten terdampak, yaitu Aceh Utara dan Aceh Timur. Hadir dalam diskusi tersebut perwakilan Dinas PUPR serta Dinas Pertanian dan Pangan dari kedua kabupaten.

Selain itu, para camat dari wilayah terdampak seperti Kecamatan Baktiya, Lhoksukon, Tanah Jambo Aye, Baktiya Barat, Seunuddon, Langkahan (Aceh Utara), hingga Camat Pante Bidari, Simpang Ulim, dan Madat (Aceh Timur) juga disiagakan untuk memberikan masukan.
Unsur pemangku adat dan pengelola air lokal, termasuk Komisi Irigasi (Komir), Kepala Ranting, hingga para Keujruen Blang se-Daerah Irigasi Jambo Aye Langkahan, juga dilibatkan aktif.
Menurut Setia Budi, pembersihan trash rack dari sumbatan kayu dan sedimen sebenarnya telah dilakukan berulang kali. Namun, setiap kali hujan deras turun di kawasan hulu sungai, sampah dan sedimen kembali menumpuk.
"Sudah tujuh kali kami lakukan pembersihan, tetapi sekarang tumpukan itu terjadi lagi," jelasnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa pembersihan material sampah kayu dan sedimen layang tersebut membutuhkan waktu hingga dua hari. Meski terkesan singkat, dampaknya cukup signifikan karena pasokan air ke areal persawahan warga hingga ke kawasan hilir bisa tertunda hingga dua minggu.(id71)
.































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda