Pascabanjir 11 Bulan Belajar di Bawah Tenda, Murid SDN 14 Juli Bireuen Menanti Ruang Kelas Baru


BIREUEN (Waspada.id): Sambil menikmati secangkir kopi di sudut Kota Juang, terdengar warga berbincang dari meja sebelah. Mereka membicarakan hal yang menyentuh hati, hampir setahun berlalu sejak banjir besar November 2025, ternyata masih ada sekolah di Kabupaten Bireuen yang kegiatan belajar mengajarnya masih berlangsung di bawah tenda darurat.
Rasa penasaran mendorong Waspada.id, Selasa, (13/10) segera menelusuri ke arah Jalan Lintas Sumatera Bireuen–Takengon (Aceh Tengah). Di sepanjang perjalanan, terdengar suara alat berat sedang memperbaiki tanggul Krueng Peusangan di samping Mesjid Teupin Mane, Kecamatan Juli, wilayah yang juga rusak diterjang banjir bandang.
Kondisi jalan di beberapa titik masih berlubang. Setelah melewati Simpang Gampong Teupin Mane dan mendaki sedikit, tampaklah sebuah tenda berdiri di halaman sekolah. Di sana, puluhan siswa SDN 14 Juli sedang belajar di bawah atap terpal, 11 bulan setelah bencana melanda Kabupaten Bireuen.
Sekolah Tergerus Arus Sungai
SDN 14 Juli terletak di Dusun Leubok Iboeh, Gampong Teupin Mane, Kecamatan Juli, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Bireuen. Pada 26 November 2025, sekolah ini diterjang arus Krueng Peusangan yang meluap akibat bencana hidrometeorologi. Tiga ruang kelas ambruk jatuh ke sungai, dan satu ruangan lain rusak parah hingga tidak layak lagi dipergunakan.
Sejak 5 Desember 2025, kegiatan belajar tetap berjalan berdasarkan surat edaran Bupati Bireuen. Namun siswa harus menempati ruang darurat, ada yang di perpustakaan, yang disiapkan oleh pihak sekolah sebagai ruang sementara, dan sebagian besar di halaman sekolah di bawah tenda. Selama berbulan mereka belajar di atas lantai tanpa meja dan kursi yang memadai. Namun kini kekurangan tersebut seperti mobiler telah terpehuni yang bantu oleh Dompet Dhuafa Meski kondisi terbatas, semangat belajar murid dan guru di sekolah itu tidak pernah surut hingga hari ini.
Rencana Relokasi Sekolah
Kepala SDN 14 Juli, Bahruna, S.Pd., menjelaskan sekolah ini menampung 75 siswa dari kelas I hingga VI. Sejauh ini, sekolah telah menerima bantuan pemulihan dari Dompet Dhuafa serta relawan dan bantuan perlengkapan belajar dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.
Karena lokasi lama terus tergerus arus sungai dan dinilai membahayakan keselamatan siswa, sekolah ini direncanakan akan direlokasi ke tempat baru. Lahan baru telah diwakafkan oleh warga desa, dan sertifikat tanah telah selesai diurus serta diajukan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.
"Baru selesai, sertifikatnya beberapa hari yang lalu dan sudah diajukan kepada Dinas dan Kebudayaan Bireuen, mungkin sebelumnya karena menunggu sertifikat terlebih dahulu. Semoga SDN 14 Juli ini segera dibangun gedung yang baru di lokasi yang lebih aman sesuai yang direncanakan itu," ujar Bahruna.
Target Penyelesaian Tahun 2027
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, Muslim, menyatakan Kementerian Pendidikan telah mengetahui kondisi sekolah terdampak bencana. Menteri Pendidikan bahkan meninjau lokasi langsung pada hari kelima pascabanjir.
Sertifikat tanah untuk pembangunan gedung baru telah diterima dan telah diajukan ke Kementerian Pendidikan guna memperoleh pendanaan Pembangunan Kembali Sekolah (PKS).
"Kami menargetkan seluruh sekolah yang rusak akibat bencana di Bireuen dapat dibangun kembali seratus persen pada tahun 2027 mendatang," tegas Muslim.
Sementara, di bawah terpal yang sederhana, semangat belajar anak-anak SDN 14 Juli terus berjalan sambil menanti hari di mana mereka dapat kembali belajar di ruang kelas yang layak, aman dan nyaman. (Id73)
Berita Terkait




















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda