Breaking News
Memuat breaking news...

Pemprovsu Perkuat Kawasan Perikanan Hulu-Hilir

Redaksi
Redaksi
Kamis, 17 September 2026 - 3.45 PM WIB
Pemprovsu Perkuat Kawasan Perikanan Hulu-Hilir
DKP Sumut menyampaikan pemaparan dalam temu pers yang digelar Diskominfo Sumut di Lobi Dekranasda Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro No. 30 Medan, Kamis (17/9/2026).  Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memperkuat pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dari hulu hingga hilir untuk meningkatkan produksi, nilai tambah hasil perikanan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program strategis tersebut diprioritaskan di kawasan pantai barat dan pantai timur Sumut pada 2026, sedangkan pengembangannya akan diperluas ke Kepulauan Nias pada 2027.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut, Jenny Masniari Sinaga, mengatakan pengembangan kawasan dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Universitas Sumatera Utara (USU) dalam penyusunan master plan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.

Hal itu disampaikan Jenny dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumut di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).

“Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur, dan tahun 2027 kita kembangkan di Kepulauan Nias,” ujar Jenny.

Menurutnya, penentuan lokasi kawasan unggulan didasarkan pada potensi dan produksi perikanan di masing-masing daerah. Berdasarkan data DKP Sumut, produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 ton.

Sementara target produksi pada 2026 ditetapkan sebesar 383.036,91 ton. Hingga triwulan II 2026, produksi telah mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah tercatat memiliki produksi perikanan cukup tinggi pada 2025, antara lain Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan dan Tanjungbalai. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan kawasan unggulan.

“Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir. Nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan, kemudian dibantu hilirisasinya hingga pengolahan,” jelas Jenny.

Untuk Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias, yakni Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan dan Kota Gunungsitoli. Kawasan pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina).

Komoditas potensial di wilayah tersebut antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe dan bawal.

Sedangkan WPP 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu dan Labuhanbatu Utara.

Komoditas potensial di kawasan tersebut antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung dan layang benggol.

Jenny mengatakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut serta memperkuat rantai usaha perikanan.

Dalam master plan tersebut juga dirancang pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara dan Tanjungbalai. Pengolahan itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.

“Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin,” katanya.

Pengembangan kawasan perikanan juga diintegrasikan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan dan Batubara.

Pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.

Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut, Muhammad Riza Kurnia Lubis, mengatakan Sumut memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor perikanan budidaya.

Salah satu komoditas unggulan yang banyak diminati, katanya, adalah udang vaname yang hingga kini menjadi salah satu komoditas ekspor. Pemprov Sumut juga memberikan perhatian terhadap pengembangan rumput laut yang memiliki peluang pasar ekspor.

“Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsen Sumut. Tahun ini kita prioritaskan rumput laut yang juga diminati pasar ekspor,” kata Riza. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement