Pasca Dicekik, Siswa SMPN 2 Kejuruan Muda Takut Masuk SekolahPasca Dicekik, Siswa SMPN 2 Kejuruan Muda Takut Masuk Sekolah

KUALASIMPANG (Waspada.id): Pasca kejadian dicekik oleh seorang siswa kelas 9.8, seorang siswa kelas 7.8 mengalami trauma dan merasa takut untuk kembali masuk ke sekolahnya di SMPN 2 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.
"Ya, anak saya takut diintimidasi setelah kejadian dicekik oleh siswa di sekolah itu," ungkap ibu korban, Srimahdaleni, melalui telepon kepada Waspada.id, Kamis (20/8).
Leni demikian panggilannya, menjelaskan bahwa peristiwa bermula dari perkelahian yang kemudian berlanjut hingga anaknya dicekik oleh siswa kelas 9.8. Akibat perbuatan itu, mata anaknya ikut bengkak dan menimbulkan rasa takut untuk pergi ke sekolah.
"Walaupun merasa takut, anak saya tetap mencoba masuk sekolah. Namun kemarin ia pulang lebih awal karena merasa sakit," tambah Leni.
Leni juga menceritakan mengenai rapat yang digelar pihak sekolah pada Rabu (19/8). Menurutnya, arah pembahasan justru terasa menyudutkan wali kelas anaknya, Ibu Nuning, yang menampar siswa pelaku pencekikan tersebut.
"Saya berterima kasih kepada Ibu Nuning selaku wali kelas. Beliau sudah bertanggung jawab menjaga anak saya dan berani mengungkap siapa pelaku yang mencekiknya. Seharusnya pihak sekolah tidak menyudutkan guru yang sudah berusaha melindungi anak didiknya dan mengungkap kebenaran," ujar Leni.
Hal yang disayangkan, lanjut Leni, Kepala Sekolah maupun orang tua siswa pelaku tidak sekalipun meminta maaf kepadanya meskipun ia hadir dalam rapat tersebut.
"Seharusnya mereka minta maaf kepada saya karena anak saya telah dicekik. Namun, tidak ada permintaan maaf sedikitpun. Justru rapat tersebut terasa lebih memojokkan wali kelas anak saya," tegasnya.

Padahal, Leni memastikan dirinya hadir dan menandatangani daftar hadir rapat sebagai peserta.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMPN 2 Kejuruan Muda, Suprianto, memberikan keterangan berbeda saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (20/8). Ia menyatakan tidak ada kejadian pencekikan dan menolak kehadiran orang tua siswa dalam rapat tersebut.
"Benar, orang tuanya tidak hadir rapat. Tidak ada siswa yang dicekik," tegas Suprianto.
Menurut Suprianto, tidak ada kewajiban meminta maaf karena orang tua siswa yang merasa anaknya dicekik tidak hadir dalam rapat.
Namun, berdasarkan penelusuran Waspada.id, nama Srimahdaleni Siregar tercatat jelas dalam daftar absensi peserta rapat pada nomor urut 6 yang dilaksanakan Rabu (19/8). Meski bukti kehadiran itu ada, Suprianto tetap berpendapat lain dan menyebut Leni dilarang hadir oleh guru yang menampar siswa tersebut. (Id93)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda