Breaking News
Memuat breaking news...

PATPI Lantik Pengurus Medan dan Kendari, Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia Emas

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 5 September 2026 - 6.23 PM WIB
PATPI Lantik Pengurus Medan dan Kendari, Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia Emas
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) resmi melantik pengurus baru Cabang Medan dan Cabang Kendari periode 2026–2030 dalam acara Kuliah Umum dan Pelantikan yang berlangsung di Aula Polbangtan Medan, Sabtu (5/9). Acara bertema “Sustainability: Kedaulatan Pangan untuk Indonesia Emas” ini berlangsung meriah.

Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum PATPI Giyatmi. Cabang Kendari diketuai oleh Thamrin, sedangkan Cabang Medan diketuai oleh Adrian Hilman didampingi 37 orang pengurus.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyampaikan, kedaulatan pangan adalah harga diri bangsa. Bangsa ini tidak boleh lagi bergantung pada impor. Dengan teknologi, hilirisasi, dan pemanfaatan sumber daya lokal, Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia pada 2045.

"PATPI memiliki peran strategis menghadirkan inovasi yang menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan petani," kata Mentan Amran.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya sumber daya manusia pertanian. Negara ini butuh tenaga ahli teknologi pangan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu membawa ilmu ke masyarakat dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi.

"Semoga pengurus baru menjadi motor penggerak inovasi dan memperkuat kolaborasi pendidikan, penelitian, dan industri," kata Arsanti.

Kapusdiktan, Muhammad Amin mengingatkan tantangan dunia pangan yang terus berubah. PATPI harus menjadi garda terdepan menghadirkan solusi berbasis riset dan data.

"Hilirisasi produk pangan, diversifikasi pangan lokal, serta penurunan kerugian pascapanen harus didorong secara masif dan berkelanjutan," kata Amin.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap menyambut baik pelantikan ini. Sinergi antara dunia pendidikan dan organisasi profesi sangat dibutuhkan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi teknologi pangan yang menjawab tantangan nyata di lapangan.

Giyatmi menyampaikan apresiasi kepada kedua cabang yang baru melantik pengurus. Saat ini PATPI telah memiliki 32 cabang di seluruh Indonesia.

“Kita menghadapi tantangan pangan yang semakin kompleks, sehingga isu keberlanjutan harus menjadi perhatian utama. PATPI hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, pemerintah, dan masyarakat," kata Giyatmi.

"Semoga setiap cabang mampu mengangkat potensi pangan unggulan di wilayahnya dan menjadi solusi pangan nasional. Bersama PATPI kita membangun pangan nasional," tambahnya.

Ketua Cabang Kendari, Thamrin menyampaikan komitmen untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi kepengurusan periode sebelumnya. Sementara itu, Ketua Cabang Medan Adrian Hilman mengajak seluruh elemen bersinergi.

“Tantangan pangan bukan urusan pribadi, melainkan urusan kita bersama. Mari kita bangun kolaborasi antar perguruan tinggi di Medan. Wujudkan pengetahuan menjadi karya, karya menjadi inovasi, dan dari inovasi lah kemajuan pangan yang nyata," ungkap Adrian.

Acara dilanjutkan dengan kuliah umum yang menghadirkan tiga pembicara. Giyatmi membahas tantangan demografi dan hilirisasi pangan. Ia menyampaikan bahwa pada 2045 penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 324 juta jiwa, sementara kapasitas produksi pangan tahun 2025 baru 34,69 juta ton. Sebesar 13 persen pangan hilang pascapanen sebelum masuk proses hilirisasi.

“Kampus harus menjadi pusat inovasi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan. Hilirisasi harus menghasilkan nilai ekonomi, nilai gizi, dan nilai lingkungan. Indonesia Emas tidak lahir dari seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu kita terapkan," kata Giyatmi.

Posman Sibuea menyoroti kekayaan pangan lokal dan kedaulatan pangan. Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah, dan 228 jenis sayuran.

“Tanah bukan sekadar komoditas, melainkan hak hidup rakyat. Solusinya ada pada benih unggul yang adaptif iklim, pengembangan industri pangan hulu hingga hilir, penurunan kerugian pangan, regenerasi petani, dan modernisasi irigasi. Kita harus berdaulat pangan berbasis kekayaan lokal menghadapi perubahan iklim dan gejolak dunia," kata Posma.

Hasrul Abdi Hasibuan membahas dampak perubahan iklim terhadap perkebunan dan peluang bonus demografi. Pada 2045 sekitar 70 persen masyarakat Indonesia berada di usia produktif, sementara konsumsi kopi, minyak sawit, dan gula tebu terus meningkat.

“Perkebunan harus beradaptasi dengan perubahan iklim agar produktivitas tidak turun. Hilirisasi produk lokal adalah kunci agar sumber daya alam kita memberi manfaat maksimal bagi kesejahteraan rakyat," ungkap Hasrul.

Pelantikan PATPI Cabang Medan dan Kendari menjadi bukti nyata komitmen para ahli teknologi pangan untuk bersatu dan menghadirkan solusi konkret. Dengan dukungan pemerintah, sinergi antar perguruan tinggi, dan inovasi berbasis teknologi, cita-cita mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia yang berdaulat dan berkelanjutan pada 2045 terus diperjuangkan bersama. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement