Pemerintah Danai 18.215 Riset Pendidikan Tinggi, Telan Anggaran Rp1,7 TriliunPemerintah Danai 18.215 Riset Pendidikan Tinggi, Telan Anggaran Rp1,7 Triliun

JAKARTA (Waspada.id): Sebanyak 18.215 kegiatan riset dan pengembangan resmi memasuki tahap implementasi setelah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menandatangani kontrak pendanaan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan hilirisasi riset tahun anggaran 2026 di Graha Diktisaintek, Senin (20/4/2026).
Pendanaan riset tersebar di seluruh provinsi dengan komposisi 40 persen perguruan tinggi negeri dan 60 persen swasta. Fokus diarahkan pada delapan bidang prioritas nasional, termasuk kesehatan, ketahanan pangan, hilirisasi industri, digitalisasi, energi, manufaktur, maritim, dan pertahanan.
"Penandatanganan kontrak menjadi tahap krusial untuk memastikan program yang telah lolos seleksi tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dilaksanakan secara terarah, akuntabel, dan berdampak nyata," ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, dalam kesempatan itu.
Ia menegaskan, seluruh hasil seleksi dapat diakses secara transparan oleh perguruan tinggi melalui platform BIMA dan Hiliriset, termasuk umpan balik reviewer bagi pengusul yang belum lolos.
“Penerima kontrak adalah ujung tombak dalam menyelesaikan isu sosial yang kompleks di Indonesia,” ujarnya.
Sejak Januari hingga April 2026, pemerintah telah mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk mendukung seluruh program tersebut. Pendanaan disalurkan melalui sembilan skema utama, dengan program penelitian mendominasi sebanyak 13.028 proposal senilai Rp1,04 triliun.
Program pengabdian kepada masyarakat mencakup 3.328 tim (Rp167 miliar), sementara hilirisasi riset prioritas sebanyak 925 proposal (Rp318 miliar).
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menekankan pentingnya orientasi dampak dalam setiap riset.
“Riset tidak boleh berhenti pada output administratif, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan industri,” katanya.
Program lain yang turut didanai antara lain pengujian model dan prototipe, konsorsium unggulan berdampak, penguatan Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi, hingga Program Mahasiswa Berdampak yang melibatkan lebih dari 10 ribu mahasiswa.
Di bidang seni dan budaya, Program Inovasi Seni Nusantara mendanai 244 karya, sementara kolaborasi internasional dijalankan melalui Program PHC Nusantara bersama mitra Prancis.
Berdasarkan pemetaan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), bidang sosial humaniora mendominasi dengan lebih dari 38 persen kegiatan, diikuti kesehatan, pangan, dan rekayasa keteknikan.
Pendekatan ini menempatkan sosial humaniora sebagai penguat lintas bidang, guna memastikan inovasi dapat diadopsi secara efektif di tengah masyarakat.
Selain pendanaan, pemerintah juga memperkuat tata kelola riset, termasuk kebijakan pemberian honorarium peneliti hingga maksimal 25 persen dari total dana hibah. Forum Dialog Riset dan Pengembangan yang digelar bersamaan turut membahas sinkronisasi kebijakan antara Ditjen Risbang dan Inspektorat Jenderal.
"Dengan dimulainya implementasi ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen agar riset tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional," pungkas Fauzan.(id11)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda