Pemuda Aceh Desak Provokator Pengibaran Bendera di Tiro Diusut


BANDA ACEH (Waspada.id): Sejumlah pemuda Aceh menggelar aksi damai di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Kamis (5/11/2026).
Mereka mendesak aparat TNI dan kepolisian mengusut pihak yang diduga memprovokasi pengibaran Bendera Bintang Bulan hingga berujung penembakan terhadap warga di Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.
Perwakilan massa aksi, Teuku Raja Aulia Habibi, mengatakan aparat seharusnya menelusuri pihak yang mengarahkan pengibaran bendera tersebut, bukan menindak masyarakat yang berada di lokasi kejadian.
“Kami tegaskan kepada aparat, baik TNI maupun kepolisian, yang harusnya kalian tangkap adalah provokator-provokator yang menyuruh bendera itu dikibarkan, bukan masyarakat yang kalian tekan, bukan masyarakat yang kalian pukuli, bukan masyarakat yang kalian bunuh,” kata Habibi dalam orasinya.
Menurut Habibi, aksi tersebut merupakan bentuk kemarahan masyarakat Aceh atas insiden di Tiro yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan sejumlah lainnya terluka.

Ia menyebutkan massa datang atas nama masyarakat Aceh tanpa koordinator lapangan maupun ketua aksi. Mereka, kata dia, ingin menyampaikan sikap terhadap peristiwa yang dinilai tidak boleh terulang.
Habibi juga menilai tidak semua masyarakat memahami persoalan hukum terkait pengibaran bendera, termasuk ketentuan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan nota kesepahaman atau MoU Helsinki.
Karena itu, ia meminta aparat tidak serta-merta menyalahkan masyarakat, melainkan mengusut pihak yang berada di balik peristiwa tersebut.
“Jadi, jangan salahkan masyarakat. Jangan masyarakat yang ditindak, tetapi tindaklah siapa provokator di balik semua ini,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, Habibi menegaskan massa tidak sedang menyatakan sikap anti terhadap bendera maupun mendukung pengibaran Bendera Bintang Bulan. Menurutnya, persoalan bendera memiliki aspek hukum dan politik yang tidak dapat diselesaikan secara terburu-buru.
Namun, ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak memicu konflik baru di Aceh.
“Hari ini kami bukan anti kepada bendera dan kami bukan mendukung bendera itu. Dua hal yang tidak mungkin harus kita selesaikan dalam jangka waktu yang cepat, tapi jangan jadikan Aceh sebagai arena tempur,” katanya.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.07 WIB itu berlangsung tertib. Hingga pukul 18.30 WIB, massa telah meninggalkan lokasi. Sejumlah aparat kepolisian yang berjaga juga terlihat meninggalkan Gedung DPRA.(hd)
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda